Belajar Toleransi Bersama Sekolah Damai Indonesia

Bandung - Perdamaian tentunya merupakan hal yang diimpikan seluruh manusia di bumi ini dan untuk mewujudkan perdamaian tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Ada berbagai cara positif yang dapat dilakukan untuk membangun perdamaian, salah satunya adalah dengan Sekolah Damai Indonesia.

Sekolah Damai Indonesia atau Sekodi adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok orang yang berasal dari berbagai latar belakang untuk bergerak dalam gerakan lintas agama untuk keadilan dan perdamaian. Sekodi Bandung sendiri berdiri pada Bulan Februari 2018 atas inisiatif Lioni Beatrik Tobing dan Fanny S, serta beberapa kawan-kawannya.

Sekolah Damai Indonesia terlahir dari School of Peace, sebuah inisiatif dari interfaith corporation forum di Banglore, India pada 2016. School of Peace bertujuan untuk membentuk keterlibatan orang-orang dengan latar belakang keyakinan berbeda untuk melihat pentingnya belajar mengenai agama dan kepercayaan berbeda-beda serta membangun relasi bersama secara adil.

Sebelum memulai perjalanannya di Kota Bandung pada tahun 2018, Sekolah Damai Indonesia atau Sekodi berdiri tahun 2015 dalam wadah legal sebagai perkumpulan atas inisiatif alumni School of Peace dari 2009 hingga 2015. Kemudian pada 20 September 2016, Sekodi resmi berbadan hukum.

Baca juga: Ini yang Harus Dicontoh Indonesia dari Pendidikan di Finlandia

Topik yang dibahas dan dikembangkan dalam Sekodi adalah masalah identitas dan konflik. Barulah pada Bulan Februari hingga Juni 2018 kelas Sekodi Bandung mulai berfokus pada pengenalan nilai-nilai Sekodi, seperti toleransi dan penerimaan perbedaan.

"Nilai-nilai yang dianut School of Peace yang diakomodir oleh Sekolah Damai Indonesia sebagai bagian School of Peace adalah bergerak dari toleransi menuju penerimaan perbedaan. Selain itu juga keterlibatan bersama tanpa melihat latar belakang identitas sosial, Agama, kepercayaan, dan gender," Jelas salah seorang inisiator Sekodi, Fanny S, pada BeritaBaik, Selasa (28/8/2018).

Sekodi menghadirkan kelas atau pertemuan dan dialog mingguan yang digelar setiap hari Sabtu di Jendela Ide dan Pesantren Anak Jalanan Attamur Cibiru. Beberapa nilai tambahan yang dilaksanakan Sekodi Bandung adalah bagaimana menekankan nilai kesetaraan dan keadilan.

"Pada program Sekodi Bandung kali ini kami berkonsentrasi kepada isu-isu lokal di Bandung. Bulan Juli 2018, kami membahas tentang Agama dan potensi konflik, di mana kami berkunjung ke tempat-tempat ibadah yang dianggap minoritas dan kami berdialog terbuka di sana. Bulan agustus, kami berdialog mengenai gender dan seksualitas, termasuk di antaranya mengunjungi komunitas LGBT serta teman-teman dengan HIV," Ungkap Fanny.

Berita foto: Semangat Belajar Meski di Atas Tumpukan Sampah

Bulan September ini, Sekodi berencana masuk ke topik masyarakat miskin kota dan lingkungan. Setiap kegiatan didampingi satu orang narasumber yang paham mengenai isu masing-masing. Dalam satu kelas terdapat 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, baik itu komunitas ataupun individu yang berbeda-beda.

"Pendaftaran dilakukan secara online dengan mengisi formulir, namun belakangan lebih banyak berdasarkan dari saling mengajak satu sama lain," tambah Fanny.

Fanny berharap keterlibatan teman-teman dan masyarakat yang berbeda agama, pekerjaan, pendidikan, etnik, ras dan identitas gender mampu menghilangkan prasangka serta potensi konflik satu sama lain. Sekodi juga berharap dapat menjadi wadah untuk mencapai kesetaraan serta keadilan untuk melakukan transformasi dalam keterlibatan bersama.

Keterlibatan berbagai macam latar belakang pun menghadirkan kisah unik tersendiri. Fanny menuturkan bagaimana ketika Sekodi kedatangan peserta ibu-ibu rumah tangga. Selain itu, ketika melakukan kerjasama dengan teman-teman transpuan dalam membuat acara Craft for Peace. Craft of Peace adalah kegiatan keterampilan yang menggunakan bahan kantong plastik menjadi dompet atau tas. Kegiatan ini ditemani oleh salah seorang fasilitator Sekodi Bandung, yaitu Rei Kaaroebi.

Nah bagi TemanBaik yang ingin ikut kelas Sekodi Bulan September 2018 ini, kamu bisa mendaftarkan diri ke Fanny, melalui aplikasi pesan WhatsApp 083820748820.

"Kita semua sama, manusia, jadi mari kita terlibat bersama tanpa perlu mempersoalkan perbedaan dan berkelanjutan dalam jangka panjang sebagai alternatif kegiatan yang serupa di Bandung," pesan Fanny.


Foto: facebook.com/sekolahdamaiindonesia


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler