Hebat! Indonesia Bikin Obat Anti Nyeri Tanpa Ketergantungan

Bandung - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kimia Farma, menciptakan terobosan baru di dunia kedokteran bernama T Bone KaeF. Inovasi ini, mengajak para penderita kanker untuk lepas dari ketergantungan morfin (anti nyeri) agar hidupnya lebih bermakna.

Seperti diketahui, pemberian morfin memang bikin pasien tertidur lelap. Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka waktu untuk berinteraksi dengan orang terdekat pun kian minim. Nah sebagai gantinya, Kimia Farma menggaet Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Indonesia (PTRR BATAN) Bandung dengan solusi terapi paliatif teknologi nuklir.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma (Persero) Tbk Pujianto mengatakan, T Bone KaeF menghabiskan waktu 10 tahun pengembangan. Obat anti nyeri ini juga menjadi salah satu dari lima penelitian membanggakan yang dibuat BATAN.

"Inovasi T Bone KaeF ini dipersembahkan untuk masyarakat Indonesia, karena memang fokus pasarnya di dalam negeri. Dengan solusi ini, kami ingin mengajak penderita kanker lebih bisa menjalani hari - harinya dengan normal, bahkan bisa menjalani ibadah tanpa harus tertidur terus di kasur," ujar Pujianto di sela peluncuran T Bone Kaef belum lama ini.

Baca juga: Bangga! Tunisia dan Maroko Belajar Ilmu Vaksin di Indonesia

Ia menjelaskan, terapi T Bone KaeF ini punya efek lebih panjang dibandingkan pemberian morfin. Untuk satu kali dosis pemberian, pasien bisa menjalani aktivitas tanpa rasa nyeri hingga satu sampai 2 bulan. Bahkan Pujianto juga memperkirakan, kualitas hidup mereka juga akan meningkat karena lepas dari ketergantungan.

"Sementara ini sudah empat rumah sakit di Indonesia yang menyediakan T Bone KaeF. Tiga rumah sakit di Jakarta dan satu rumah sakit di Bandung yakni di RSHS. Mudah-mudahan masyarakat bisa memanfaatkan inovasi anak bangsa ini," tukasnya.

Deputi Kepala BATAN Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) Hendig Winarno mengatakan, T Bone KaeF mulai diteliti sejak 2008. Melibatkan para peneliti senior, obat Samarium 153 (Samarium-Ethylene Dlamine Tetra Methylene Phosphonic Acid) ini juga hasil kolaborasi dengan para peneliti BATAN generasi muda atau milenial.

"Terobosan ini asli buatan peneliti Indonesia. Dengan berbagai tantangan, perjalanan kami selama 10 tahun ini akhirnya bisa dikomersialisasi. Harapannya obat ini juga bisa digunakan oleh penderita kanker dengan biaya yang lebih murah," papar Hendig.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler