Cara Tepat Bantu Penyandang Disabilitas Agar Tidak Tersinggung

Bandung - Penyandang disabilitas memiliki semangat besar dalam menjalani kehidupan. Tapi, ada juga yang semangatnya runtuh karena merasa dirinya memiliki keterbatasan secara fisik.

Di kehidupan bermasyarakat, TemanBaik pasti pernah menemukan penyandang disabilitas sedang berkegiatan. Misalnya, mereka yang tunanetra berusaha menyeberang tanpa bantuan. Contoh lain, penyandang tunadaksa berusaha naik ke atas tangga sendirian.

Sepintas, TemanBaik pasti terpikir untuk membantu mereka. Tapi, ada kalanya penyandang disabilitas justru tersinggung ketika dibantu orang lain. Mereka merasa dirinya mampu melakukan hal-hal seperti masyarakat pada umumnya.

Koordinator Forum Perjuangan Difabel Jawa Barat Djumono mengatakan memang penyandang disabilitas terbagi ke dalam dua sisi, ada yang senang ketika dibantu orang lain, tapi ada yang justru tersinggung saat dibantu. Mereka yang tersinggung atau bahkan marah, biasanya karena memiliki ego dalam benaknya dan merasa dirinya mampu.

Hal itu dinilai wajar. Sebab, penyandang disabilitas masih ada yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sebagian dari masyarakat masih berstigma bahwa penyandang disabilitas tidak memiliki kemampuan atau harus dibantu saat menjalani aktivitasnya. Apalagi, perjuangan mereka untuk beraktivitas di ruang publik butuh perjuangan mental yang besar.

Padahal, tidak semua anggapan publik benar. Dalam hal-hal tertentu, penyandang disabilitas membutuhkan bantuan. Tapi, dalam hal-hal tertentu juga mereka tidak membutuhkan bantuan.

Djumono pun berbagi tips bagi TemanBaik jika menemukan ada penyandang disabilitas di kehidupan bermasyarakat. Sehingga, TemanBaik tidak lagi ragu-ragu memberi bantuan karena takut kena 'damprat'.

Satu hal yang paling penting adalah berkomunikasi. Jangan sampai TemanBaik memberikan bantuan tanpa meminta izin pada penyandang disabilitas yang akan dibantu.

Misalnya ketika melihat penyandang disabilitas berjalan menggunakan kursi roda, TemanBaik jangan langsung mendorongkan kursi rodanya. Tanya lebih dulu pada yang bersangkutan apakah membutuhkan bantuan untuk didorong atau tidak.

"Saya pikir masyarakat bisa bertanya dulu pada orang yang bersangkutan butuh bantuan tidak. Ketika ditanya lebih dulu, kita akan senang dengan perhatian atau respek dari masyarakat yang ingin membantu," kata Djumono kepada BeritaBaik.

Ia sendiri mengaku sering mendapatkan bantuan dari orang lain. Tapi, komunikasi sebelum memberikan bantuan menurutnya perlu dilakukan. Sehingga ketika bantuan memang dibutuhkan, penyandang disabilitas akan jujur menjawabnya.

"Saya sering ketika jalan pakai kursi roda tiba-tiba di belakang ada yang mendorong. Itu mengagetkan buat kita dan bikin bertanya-tanya ini siapa yang mendorong," ungkap Djumono yang kedua kakinya diamputasi karena mengalami penyempitan pembuluh darah.

Djumono mengakui bahwa dalam hal-hal tertentu penyandang disabilitas memerlukan bantuan. Itu tidak terlepas dari akses fasilitas publik yang belum semuanya ramah dan mudah digunakan penyandang disabilitas.

"Di kita banyak sekali trotoar yang tidak ramah, gedung-gedung yang tidak ramah, sarana perempatan jalan tidak ramah, mereka sangat butuh bantuan dari masyarakat karena fasilitas yang tidak mendukung ini," ucap Djumono.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler