Mengenal 3 Kanker yang Paling Banyak Dialami Perempuan Indonesia

Bandung - TemanBaik, ada sejumlah fakta menarik yang perlu kita ketahui di balik penyakit kanker di Indonesia, khususnya yang dialami perempuan. Simak ulasannya, yuk!

Indonesia sendiri tercatat sebagai negara urutan ke delapan dengan penyintas kanker terbanyak di dunia. Berdasarkan laporan WHO melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau The International Agency of Research on Cancer (IARC), tercatat jumlah penyintas kanker baru di Indonesia mencapai hampir 400 ribu kasus. Ini hanya angka yang tercatat setahun sepanjang 2020.

Dari jumlah itu, 54 persen kanker dialami kaum perempuan. Urutan terbanyak jenis kankernya adalah kanker payudara, mulut rahim atau serviks, dan rahim atau ovarium. Sedangkan pada laki-laki, terbanyak adalah kanker paru-paru, hati, dan usus besar atau kolorektal.

Dengan tingkat kematian mencapai 59 persen, tentu kanker menjadi penyakit yang harus diwaspadai siapapun. Karena itu, sangat penting bagi kamu untuk mengetahui seluk-beluk kanker, tanda kemunculan gejala, serta pengobatannya.

Dalam pembahasan ini, BeritaBaik.id akan menyajikan seputar tiga kanker yang terbanyak dialami perempuan. Simak ulasan lengkapnya, yuk!

1. Kanker Payudara
Ini merupakan kanker nomor satu yang menyerang perempuan di Indonesia. Sekitar 20 persen dari kasus kanker yang ada adalah kanker payudara.

"Beberapa di antaranya termasuk benjolan di payudara, inversi puting susu, atau perubahan kulit (di sekitar payudara) yang tidak normal. Sebagian besar kanker payudara ditemukan saat masih terlokalisasi di payudara dan di kelenjar getah bening di ketiak pada sisi yang sama," ujar Senior Consultant Parkway Cancer Centre Dr. Wong Chiung Ing dalam Webinar 'Memahami Ancaman Kanker pada Perempuan', Rabu (17/2/2021).



Deteksi dini jadi hal penting dilakukan untuk mencegah kanker payudara baru terdeteksi saat stadium lanjut. Dengan deteksi dini, penanganan yang dilakukan bisa lebih efektif. Bahkan, dalam kasus ringan, payudara tak perlu diangkat.
Deteksi dini bisa dilakukan secara mandiri saat sudah mulai mengalami menstruasi hingga usia 40 tahun. Untuk lebih memastikannya, deteksi ini bisa dilanjutkan di rumah sakit. Sedangkan jika sudah berusia 40 tahun, deteksi kanker payudara sebaiknya langsung dilakukan ahlinya.

Dalam pengobatannya sendiri ada berbagai macam metode yang bisa dilakukan, mulai dari operasi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi bertarget, dan radioterapi.

2. Kanker Serviks
Kanker serviks ini adalah kanker yang tumbuh di jaringan serviks, yaitu organ yang menghubungkan rahim dan vagina. Kanker serviks disebabkan infeksi Human Papilomavirus (HPV) melalui hubungan seksual.

Kanker ini tergolong jenis kanker yang dapat dicegah dan diobati jika terdeteksi secara dini. Karena itu, penting untuk melakukan skrining atau deteksi dini.

"Skrining serviks secara teratur dapat mendeteksi sel prakanker atay kanker di serviks dan secara signifikan mengurangi risiko berkembangnya kanker serviks," jelas Wong.

Deteksi dini kanker serviks ini bisa dilakukan ketika seorang perempuan berusia 25 tahun dan sudah berhubungan seks secara aktif. Pemeriksaan juga disarankan dilakukan 3 tahun setelah aktif berhubungan seksual saat berusia di bawah 25 tahun. Misalnya jika seseorang sudah mulai aktif berhubungan seksual pada usia 19 tahun, maka pada usia 22 tahun sebaiknya mulai melakukan pemeriksaan.

Selain itu, ada vaksinasi HPV yang bisa meminimalisir seseorang terjangkit kanker serviks. Sebab, vaksinasi ini akan merangsang kekebalan tubuh terhadap jenis HPV tertentu penyebab kanker serviks.

3. Kanker Ovarium
Salah satu penyebab kanker ovarium atau rahim adalah mutasi gen yang diturunkan. Kanker ini memiliki kejadian lebih tinggi pada perempuan berusia di atas 40 tahun. Selain itu, perempuan yang menjalani terapi hormonal setelah menopause dan mereka yang melahirkan di atas 35 tahun juga berisiko tinggi terkena kanker ovarium.

Salah satu cara yang bisa dipakai untuk melakukan deteksi dini adalah jumlah darah yang yang keluar saat menstruasi. Darah yang keluar dari vagina saat berhubungan seks juga bisa jadi salah satu tanda seseorang mengidap kanker ovarium.

Segera periksakan pada ahlinya agar bisa segera dideteksi dan dilakukan penanganan yang tepat. Sehingga, risiko terburuk bisa diminalisir sekecil mungkin.

Metode Pengobatan Sudah Berkembang
Wong kembali menegaskan soal pentingnya deteksi dini kanker bagi perempuan. Jika dirasa ada sesuatu yang 'berbeda' dalam dirinya dan mencurigai kanker, memeriksakan diri pada ahlinya adalah jalan terbaik.

Jangan menunggu sampai muncul gejala lebih parah, apalagi jika gejala awal dirasa sudah tak nyaman. Semakin dini kamu memeriksakan diri, semakin efektif pengobatan yang dilakukan.

Ia pun mengimbau agar masyarakat tak perlu takut berlebihan jika didiagnosis mengidap kanker. Jangan terjebak pada anggapan bahwa pengobatan kanker akan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh, misalnya kemoterapi yang akan membuat rambut rontok.

Faktanya, ada banyak metode pengobatan yang bisa dilakukan dengan beragam risiko yang bisa diminimalisir kok. Yang paling ditekankannya, jangan merasa hidup akan segera berakhir ketika divonis mengidap kanker.

"Kanker ada obatnya. Jika anda berjuang melawan kanker, masih ada kemungkinan hidup dengan nyaman. Sekarang juga sudah banyak sekali teknologi (pengobatan) untuk treatment dan side effect (efek samping) tang tidak akan terlalu terasa," jelas Wong.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Angiola Harry

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler