Desa di Cilacap Jadi 'Kampung Sidat' Ketiga di Indonesia

Cilacap - Desa Kaliwungu di Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dicanangkan sebagai 'Kampung Sidat'. Itu jadi kampung sidat ketiga di Indonesia setelah sebelumnya ada di Sukabumi dan Banyuwangi.

'Kampung Sidat' di Desa Kaliwungu itu dicanangkan Pemkab Cilacap bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum lama ini.

Dengan menjadi 'Kampung Sidat', kawasan sekitar akan fokus pada pengembangan budidaya sidat. Tapi, pengembangan yang ada dilakukan dengan berbasis ekosistem. Sehingga, sidat yang ada di alam bebas tetap terjaga kelestariannya.

Sidat sendiri merupakan sejenis ikan yang memiliki tubuh mirip belut dengan sirip di bagian dekat kepala. Meski mirip belut, sidat justru berbeda karena hidup di air, bukan di lumpur seperti belut. Di sejumlah negara, sidat biasanya dikonsumsi karena dinilai lezat dan kaya gizi.

Melalui 'Kampung Sidat', potensi sidat yang besar di Indonesia diharapkan mampu dimaksimalkan untuk perekonomian, khususnya bagi warga sekitar.

"Di Eropa dan Jepang, populasi sidat sudah jauh menurun dan tidak boleh ditangkap. Indonesia merupakan penghasil sidat terbesar yang pemanfaatannya belum optimal," kata Plt Kabid Perikanan Tangkap Pusat Riset Perikanan KKP Eko Priyanto di laman Pemprov Jawa Tengah.

Indonesia sendiri memiliki delapan dari 20 jenis sidat di dunia. Di banyak negara, sidat sudah dilarang ditangkap karena dinilai langka. Sedangkan hal itu belum berlaku di Indonesia.

Karena pelarangan penangkapan sidat di berbagai negara, permintaan ekspor terhadap sidat dari Indonesia cukup tinggi. Apalagi, produksi sidat di Indonesia sangat melimpah.

"Ada dua jenis sidat yang sangat diminati untuk pasar ekspor, yakni Anguilla Bicolor dan Anguilla Mamorata. Diharapkan pemanfaatan sidat ini tidak melebihi daya dukung lingkungan dan stok yang ada di alam," jelas Eko.

Sementara setelah ditetapkan menjadi 'Kampung Sidat', dalam kurun empat tahun pemerintah sudah menyiapkan beberapa program, mulai dari pengetahuan budidaya, pengolahan produk sidat, hingga permodalan.

"Semoga dengan pembekalan pengetahuan akan budidaya, pengolahan, dan pemasaran yang makin baik, produksi sidat Desa Kaliwungu bisa diekspor ke luar negeri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Camat Kedungreja Agung Supriyono.

Sebagai gambaran potensialnya sidat, harga jual di tingkat nelayan Desa Kaliwungu mencapai Rp90 ribu per kilogram. Dalam satu musim panen, produksi sidat di kawasan itu bisa mencapai 10 ton.

Untuk pangsa pasar ekspor, harganya pun jauh lebih besar, bahkan bisa lebih dari dua kali lipat. Sehingga, komoditi sidat bisa jadi sarana bisnis yang menggiurkan.


Foto: kominfo.cilacapkab.go.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler