Yuk! Kenali Lebih Jauh tentang 'Greenwashing'

Jakarta - TemanBaik, saat ini isu lingkungan kian gencar disuarakan. Banyak pihak baik secara perorangan, organisasi, bahkan suatu perusahaan turut mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan.

Namun bagaimana dengan implementasinya? Sudahkah kita benar-benar menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau jangan-jangan hanya sibuk bersuara saja?

Jangan sampai TemanBaik terjebak dalam keadaan greenwashing, ya, yang rupanya secara sadar ataupun tidak cukup banyak dilakukan oleh berbagai pihak termasuk produsen sebuah produk.

Greenwash sendiri bisa diartikan sebagai suatu strategi pemasaran dan komunikasi dari suatu perusahaan untuk memberikan citra ramah lingkungan, baik dari segi produk, nilai, maupun tujuan perusahaan tanpa benar-benar melakukan kegiatan yang berdampak bagi kelestarian lingkungan.

"Jadi greenwashing itu bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk meyakinkan konsumen kalau produknya melindungi lingkungan, padahal faktanya tidak," ujar Bambang Sutrisno, tim Teens Go Green Indonesia dalam webinar 'Greenwashing, Apakah Itu?' dari Youth For Nation Banten.

Bambang menjelaskan, awalnya istilah greenwashing ada sejak tahun 1986 yang diperkenalkan oleh Jay Westerveld. Dia mengkritisi sebuah hotel di tepi pantai yang melakukan gerakan save the towel, untuk mengurangi konsumen menerapkan handuk sekali pakai. Ternyata hotel tersebut melakukannya untuk meraih keuntungan lebih, bahkan melakukan perluasan lahan ke arah pantai.

"Biasanya perusahaan yang melakukan greenwashing mengeluarkan uang lebih banyak untuk klaim produknya ramah lingkungan daripada melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak produknya pada lingkungan," tambah Bambang.



Baca Ini Juga Yuk: Hindari Pola Makan Ini Agar Terhindar dari Anemia Defisiensi Besi

Nyatanya fenomena greenwashing ini bisa dilakukan dimana saja oleh siapapun. Tidak hanya oleh suatu perusahaan, namun juga bisa dilakukan oleh pihak pemerintahan, organisasi, bahkan diri kita secara individu.

Menurut Bambang, berdasarkan hasil riset dari enviromedia, adanya praktik greenwashing yang dilakukan oleh sebuah perusahaan disebabkan 82 persen konsumen memilih produk barang dan jasa yang lebih ramah lingkungan.

Tentu saja greenwashing memberikan dampak yang kurang baik, seperti membuat konsumen kebingungan antara produk yang benar ramah lingkungan dan tidak, konsumen menjadi skeptis dengan 'green' produk, hingga memberi dampak buruk pada perusahaan yang sebenarnya mempraktikan gaya hidup berkelanjutan.

Walau begitu diakui Bambang disisi lain keberadaan greenwashing memang memperkuat ajakan untuk lebih ramah lingkungan karena isu ini terus dibicarakan.

Nah, berarti peran kita sebagai konsumen cukup besar TemanBaik. Sudah sepatutnya kita pintar memilih produk dan teliti betul apakah produk tersebut benar-benar ramah lingkungan atau sekadar klaim semata.

Bambang juga memberikan beberapa ciri greenwashing, seperti klaim produk menggunakan data yang tidak jelas, tidak ada bukti jika produk tersebut ramah lingkungan, atau kegiatan produksi dari perusahaan yang bertolak belakang dengan aktivitas ramah lingkungan.

"Green product vs dirty company. Misal ada perusahaan membuat lampu hemat energi, tapi ternyata perusahan itu mencemari sungai. Itu kan bertolak belakang," jelas Bambang.

Selain itu, kita juga harus berhati-hati dengan klaim plastik yang katanya sudah lebih ramah lingkungan saat ini, TemanBaik. Menurut Bambang bisa jadi ini salah satu bentuk greenwashing, karena nyatanya kantong plastik memang bisa mencemari lingkungan bahkan lebih berbahaya jika sudah terurai menjadi mikro plastik.

Agar praktik greenwashing ini tidak berkelanjutan, Bambang mengakui jika sudah seharusnya ada aturan internasional dan sertifikasi untuk semua produk yang ingin mengklaim diri sebagai produk ramah lingkungan.

"Selain itu juga harus ada edukasi soal greenwashing terutama untuk pengiklan. Karena biasanya perusahaan membuat greenwashing tapi tidak diketahui oleh pihak pengiklan," tambah Bambang.

Sebagai konsumen tentu kita harus cermat. Salah satunya ialah dengan mengetahui label ramah lingkungan yang sudah terstandarisasi secara internasional. Seperti label FSC, WWF, Energy Star, dan masih banyak lagi.

"Intinya kita sebagai konsumen juga harus sadar untuk memilih produk. Lihat apakah produk tersebut benar-benar menjaga lingkungan? Setiap usaha kecil kita untuk menjaga bumi itu berarti," tutup Bambang.

Nah TemanBaik, jadi jangan cinta lingkungan hanya sampai di mulut saja ya. Karena keadaan bumi yang lebih baik butuh aksi nyata dari kita sebagai penghuninya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Artem Labunsky


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler