Ragam Seni yang Berdampak di Ubud Writers & Readers Festival 2018

Bandung - Hari terakhir gelaran Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2018 padat dengan beragam kegiatan diskusi, workshop, pameran, serta penampilan seni. Salah satu yang menarik adalah diskusi 'Art for Impact' bersama para pelaku seni untuk membahas tentang karya-karyanya yang membawa manfaat.

Diskusi ini digelar di Indus Restaurant Ubud pada pukul 10.15 WITA, Minggu (28/10/2018). 'Art for Impact' mengusung Wanggi Hoed, seorang seniman pantomim yang selalu menyuarakan isu kemanusiaan, lingkungan, spiritual, dan perdamaian dalam karyanya.

Dalam diskusi ini, Wanggi membahas kolaborasinya dengan Visual Banal yang berbentuk video sunyi yang menggambarkan universalitas emosi dari orang-orang dengan gangguan kesehatan mental. "Video ini dirilis pada peringatan Hari Kesehatan Mental untuk meningkatkan awareness orang-orang akan isu ini," ujar Wanggi.

Ada pula Budi Agung Kuswara yang akrab disapa Kabul, seorang seniman kontemporer Bali yang menggagas proyek Schizofriends, sebuah proyek seni yang mengkolaborasikan orang dengan dan tanpa skizofrenia. "Saya tidak mau disabilitas teman-teman dengan skizofrenia yang ditampilkan, melainkan hasil karyanya. With arts, everything becomes fluid," papar Kabul. Proyeknya tak hanya memberdayakan orang-orang dengan skizofrenia, tapi juga membantu mengikis stigma di masyarakat yang melekat tentang mereka.

Kadek Sonia Piscayanti pun hadir dalam diskusi tersebut. Penulis dan sutradara teater ini juga mengelola kelompok budaya Mahima Community di Singaraja, Bali. Sonia membahas tentang karya terbarunya '11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah' yang merupakan pertunjukan teater tentang 11 ibu dan kisahnya yang ditampilkan di rumah masing-masing ibu tersebut.

Para ibu tersebut memiliki latar belakang beragam, ada profesor, pembaca kartu Tarot, hingga pekerja bangunan. "Proyek ini menyediakan ruang untuk para ibu berbagi kisah dan saling memberi dukungan, juga menyebarluaskan kisah mereka agar didengar lebih banyak orang, bagaimana seorang ibu kerap menanggung beban yang berat," tutur Sonia.

Dalam diskusi 'Art for Impact' hadir juga Rani Pramesti dan Cindy Saja yang sama-sama aktif memperjuangkan keadilan sosial melalui karya seni, salah satunya novel grafis 'Chinese Whispers'. Novel grafis ini bermula dari karya instalasi Rani tentang tragedi Mei 1998. Dalam novel grafis 'Chinese Whispers', pembaca diajak mengikuti kisah enam perempuan Tionghoa Indonesia, termasuk Rani kecil yang terpaksa pindah ke Australia akibat kondisi Indonesia saat itu.

"Banyak anak-anak keturunan Tiongkok-Indonesia yang berterima kasih atas karya ini karena akhirnya mereka tahu apa yang terjadi, meski orang tua mereka enggan bicara soal ini," jawab Rani ketika ditanya tentang reaksi masyarakat atas karyanya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler