Laki-laki Perlu Berkontribusi untuk Lawan Kekerasan Seksual Loh!

Jakarta - TemanBaik, sudah semestinya kita tak lagi terlalu sibuk dengan stereotip yang melekat pada gender tertentu. Misalnya laki-laki yang lebih kuat, atau perempuan yang lebih baik menjadi ibu rumah tangga. 

Jika stereotip seperti itu dibiarkan, maka akan berdampak untuk banyak hal lain. Salah satu pada kasus kekerasan seksual yang saat ini masih menjadi isu darurat di Indonesia yang perlu diberantas sesegera mungkin.

Layaknya isu sosial yang lain, kekerasan seksual merupakan suatu hal yang harus dilawan bersama. Walaupun hingga saat ini perempuanlah yang lebih banyak menjadi korban, namun laki-laki pun tak boleh tinggal diam. 

Seperti dalam survei yang dilakukan oleh LPM Kinday Universitas Lambung Mangkurat soal isu kekerasan seksual, dari 40 responden, 35 orang diantaranya menganggap keterlibatan laki-laki dalam penghapusan kekerasan seksual sangatlah penting. 

Nah, untuk membahas lebih jauh soal bagaimana pentingnya kontribusi laki-laki dalam memberantas kekerasan seksual, The Body Shop Indonesia bersama Yayasan Pulih dan Magdalene.co membuat Campus Online Series yang ketiga dengan tema 'Ciptakan Kampus Aman: Laki-laki Perlu Kontribusi'. 

Peran laki-laki untuk ikut melawan kekerasan seksual pada dasarnya penting untuk ikut mematahkan pandangan negatif dari pihak yang mempertanyakan mengapa laki-laki harus ikut membahas tentang hal ini. 

"Membicarakan hal ini tidak akan mengurangi maskulinitas, apa hubungannya? Kita dilahirkan dari seorang ibu. Buat saya perjuangan The Body Shop dalam kampanye ini sama seperti memperjuangkan keluarga saya," ujar Aryo Widiwardhono, CEO The Body Shop Indonesia. 


                         Foto: Tangkapan layar Campus Online Series ketiga dengan tema 'Ciptakan Kampus Aman: Laki-laki Perlu Kontribusi'

Baca Ini Juga Yuk: Pentingnya Pemahaman Orang Tua soal Kanker pada Anak

Namun sayangnya, mempertahankan maskulinitas masih menjadi soal yang membuat sebagian laki-laki belum mau ambil bagian dalam memberantas kekerasan seksual. 

Menurut Oktava Anggara, perwakilan mahasiswa Universitas Udayana, tantangan laki-laki untuk membahas soal kekerasan seksual adalah ego yang dimilikinya. Banyak yang masih menganggap jika ini adalah masalah perempuan dan kemaskulinan laki-laki akan dipertanyakan jika ikut membahasnya. 

Padahal seharusnya maskulinitas tidak perlu diartikan demikian. Maskulinitas pada laki-laki ataupun feminisme pada perempuan sebetulnya merupakan suatu norma sosial dalam masyarakat untuk melekatkan stereotip karakter atau sifat pada setiap gender. 

"Kita perlu paham sebenarnya sifat maskulin atau feminim itu ada pada setiap individu. Contohnya laki-laki saat berumah tangga pasti ada unsur afeksi dan kasih sayang. Jadi, setiap individu punya sisi keduanya," terang Ika Putri, seorang psikolog dari Yayasan Pulih.

Namun, diakui oleh Ika, kitalah yang akhirnya terlalu mengkotak-kotakan soal maskulinitas dan feminisme sehingga tercipta suatu stereotip antara laki-laki dan perempuan. 

"Itu bisa menyebabkan penyalahgunaan kuasa atau terlalu mendominasi. Kalau dalam relasi ada ketidakseimbangan tentu maskulinnya jadi toksik. Akan ada pikiran 'ya gue yang memimpin, gue yang mendominasi. Jadi pasangan atau orang lain harus menurut atau melayani'," tambah Ika Putri. 

Nah TemanBaik, sebenarnya bukan tidak boleh kok untuk tetap membahas soal maskulinitas atau feminitas. Namun gunakanlah hal tersebut untuk pandangan yang baik bukan untuk saling merendahkan. 

Salah satu caranya adalah kita bisa menjadikan maskulinitas seorang laki-laki yang kuat dan berani untuk membela dan menolong para korban kekerasan seksual. 

"Jadikan maskulinitas itu being gentle, being respectful. Hormat pada semua orang dan memperjuangkan keadilan. Ini tugas bersama untuk mengubah stigma yang ada," ujar Rory Asyari, seorang jurnalis yang juga aktif membahas berbagai isu sosial lewat media sosialnya.

Pandangan tersebut juga didukung oleh Husain Sarasno, perwakilan dari CIMSA Indonesia sebuah organisasi mahasiswa kedokteran berbasis aktivitas, menurutnya saat ini sudah semestinya laki-laki bertindak sebagai pelopor dan pelapor yang berani mencegah dan memberantas kekerasan seksual.

"Sudah saatnya kita berhenti menuntut perempuan sendirian mencegah kekerasan seksual. Kita pihak laki-laki harus berkontribusi nyata mencegah kasus kekerasan seksual. Ini musuh kita bersama," tambah Husain. 

Nah TemanBaik, jadi melawan kasus kekerasan seksual yang hingga kini masih terjadi di Indonesia adalah tugas kita semua ya. Tak peduli apapun gendermu, yuk berkontribusi bersama!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Mihai Surdu 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler