Cerita Kelam Bandung yang Menginspirasi Lahirnya 'Kangpisman'

Bandung - Pemkot Bandung saat ini terus menggencarkan program 'Kangpisman' yang merupakan singkatan dari kurangi, pisahkan, dan manfaatkan sampah. Sosialisasi terus dilakukan ke berbagai wilayah di Kota Bandung agar semakin banyak warga aktif mengikuti program itu.

Wali Kota Bandung Oded M Danial mengungkap cerita kelam di Kota Bandung yang pernah jadi lautan sampah pada 2015 lalu. Saat itu, sampah bertebaran di berbagai titik di Kota Bandung sehingga mendadak mendapat julukan 'Bandung Lautan Sampah'.

Kondisi itu terjadi akibat TPA Leuwigajah di Cimahi longsor. Sehingga, pembuangan sampah dari Kota Bandung ke sana terhambat. "Saya waktu itu masih menjadi anggota DPRD Kota Bandung," ujar Oded di Kota Bandung, Kamis (13/12/2018).

Saat itu, bersama Wali Kota Bandung Dada Rosada, ia sering berkeliling ke berbagai wilayah. Berbagai solusi pun dipikirkan agar saat itu permasalahan sampah bisa diselesaikan.

Kini, di era kepemimpinan Oded sebagai orang nomor satu di Kota Bandung, sampah menjadi salah satu hal yang diprioritaskan penanganannya. Sebab, ia tidak ingin julukan 'Bandung Lautan Sampah' kembali disematkan kepada Kota Bandung.

Julukan itu bisa saja kembali diberikan kepada Kota Bandung jika tidak mampu mengatasi persoalan sampah. Sebab, TPA Sarimukti, tempat sampah dari Kota Bandung dibuang, pada 2020 mendatang akan ditutup. Itu karena kapasitasnya sudah sangat penuh.


TPA Legoknangka yang rencananya akan menjadi tempat pembuangan sampah dari Kota Bandung pun belum terealisasi hingga kini."Kita bisa bayangkan kalau kontrak Sarimukti selesai, tidak bisa nampung sampah lagi di sana, sedangkan solusi lain belum ada. Naudzubillahimindalik, saya khawatir terjadi lagi Bandung Lautan Sampah," tutur Oded.

Atas dasar itu, 'Kangpisman' sangat digencarkan. Harapan besarnya, produksi sampah di Kota Bandung bisa berkurang signifikan.

Saat ini, produksi sampah di Kota Bandung mencapai 1.500 ton per hari. Melalui program 'Kangpisman', produksi sampah diharapkan akan berkurang 50 persen dalam kurun dua hingga tiga tahun mendatang.

"Konon katanya kalau sehari sampah 1.500 ton ini dihamparkan di lapangan sepakbola skala internasional, kalau dihamparkan secara merata, tumpukannya bisa mencapai 75 sentimeter. Bayangkan, itu per hari. Bayangkan kalau seminggu, dua minggu," jelas Oded.

Melalui sosialisasi 'Kangpisman' yang digencarkan, warga Kota Bandung diharapkan semakin sadar dan peduli persoalan sampah. Sebab, urusan sampah tidak bisa diatasi hanya oleh Pemkot Bandung. Perlu keterlibatan berbagai elemen di dalamnya, khususnya masyarakat.

Hasil positif pun sudah terlihat. Warga kini sudah mulai banyak yang memilah sampah organik dan anorganik. Bahkan, ada yang mengolahnya menjadi kompos, produk kerajinan tangan, dan pemanfaatan lainnya.

"Alhamdulillah sampai hari ini sangat menggembirakan bagi kami. Saya hampir setiap hari turun ke masyarakat melakukan edukasi. Alhamdulillah respon dari masyarakat luar biasa," jelas Oded. Tapi, ia belum puas dengan pencapaian sekarang. Sehingga, 'Kangpisman' harus terus disosialisaikan.

Di luar itu, Pemkot Bandung juga melakukan berbagai langkah lain, mulai dari mendirikan banyak bank sampah, berencana menambah mesin pencacah sampah plastik, hingga merancang aturan pengurangan penggunaan kantong plastik.

Nah, bagi warga Kota Bandung, yuk ikuti program 'Kangpisman'! Semua harus memiliki kesadaran bersama agar julukan 'Bandung Lautan Sampah' tidak lagi muncul.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler