Ini Pentingnya Cerita, Data dan Fakta dalam Membuat Karya

Jakarta - TemanBaik, saat ini sangat banyak wadah untuk kita dapat menghasilkan karya, termasuk lewat media sosial. Tentu sudah tidak asing ketika seseorang memanfaatkan media sosial untuk unjuk kemampuan, entah lewat video, tulisan, gambar, dan sebagainya. 

Saat berkarya ada satu kemampuan yang tidak boleh kita lewatkan, yaitu kemampuan untuk bercerita. Bercerita merupakan bentuk komunikasi naratif yang merupakan cara berkomunikasi lewat cerita baik secara tulisan, lisan, dan medium lainnya. Cara berkomunikasi ini dinilai lebih efektif karena lebih mudah dimengerti. 

Mengingat kemampuan bercerita merupakan modal penting untuk berkarya dan menyuarakan suatu hal, Magdalene Learning Club didukung oleh The Body Shop Indonesia membuat kegiatan 'Workshop Gender Training, Storytelling, & Data Gathering' (19/6). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye No! Go! Tell! yang pesertanya adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. 

"Bercerita adalah kemampuan yang dapat digunakan dalam berbagai hal, entah menulis, karya berupa video atau podcast, saat menawarkan sesuatu, kampanye sosial, dan sebagainya," ujar Devi Asmarani, Pemimpin Redaksi Magdalene.co sekaligus pembicara dalam sesi Storytelling & Data Gathering.

Devi memaparkan ada tiga kunci utama yang dapat diperhatikan saat hendak menulis atau saat membuat karya kreatif dalam bentuk apapun. Hal tersebut adalah Triple A yaitu sudut pandang yang spesifik, aksi atau pergerakan dalam cerita, dan anekdot yang relevan. 

Menurut Devi, saat menulis kita harus menentukan angle yang tajam atau dari sudut pandang mana tulisan tersebut akan dibangun. Semakin tajam angle yang dipilih, maka akan membuat tulisan semakin menarik dan enak dibaca. 

"Misal mau menulis soal kekerasan seksual, isu atau topik apa dari situ yang mau kita angkat. Mau angkat soal bagaimana pandemi meningkatkan kasus kekerasan seksual berbasis online, itu udah satu angle sendiri," ujar Devi. 


                          Foto: Tangkapan layar Workshop Gender Training, Storytelling, & Data Gathering / Irsya Kireina

Baca Ini Juga Yuk:
Ini Kata Ahli tentang Cara Kenali Gejala Awal Depresi

Devi mengingatkan, agar tulisan semakin menarik baiknya sudut pandang tidak hanya spesifik namun juga menawarkan suatu hal baru yang belum banyak diketahui. 

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah karya yang kita buat memiliki pergerakan atau flow cerita sehingga nantinya karya tersebut dapat membuat orang lain menikmati dan merasa menjadi bagian dari apa yang diceritakan. 

"Gunakan konsep 'show don't tell'. Bukan memberi tahu, tapi menunjukkan. Misal saya mau pembaca tahu kalau si A pemalas. Saya gak tulis 'A adalah orang pemalas' tapi saya tulis 'A selalu bangun di atas pukul 11 dan tidak pernah merapikan tempat tidur'. Dari situ pembaca akan punya bayangan sendiri," terang Devi.

Lalu agar lebih menarik, sebuah karya bisa disisipkan dengan anekdot atau cerita pendukung yang relevan dengan topik yang diangkat. Menurut Devi, cerita dalam tulisan bisa membawa pembaca ke dalam isu yang hendak dibahas di dalamnya. 

"Kalau tulisannya non-fiksi, cerita yang disisipkan harus nyata. Walau identitas boleh dikaburkan atau ada juga yang melakukan komposit identitas," tambah Devi. 

Kemampuan Mengolah Data dan Fakta
Namun kemampuan bercerita saja belum cukup TemanBaik, karena itu belum dapat meyakinkan orang lain. Seseorang akan semakin yakin jika cerita kita dilengkapi dengan data dan fakta. Nah, jadi TemanBaik juga perlu mengasah kemampuan mengolah data dan fakta nih!

Tapi sebelum diolah, data dan fakta yang hendak kita gunakan juga tidak boleh sembarangan. Melainkan harus dihadirkan dengan benar dan ada tujuan yang jelas. Pastikan pula juga data dan fakta yang kita gunakan relevan dengan topik yang sedang dibahas. 

"Pilih data dan fakta yang sangat dibutuhkan. Jangan terlalu banyak karena pembaca bisa bosan atau kebingungan. Jangan juga terlalu sedikit dan tidak memiliki kredibilitas," ujar Devi. 

Data dan fakta dalam karya kreatif yang kita buat itu penting loh, TemanBaik. Kehadiran keduanya dapat membuat argumen lebih kuat, membuktikan sebuah pernyataan, hingga dapat membantu mengilustrasikan sesuatu. 

Keberadaan internet saat ini juga sangat membantu dalam mencari data dan fakta. Saat membuat karya kreatif, TemanBaik bisa mendapat data dari pemberitaan media, penelitian yang sudah ada, hingga data dari perusahaan bahkan pemerintah. 

Selain itu sangat memungkinkan loh jika TemanBaik ingin memperoleh data sendiri lewat wawancara dengan orang yang berkompeten atau melakukan pengamatan langsung di lingkungan sekitar. 

Jika data yang dikumpulkan dirasa sudah cukup, selanjutnya TemanBaik perlu mengubah data tersebut menjadi informasi yang mudah dipahami.

"Data biasanya mentah dan berdiri sendiri. Sementara informasi adalah data yang telah dianalisa dan diproses sehingga memiliki makna. Dalam karya kreatif bukan data saja yang penting, tetapi juga informasi," jelas Devi. 

Tapi TemanBaik harus tetap berhati-hati  saat mencari data dan fakta ya! Sayangnya kemudahan mengakses informasi saat ini juga membuat data dan fakta yang salah bahkan palsu juga ikut menjamur. 

"Jangan mis interpretasi data atau menggunakan informasi menyesatkan. Pastikan kita mendapat data dari tempat yang benar dengan analisa tepat. Jangan sampai memasukkan data yang salah dan menyesatkan dalam tulisan atau karya kita," tutup Devi. 

Wah, ternyata penting sekali ya TemanBaik untuk mempelajari dan mengasah kemampuan kita dalam bercerita serta mengolah data dan fakta. Tiga hal tersebut bisa dijadikan kemampuan dasar yang bermanfaat untuk berbagai hal, termasuk saat kita membuat karya kreatif.

Jangan berhenti belajar ya, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unsplash/ Rain Bennett

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler