Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya HIV dan AIDS

Bandung - Sebagian orang menganggap HIV dan AIDS adalah sama. Namun, faktanya enggak begitu loh, TemanBaik. Simak ulasannya yuk biar enggak gagal paham soal HIV/AIDS ini!

Kenapa sih HIV/AIDS ini kerap dianggap sama? Itu tak lepas dari cara penulisannya yang kerap digabungkan dan hanya ditandai dengan garis miring. Lalu, bedanya apa?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita cermati dulu apa kepanjangan HIV dan AIDS ini. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, sedangkan AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome.

HIV dan Gejalanya
Dilansir dari berbagai sumber, HIV ini merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh seseorang. Saat masuk ke dalam tubuh, virus ini akan menyerang sel CD4 atau sel T. CD4 ini merupakan bagian sistem imun yang tugasnya melawan infeksi.

'Serangan' yang dilakukan virus ini mengakibatkan sistem imun dalam tubuh menurun hingga akhirnya tak kuat melawan infeksi. Saat kondisi ini terjadi, jumlah virus atau viral load HIV dalam darah akan menjadi tinggi. Hal ini dikarenakan sistem imun tak mampu melawan HIV.

Infeksi HIV sendiri butuh waktu berbeda. Namun, dalam kasus tertentu, butuh waktu hingga 10 tahun sejak seseorang terpapar HIV hingga memperlihatkan gejala. Ini yang membuat kenapa banyak orang tidak menyadari jika di dalam tubuhnya terdapat HIV.

Baca Ini Juga Yuk: Apa Gelas Bekas Pakai ODHA Bisa Tularkan HIV? Ini Jawabannya

Gejala HIV sendiri beragam. Umumnya, gejalanya mirip flu biasa dalam kurun dua hingga empat pekan, mulai dari demam, mudah kelelahan, ruam pada kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, nyeri otot, berkeringat di malam hari, hingga ada luka yang mirip sariawan di sekitar area mulut.

Gejala awal ini bisa cepat reda karena jika kekebalan tubuh masih punya 'tenaga' melawan 'serangan' HIV. Namun, jika tak segera ditangani, potensi bertambahnya gejala menjadi lebih terbuka, bahkan meningkat lebih parah.

AIDS dan Gejalanya
Lalu, bagaimana dengan AIDS? AIDS adalah tahap akhir dari inveksi HIV. Singkatnya, AIDS adalah kondisi terparah seseorang yang sudah mengidap HIV. Indikator seseorang dinyatakan terkena AIDS adalah jika jumlah sel CD4 dalam tubuhnya terus menurun hingga kurang dari 200 sel per 1 mililiter atau 1 cc darah.

HIV yang meningkat menjadi AIDS ini ditandai sejumlah gejala, mulai adanya lapisan putih pada lidah atau mulut, sakit tenggorokan, sering sakit kepala, berat badan menurun drastis, batuk kering cukup lama, pendarahan pada lubang di tubuh (hidung, mulut, anus, vagina), hingga mengalami kelumpuhan.

Pada fase AIDS, tingkat harapan hidup pada umumnya berkurang, apalagi jika tidak ditangani dengan tepat. Sebab, imunitas tubuh terus menurun dan berbagai gejala makin memburuk.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Perempuan dengan HIV, Dipecat hingga 'Ditampar' Anak

Terpapar HIV Belum Tentu AIDS
Selain tahu bedanya HIV dan AIDS, ada hal lain yang perlu kamu pahami. Mereka yang terjangkit HIV, belum tentu mencapai fase yang disebut AIDS. Sebab, mereka yang terjangkit HIV bisa menjalani berbagai terapi dan pengobatan agar tak meningkat menjadi AIDS.

Oleh karena itu, sangat penting tes HIV dilakukan, apalagi jika kamu pernah melakukan tindakan berisiko. Sehingga, penanganan dan pencegahan yang dilakukan bisa tepat agar jika dinyatakan positif HIV tidak berlanjut ke tahap AIDS.

Mereka yang mengidap HIV bisa menjalani terapi dengan mengonsumsi antiretroviral (ART). Obat ini berfungsi mengurangi jumlah virus HIV dalam darah dan cairan tubuh. Sebaliknya, jika tak cepat ditangani, risiko mengalami gejala lebih buruk harus dihadapi.

Hal ini juga mematahkan asumsi jika seseorang yang terjangkit HIV ibarat 'vonis mati'. Sebab, mereka yang menjalani terapi dan pengobatan serta dibarengi gaya hidup sehat, bisa memiliki harapan hidup lebih baik daripada yang tak menjalaninya.

Satu hal yang tak kalah penting, menghindari HIV sangat diperlukan. Caranya tentu dengan menghindari melakukan kegiatan yang memicu risiko terpaparnya HIV.


Foto: Ilustrasi Pexels/Klaus Nielsen


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler