Ini Mitos & Fakta tentang Vitiligo yang Perlu Kamu Tahu

Bandung - TemanBaik, sudah tahu dengan penyakit vitiligo? Mungkin di antara kamu ada yang mengernyitkan dahi karena baru mendengar penyakit ini.

Sebagai gambaran, pernah enggak melihat orang dengan bercak putih pada kulitnya? Bercak putih ini biasanya berbeda dengan kulit lain di sekujur tubuh orang tersebut.

Bercak putih ini bisa terdapat di mana saja, mulai dari lengan, leher, wajah, hingga di bagian lain yang kerap tertutup pakaian. Bercak ini juga beragam ukurannya, mulai dari hanya beberapa sentimeter saja, hingga mendominasi pada salah satu area kulit di tubuh.

Penyakit inilah yang disebut dengan vitiligo. Sayangnya, banyak yang belum paham tentang vitiligo ini. Bahkan, tak jarang ada yang mengaitkan kelainan kulit ini dengan mitos. Apa saja mitos dan faktanya?
1. Penyakit Kutukan
Tak hanya di Indonesia, warga di berbagai belahan dunia ini masih ada yang menganggap vitiligo sebagai penyakit kutukan. Padahal, penyakit ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kutukan. Vitiligo murni hanya sebuah penyakit.

"Vitiligo ini bukan penyakit kutukan," kata Ketua Dermapatologi KSM Departemen Dermatologi dan Fenerologi FKUI RSCM dr. Sondang MHA Pandjaitan Sirait, SpKK(K), MPd.Ked, FINSDV, FAADV dalam webinar Gerakan Self Love Movement Bagi Penderita Vitiligo di Indonesia, Senin (21/6/2021).



Faktanya, vitiligo ini berkaitan dengan penyakit autoimun yang dialami seseorang. Bahkan, vitiligo ini bisa jadi penanda jika seseorang punya penyakit autoimun lain.

Baca Ini Juga Yuk: 'Me Time' Bisa Jadi Cara Ampuh Atasi Stres saat Pandemi Loh!

Oleh karena itu, ketika seseorang diketahui mengidap vitiligo, sebaiknya dilakukan pemerikasaan menyeluruh terhadap tubuh oleh ahlinya. Sehingga, bisa diketahui penyakit autoimun di dalam tubuh agar bisa ditangani lebih dini.

2. Penyakit Menular
Ada juga yang menganggap penyakit ini adalah penyakit menular. Sehingga, tak jarang banyak yang tak mau bergaul dengan pengidap vitiligo. Faktanya, vitiligo tidak dikategorikan sebagai penyakit menular.

"Banyak yang beranggapan salah bahwa vitiligo ini dianggap menular, padahal ini tidak menular," ungkap Sondang.

3. Penyakit Turunan
Pandangan vitiligo sebagai penyakit turunan yang 'diwariskan' dari orang tua. Namun, hal ini ternyata salah dan cuma mitos belaka. Faktanya, vitiligo bukan penyakit turunan.

4. Tak Bisa Sembuh
Sebagian masyarakat kadung menganggap vitiligo adalah penyakit yang tak bisa disembuhkan. Faktanya, vitiligo ini bisa disembuhkan melalui berbagai metode pengobatan. Ada yang butuh waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung kondisi vitiligonya.

Namun, proses pengobatannya sendiri tergolong jangka panjang. Apalagi jika bercak putih pada tubuh sudah benar-benar meluas. Penyakit ini biasanya ditangani dokter spesialis kulit dan kelamin. Selain itu, diperlukan juga dokter dengan keahlian lain jika pasien punya penyakit autoimun lain.

"Oleh karena itu, ada berbagai tahapan pengobatan (bagi pasien pengidap vitiligo)," ucap Ketua KSM Dept Dermatologi dan Venerologi FKUI Dr. Hanny Nilasari, SpKK(K).

Agar seseorang bisa sembuh dari vitiligo, perlu konsistensi dam disiplin dalam mengikuti seluruh rangkaian pengobatan. Sebab, ini akan sangat berdampak pada kesuksesan penanganan.

"Faktanya beberapa jenis vitiligo itu bisa disembuhkan, tentunya dengan pengobatan yang sempurna. Perlu diketahui juga vitiligo ini penyakit kronis, perjalanan penyakitnya panjang," jelasnya.

"Sehingga untuk kesembuhan paripurna dan sempurna, yang harus ditekankan kepada seluruh pasien, berobatnya enggak boleh bosen, memakai obatnya enggak boleh bosen," tutur Hanny.

Jangan Jauhi Pengidap Vitiligo
TemanBaik, jika ada orang di lingkunganmu yang mengidap penyakit vitiligo ini, jangan dijauhi ya. Sebab, sesuai dengan fakta di atas, penyakit ini enggak menular, kok.

Menjauhi justru akan menimbulkan masalah baru bagi pengidap vitiligo. Mereka berpotensi mengalami masalah psikososial. Sikap rendah diri pun akan menjadi bayang-bayang dalam benak mereka.

Oleh karena itu, perlu pandangan terbuka dalam melihat pengidap vitiligo. Apalagi jika kamu sudah tahu data dan fakta di atas, mitos yang selama ini ada di pikiranmu bakal terpatahkan. Jadi, enggak perlu ada rasa kekhawatiran bergaul dengan mereka.

Sebaliknya, pengidap vitiligo ini perlu mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya. Sehingga, masalah psikososial bisa diminimalisir sekecil mungkin. Apalagi, vitiligo ini sebenarnya enggak akan mengganggu aktivitas seseorang.

Bersosialisasilah seperti biasa dengan mereka tanpa memandang pengidap vitiligo sebagai orang berbeda yang perlu dijauhi. Bangkitkan semangatnya untuk berobat dan meraih prestasi.

"Vtiligo ini lama kelamaan kalau (dijauhi) dia punya masalah psikosisl, paling banyak itu mengalami depresi. Seperti kita ketahui, ada beberapa permasalahan psikososial, di antaranya cemas dan depreasi, paling banyak depresi (dialami pengidap vitiligo)," papar Hanny.

Sementara itu, sebagai bentuk dukungan bagi pengidap vitiligo, ada beragam gerakan yang dilakukan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan PT. Regenesis Indonesia dengan menghimpun gerakan 'Self-Love Movement' di bulan peringatan Hari Vitiligo Dunia pada Juni ini.

"Melalui kampanye itu,  kami berkomitmen  untuk berkontribusi menjadi support system yang baik bagi para sahabat vitiligo di Indonesia untuk membangun kepercayaan diri," kata Sales & Marketing Director Regenesis Emmy Noviawati.

Melalui gerakan ini, ada berbagai hal yang dilakukan, salah satunya menggelar webinar seputar vitiligo. Tujuannya agar publik semakin teredukasi tentang penyakit ini.

Di sisi lain, pengidap vitiligo juga diharapkan tetap hidup semangat dan membuka paradigmanya. Sebab, pengidap vitiligo pun bisa berprestasi tanpa merasa penyakitnya jadi hambatan. Ia mencontohkan Winnie Harlow yang pernah menjadi model America's Next Top Model.

"Dukungan dengan sharing, sukses story, di mana pasien yang bisa eksis dengan kondisinya dapat membangun kepercayaan diri sesama penderita Vitiligo," pungkas Emmy.

Foto: Winnie Harlow - commons.wikimedia.org/Georges Biard

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler