Jadi Pesepeda Keren dengan Perhatikan 4 Hal Ini Ya!

Bandung - TemanBaik, bersepeda merupakan olahraga yang menyehatkan. Namun, tak jarang ada pesepeda yang serampangan tak sesuai aturan dan etika saat menggowes.

Bersepedanya memang menyehatkan, tapi ketika melakukannya dengan cara tak tetap, bersepeda tak lagi jadi sesuatu yang keren. Bahkan, orang sekitarmu bisa saja justru memandang negatif pesepeda dan mengeneralisir semua pesepeda.

Nah, biar kamu jadi pesepeda yang keren, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. Hal yang paling utama tentu adalah bersepeda sesuai aturan dan etika yang ada. Apa saja?

1. Berada di Lajur Kiri
Ini jadi penting ketika kamu bersepeda. Melajulah di lajur kiri jalan ketika menggowes. Sebab, lajur kiri memang diperuntukkan untuk kendaraan dengan kecepatan yang lebih rendah dari kendaraan di lajur kanan.

Jika di daerahmu ada jalur sepeda, pakailah jalur itu. Sebab, jalur sepeda memang khusus disediakan bagi para pesepeda.

Hindari berpindah ke lajur kanan karena akan membahayakan diri kamu sendiri, pengemudi kendaraan, serta orang sekitar. Kecuali jika kamu memang ingin menyeberang, kamu boleh berpindah lajur. Namun, perhatikan kondisi sekitar ya sebelum menyeberang. Ini demi keselamatan bersama di antara pengguna jalan.

2. Berbaris Saat Gowes Berkelompok
Jika kamu bersepeda enggak sendirian alias berkelompok, aturlah barisan para penggowes. Posisikan para sepeda dalam posisi berbaris ke belakang ketika melaju di jalan. Sehingga, kelompok pesepeda ini akan membentuk semacam antrean.

Sebisa mungkin, minimalisir deh menciptakan banyak barisan. Jika rombonganmu berjumlah banyak, usahakan maksimal hanya ada maksimal dua banjar saja. Dengan cara ini, pengguna jalan lain bisa tetap mendapatkan hak memakai jalan dengan nyaman.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Bersepeda ke Tempat Kerja Setiap Jumat

3. Bijak Memakai Trotoar
Ini juga jadi bagian enggak kalah penting saat kamu bersepeda. Pada dasarnya, pesepeda boleh kok memakai trotoar tempat untuk bersepeda. Jadi, misalnya ketika terjebak kemacetan, pesepeda boleh berpindah dari jalan ke trotoar agar bisa melaju dengan lancar.

Ini berbeda dengan sepeda motor atau kendaraan lain yang secara tegas dilarang menggunakan trotoar. Hak pesepeda memakai trotoar ini dijamin melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 Pasal 54.

Pada ayat 3, disebutkan bahwa 'fasilitas pejalan kaki merupakan fasilitas yang disediakan secara khusus untuk pejalan kaki dan/atau dapat digunakan bersama-sama dengan pesepeda'. Fasilitas pejalan kaki yang dimaksud ini salah satunya adalah trotoar.

Namun, jangan sembarangan bersepeda di atas trotoar, ya! Sebab, ada aturan dan etika yang harus kamu junjung tinggi untuk menghormati hak orang lain. Disabilitas dan pejalan kaki jadi prioritas utama pengguna trotoar. Sedangkan pesepeda berada di posisi ketiga.

Jadi, jika kamu bersepeda di atas trotoar, prioritaskan disabilitas dan pejalan kaki ya. Tuntunlah sepedamu dan baru menggowesnya ketika kondisi memang memungkinkan serta tak membahayakan pengguna trotoar.

"Intinya mereka (pesepeda) harus mengutamakan pejalan kaki (dan disabilitas). Ketika banyak pengguna trotoar, turun saja, didorong," kata Ketua Forum Komunikasi Sepeda se-Bandung Raya Angga Cabelita kepada BeritaBaik.id, Kamis (3/5/2021).

Namun, lebih disarankan pesepeda menggowes di jalan daripada di trotoar. Artinya, trotoar baru digunakan ketika memang benar-benar mendesak, Bahkan, jauh lebih bijak dan keren jika kamu menghindari memakai trotoar untuk bersepeda.

4. Mematuhi Aturan Lalu Lintas
Hal ini juga tak kalah penting. Sebagai pesepeda, kamu wajib mematuhi aturan lalu lintas. Jadi, jangan mentang-mentang bersepeda, kamu justru melanggar aturan yang ada.

Berbagai aturan di jalan ini mulai dari tidak melawan arus, tidak parkir sembarangan, hingga mengikuti 'perintah' traffic light wajib diikuti. Ini demi keselamatan bersama.

Jika melanggar aturan lalu lintas, bukan hanya membahayakan kamu dan orang sekitar, tapi juga berpotensi menimbulkan kecemburuan. Sebab, pengguna jalan lain harus taat dan ada sanksi jika melanggar. Sebaliknya, tak ada sanksi bagi pesepeda.

Ini artinya, pesepeda perlu memakai etika. Aturan tetap harus dijalankan meski tak ada sanksi yang membayanginya.

"Memang tidak ada tilang (bagi pesepeda yang melanggar aturan), tapi jadi kecemburuan sosial (bagi pengguna jalan lain," tutur Angga yang juga Ketua Umum Gowes Baraya Bandung.

Di luar berbagai cara di atas, para pesepeda tentu sangat disarankan menjalankan protokol kesehatan karena pandemi COVID-19 belum berakhir. Selain itu, lengkapi diri dengan peralatan pelindung diri ya, mulai dari sepatu hingga helm. Ini untuk meminimalisir dampak buruk jika kamu mengalami kecelakaan. Yuk, jadi pesepeda yang bijak dan keren!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Wesley Mclachlan
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler