Cerita Peneliti ITB Saat Temukan Lukisan Dinding Tertua di Kaltim

Bandung - Lukisan cap tangan dinding gua (rock art) tertua di dunia berhasil ditemukan di pengunungan Karst, Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Salah satu peneliti yang terlibat dalam penemuan tersebut adalah Dr. Pindi Setiawan M.Si., dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Melansir dari laman itb.ac.id, penelitian lukisan cap tangan tersebut sebetulnya sudah dilakukan sejak tahun 1995 sampai 2014 dan telah ditemukan 2.000 gambar di lokasi tersebut. Kalimantan dulunya tidak dikenal memiliki gambar pra sejarah dan cap tangan adalah salah satu indikasi utama gambar yang tua.

"Lukisan gua tersebut diprediksi berusia 40.000 ribu tahun sampai 35.000 tahun. Awalnya ada informasi yang sampai kepada saya, baru sejak 1995 itulah nyaris setiap tahun saya bersama tim peneliti lain survei ke gua-gua mencari cap tangan," jelas Pindi.

Banyak tantangan mereka jumpai ketika melakukan penelitian di lokasi, seperti hutan yang lebat dan pegunungan yang tinggi. Selain itu, letak gua yang akan dituju berada di tempat yang tinggi. Hambatan ini membuat jumlah lukisan cap tangan yang ditemukan hanya di 50 gua saja, padahal ada sekitar 500 gua ditemukan di Karst Sangkulirang.

Baca Ini Juga Yuk: Wah! Lukisan Dinding Tertua di Dunia Ternyata Ada di Indonesia

Beberapa gambar unik pun ditemukan di Maros, Sulawesi dan Sangkulirang, Kalimantan, gambar tersebut menunjukkan kalau bukan orang Austronesia yang menggambar. Hal itu dibuktikan dengan gambar binatang tapir. Binatang ini diketahui punah 6.000 tahun lalu di Indonesia.

"Rasanya orang kalau menggambar tapir harus pernah melihat hewannya kan, karena imaji itu adalah imaji yang seperti dilihat, jadi menggambarkan apa yang dilihat, bukan menggambarkan apa yang dipikirkan," ungkap Pindi.

Ditemukan juga gambar trenggiling namun dengan bentuk berbeda dan ukuran raksasa. Ternyata hewan tersebut adalah trenggiling raksasa yang sudah punah di Indonesia sekitar 30.000 tahun lalu. Maka, secara analisis gambar, dia (orang yang membuat cap tangan) diperkirakan hidup 30.000 -35.000 tahun yang lalu.

Pindi juga menemukan gambar alat berburu pelontar tombak yang hanya bisa dipakai di ruang terbuka atau savana. Seperti diketahui, Kalimantan memiliki hutan tropis, namun alat tersebut bisa digambarkan."Apakah dia bertualang ke daerah Savana? Ternyata menurut sejarah Geologi, hutan tropis baru ada di pesisir Kalimantan Timur 8.000 tahun lalu. Berarti alat itu dipakai oleh orang-orang ketika Kalimantan masih savana," kata dosen pada Kelompok Keahlian Komunikasi Visual dan Multimedia ini.

Penemuan tersebut berhasil diidentifikasi oleh tim peneliti ITB, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Universitas Griffith Australia. Hasil penemuan tersebut juga telah dipublikasikan di jurnal Nature edisi November 2018. Dengan penulis Pindi Setiawan dari ITB, Maxime Aubert dari Universitas Graffith, dan Adhi Agus Octaviana dari Puslit Arkenas.

Makna Gambar
Secara umum, dapat dijumpai lukisan cap tangan atau rock art orang zaman dahulu di seluruh dunia. Cap tangan ini bisa bermakna pernyataan kehadiran diri sendiri, bahwa mereka (orang-orang zaman dulu) pernah berada di tempat tersebut."Kalau teori sosial perburuan, itu menunjukkan pernyataan naik kelas. Tadinya orang biasa sekarang jadi pemburu utama, dulunya remaja sekarang dewasa," tambah Pindi.

Biasanya obyek yang digambar adalah mamalia besar, seperti gajah, harimau banteng, rusa dan trenggiling. Pada gambar di Kalimantan, ditemukan hewan trenggiling, rusa, banteng dan babi hutan. Sementara di Karst Maros, Sulawesi banyak ditemukan gambar anoa dan babi hutan.

Selain menggambar binatang mereka juga menggambar antropoda (hewan berkaki banyak) seperti lintah, dan kaki seribu. “Gambar antropoda menurut saya hanya di Sangkurilang. Kemudian mereka juga menggambar daun, daun ini juga tampaknya cuman di Sangkurilang. Ciri khas yang penting adalah adanya kadal,” tuturnya.

Pindi juga menjelaskan kalau diperlukan kolaborasi antar disiplin ilmu untuk meneliti, seperti Geologi, Geochemical, Kimia, Fisika, dan Geodesi. "Untuk mendapatkan penemuan yang baik harus kolaborasi. Penelitian yang melibatkan antar keilmuan bisa membuat kita melompat jauh ke depan. Dengan sendirinya bangsa kita yang diuntungkan bahkan umat manusia," pesannya.

Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat rencananya akan diajukan sebagai Warisan Dunia oleh Unesco. Namun sebelumnya, perlu ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Nasional oleh Indonesia. Konservasi cagar budaya sangat perlu dilakukan karena dikhawatirkan terjadi kerusakan dan tidak terjaga dengan baik, apalagi lukisan cap tangan sangatlah mudah rusak karena usianya sangat tua.

Foto: Humas ITB




Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler