Lahan Kering di Jabar Bisa Tetap Produktif Pakai Teknologi Ini

Bandung - Pemprov Jabar akan menerapkan penggunaan teknologi drip water system atau irigasi tetes untuk pertanian dan perkebunan di Jabar. Dengan teknologi itu, hasil cocok tanam bakal meningkat pesat. Bahkan, lahan kritis atau kering bisa tetap menjadi area produktif.

Program itu akan dimulai pada Januari 2019 dengan leading sector Dinas Pertanian. Manfaat besar dari penggunaan irigasi tetes adalah meningkatnya kuantitas dan kualitas hasil panen.

Gambaran dari irigasi tetes itu adalah nantinya di area pertanian atau perkebunan akan dipasang semacam selang khusus. Selang itu menjadi alat untuk menyalurkan air dari tempat penampungan. Air akan menetes melalui lubang-lubang pada selang dan langsung diserap akar tanaman.

Sehingga, petani tidak perlu lagi menyiram tanaman secara manual. Bahkan, pupuk atau nutrisi tanaman juga bisa disalurkan melalui selang tersebut. Penyaluran air dan pupuk pun bisa diatur sesuai kebutuhan. Dengan begitu, tidak akan ada air dan pupuk yang terbuang sia-sia.

Penggunaan teknologi irigasi tetes sebenarnya sudah dipakai di berbagai negara, salah satunya Israel. Lahan kering di sana justru menjadi produktif. Ada juga negara lain seperti China, Jepang, dan Myanmar yang menerapkan teknologi serupa.

Bahkan, Ethiopia yang sebelumnya pernah mengalami bencana kelaparan, saat ini justru menjadi negara dengan ketahanan pangan terbaik di Benua Afrika. Itu berkat penggunaan irigasi tetes dalam pertanian dan perkebunannya.

"Tapi di kita drip water system ini belum begitu banyak dikenal," kata Syaiful Bahari, salah satu tim ahli yang akan menggarap program tersebut.

Berita Foto: Usaha Pertanian Sayuran Organik

Di Jabar, nantinya irigasi tetes akan diterapkan di banyak lokasi. Sementara untuk tanamannya akan disesuaikan antara karakteristik wilayah, kontur tanah, dan kecocokan tanamannya.

"Dengan cara ini bisa dikembangkan jenis-jenis komoditi tanaman yang punya nilai ekonomi bagus. Misal di lahan kering bisa ditanam tomat cherry yang sebenarnya harusnya hidup di dataran tinggi," jelasnya.

Dengan teknologi itu, nantinya tidak akan lagi terjadi tanaman mati akibat minimnya air saat musim kemarau. Sebab, air akan ditampung di tempat penampungan khusus. Bahkan, sumber airnya bisa berasal dari air tanah alias tidak lagi mengandalkan air dari sungai.

"Sebetulnya ada kekeliruan dalam pemahaman pola bercocok tanam pertanian di sini, seolah-olah tanaman itu membutuhkan air banyak. Tanaman sebenarnya tidak harus banyak mendapatkan air. Dengan drip water system ini, diatur manajemen air sesuai kebutuhan per tanamannya," ucap Syaiful.

Selain penggunaan irigasi tetes, nantinya juga akan dikembangkan penggunaan green house untuk area tanam. Dengan green house, suhu tempat bercocok tanam akan terjaga dengan baik dan bebas dari hama.

Baca Ini Juga Yuk: Belajar Jadi Petani Muda Yuk, Begini Cara Mulainya

Ke depan, akan dipetakan semacam cluster pertanian daerah. Misalnya, kawasan Karawang, Indramayu, dan Subang akan fokus menjadi area tanaman padi. Bandung dan sekitarnya bisa area pusat tanaman wortel dan kentang. Lalu Sukabumi bisa menjadi area pusat tanaman jahe dan singkong.

Dalam rencana lebih luas, di area perkebunan atau pertanian juga akan dibangun berbagai fasilitas untuk menunjang kemajuan. Sehingga, secara perlahan akan banyak daerah yang menghasilkan komoditi berkualitas tinggi, bahkan bisa diekspor ke luar negeri.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler