Cerita Yosoemito Soal Kepedulian pada Alam dengan Permakultur

Bandung - Kamu tahu enggak TemanBaik kalau ada sebuah ilmu yang mempelajari desain ekologis, budaya dan agrikultur bernama Permakultur? Permakultur adalah ilmu desain dan teknik ekologis dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur bekelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam atau juga dikenal sebagai permanent agriculture.

Dalam Permakultur terdapat tiga etika, yaitu peduli bumi, peduli manusia dan berbagi adil. Permakultur dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, seperti arsitektur, perikanan, pertanian dan banyak lagi.

Beberapa waktu yang lalu, BeritaBaik.id berkesempatan berbincang melalui telepon dengan Yosoemito, salah seorang penggerak Permakultur di Kota Bandung. Bersama teman-temannya, Yosoemito berkolaborasi untuk menciptakan hunian yang tidak hanya nyaman, namun juga menyehatkan dan ramah lingkungan. Yosoemito sendiri mempelajari Permakultur di Bumi Langit dan berfokus pada bidang tanaman dan lanskap.

Baca Ini Juga Yuk: Belajar Jadi Petani Muda Yuk, Begini Cara Mulainya

Yosoemito menanam dengan teknik natural farming, atau yang biasa dikenal dengan tanaman organik. Dalam menjalani Pertakultur ini, ia kerap kali melihat kebutuhan dari seseorang. Seperti prinsip Permakultur yaitu memenuhi kehidupan yang dibutuhkan agar lebih personal. Berawal dari kesadaran pribadi kemudian dapat membahagiakan sekitar.

“Saya memulai pergerakan ini sejak tahun 2016, dan berkolaborasi dengan Inite Living sebagai consulting pola bangunan yang functional aesthetic,” jelas Yosoemito. Selain Inite Living, ada juga Arsitek Atiit, Kebun Tunas Nusa Bandung dan Sendalu Permaculture.

Yosoemito berkisah kalau ia pernah menerapkan Permakultur ini pada pasangan di atas usia 50 tahun yang tinggal di apartemen. Untuk dapat memenuhi kebutuhan yang personal, ia dan kawan-kawannya, menyediakan furnitur yang disesuaikan dengan konsep tiny house.

Dalam apartemen tersebut, Yosoemito menyiapkan sejumlah tanaman yang tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja, namun juga memiliki fungsi lain seperti pengusir nyamuk, sebagai aromaterapi dan pembersih udara. Tanaman tersebut juga bebas bahan kimia dan dapat dikonsumsi pasangan tersebut sebagai salad dan makanan lainnya.

Baca Ini Juga Yuk: Lahan Kering di Jabar Bisa Tetap Produktif Pakai Teknologi Ini

Berbagai tantangan kerap dijumpai Yosoemito dan kawan-kawannya, seperti sulitnya melakukan pendekatan dengan orang-orang mengenai pentingnya Permakultur.

“Banyak orang masih awam menanggap kalau menanam tanaman itu hal biasa yang mudah dilakukan, tapi mereka jadi tidak tergerak untuk melakukannya. Selain itu, kami ingin menjadi role model yang sesuai dengan sumber daya di Indonesia,” ungkap Yosoemito.

Yosoemito berharap pergerakan mereka dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, tidak hanya bagi orang-orang di perkotaan namun juga di pedesaan. Sehingga sistem ekonomi dapat berjalan dengan baik.

“Yuk, belajar mengenal Indonesia lebih dekat lagi dengan budayanya, banyak “harta karun” tersimpan di Indonesia,” pesan Yosoemito untuk TemanBaik. Untuk informasi terbaru mengenai Permakultur, kamu bisa ikuti Instagramnya di @initeliving.

Foto: Dokumentasi pribadi


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler