Beragam Cerita Menarik Timnas Indonesia di HWC 2018 Meksiko

Bandung - Tim Nasional (Timnas) Indonesia sudah selesai melakoni turnamen street soccer Homeless World Cup (HWC) 2018 di Meksiko beberapa waktu lalu. Indonesia menempati peringkat ke-10 dunia dan mendapat trofi istimewa yaitu Piala Fair Play.

Ada banyak hal menarik yang dialami tim selama menempuh rangkaian kegiatan HWC di sana. Salah satunya adalah salah mendatangi hotel tempat menginap. Akibatnya, tim sampai harus berjalan kaki menuju hotel yang seharusnya ditempati.

"Kita jalan kaki sekitar 5 kilometer, itu subuh. Kita jalan sambil bawa semua perbekalan," kata staf Timnas Indonesia Indra Simorangkir di Sekretariat Rumah Cemara, Kota Bandung, Rabu (28/11/2018).

Untuk makanan, anggota tim juga kurang bersahabat dengan makanan setempat. Sebab, mayoritas makanan di sana menggunakan lemon sebagai salah satu bumbunya.

Tapi, akhirnya tim sempat mendapatkan makanan berupa nasi kuning dari KBRI. Makanan itu sekaligus jadi pengobat rindu akan Indonesia.

"Itu makanan paling nikmat yang kita makan di sana," ucap Manajer Timnas Indonesia Yana Suryana.

Timnas juga sempat salah kostum. Sebab, suhu di sana cukup ekstrim dan bisa mencapai 3 derajat celcius. Anggota tim pun harus berjuang melawan dingin karena tidak membawa jaket khusus yang tebal.

"Kita salah prediksi. Kita pikir dinginnya di sana ya kayak di Ciwidey (Kabupaten Bandung). Ternyata dinginnya di sana minta ampun," tutur Yana.

Dalam salah satu momen latihan, tim juga mendapat kesempatan langka bertemu penggagas sekaligus Presiden HWC Mel Young. Tim pun sempat berfoto dan disambut ramah Mel Young.

Di sana, kehangatan juga dirasakan tim bersama warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Meksiko. Mereka pernah mengirimkan makanan dan tim justru mengajak mereka untuk botram alias makan bareng.

"Jadi kita makan dibawah tiang bendera Meksiko. Kita sampai dilihatin orang-orang di sana," ucap Yana.

Dalam pertandingan, dua pemain Indonesia juga mendapat hadiah langka berupa peluit limited edition dari wasit yang hanya dipakai di ajang HWC 2018. Mereka yang beruntung mendapatkannya adalah Eva Dewi dan Samsul Rizal.

"Peluit itu diberikan wasit kepada pemain yang berperilaku baik dalam pertandingan. Tapi tidak dalam setiap kesempatan wasit memberikan peluit," jelas Yana.

Hal lain yang juga menarik adalah dominasi bahasa isyarat saat berkomunikasi dengan tim dari negara lain. Itu karena tim Indonesia dan tim negara lain terkendala minimnya penguasaan bahasa Inggris.

Tapi, ada satu hal yang menjadi ciri khas Indonesia. Anggota tim selalu mengedepankan keramahan di dalam dan di luar lapangan. "Kita banyak senyum ke orang-orang di sana. Kita juga selalu bilang hola (sapaan halo di Meksiko). tapi kita lebih sering pakai bahasa isyarat," papar kapten Timnas Indonesia Dego Arifin.

Dari secara keseluruhan perjalanan Indonesia, diraihnya Piala Fair Play menjadi hal yang paling memuaskan. Sebab, itu merupakan penghargaan istimewa di ajang HWC yang belum pernah diterima Indonesia sebelumnya.

"Kita juga tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan ini. Setelah kita baca literaturnya FIFA, ternyata untuk dapat piala itu ada banyak acuannya. Tidak hanya di dalam lapangan, di luar lapangan juga mendapatkan penilaian," kata Yana.

Kini, secara resmi Timnas Indonesia pun dibubarkan per hari ini. Para pemain dan seluruh anggota tim akan kembali ke tempat asal masing-masing.

Harapan besarnya, mereka akan menjadi pejuang untuk mengkampanyekan 'Indonesia Tanpa Stigma' dan melakukan berbagai hal positif lainnya. Terima kasih Timnas Indonesia!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler