Memetik Pelajaran dari Anak yang Tersedak Peluit Sepatu

Bandung - Beberapa hari ini di berbagai media ramai memberitakan anak bernama Asep Yaya (9) yang menelan peluit. Warga Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat itu sering 'berbunyi' saat bernapas.

Tapi, peluit itu bukan peluit yang biasa dipakai oleh juru parkir atau wasit dalam sebuah pertandingan olahraga. Peluit itu adalah peluit sepatu yang biasanya membuat sepatu bayi atau anak-ana berbunyi saat digunakan melangkah.

Ukurannya juga tergolong kecil dan hanya memiliki panjang sekitar 2 sentimeter. Sang bocah itu pun dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung sejak Rabu (19/12/2018) siang.

Hari ini, sekitar pukul 08.00 WIB, tim dokter RSHS melakukan tindakan operasi terhadap Asep Yaya. Kurang dari satu jam, operasi tuntas dilakukan.

"Tidak ada sayatan, peluitnya diambil melalui endoskopi," kata Kepala KSM Ilmu Kesehatan THT-KL RSHS Lina Lasminingrum.

Teknik endoskopi itu dilakukan dengan cara memasukkan alat penjepit khusus melalui enggorokan. Peluit kemudian dikeluarkan setelah ditemukan 'terjebak' di saluran utama pernapasan, tepatnya di bronkus kiri.

"Saat di-rontgen peluitnya tidak terlihat karena terbuat plastik. Tapi untungnya ini peluit, ada bunyinya (saat pasien bernapas), sehingga itu memberikan arahan kepada kita (tim dokter untuk menemukan) peluitnya ada di mana," jelas Lina.

Yang menarik, peluit sepatu itu berada di area saluran pernapasan sekitar dua bulan. Tapi, tidak ada dampak signifikan terhadap kesehatan sang anak.

"Ini karena peluitnya kecil, jadi tidak menutup saluran napas secara penuh. Kalau peluitnya menutup saluran napas (secara penuh), mungkin akan terjadi masalah di paru-paru," ucapnya.

Setelah proses operasi selesai, Asep membutuhkan waktu untuk diobservasi selama dua jam. Setelah itu, ia akan masuk ke ruang perawatan. Jika kondisinya baik, besok sudah diperbolehkan pulang. Sementara untuk biaya, pasien ditanggung pemerintah melalui layanan BPJS Kesehatan.

Sobandi (49), orangtua Asep, mengatakan saat kejadian anaknya sedang bermain dengan saudaranya. Saudaranya itu lalu meminta digendong dari belakang. Di saat yang sama, Asep meniup peluitnya.

"Waktu digendong itu jatuh, peluitnya ketelan (tersedak)," ujar Sobandi. 

Asep sempat ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit terdekat. Tapi, pihak puskesmas dan rumah sakit tidak sanggup mengeluarkan peluit sepatu itu.

Sang bocah akhirnya dibiarkan dengan kondisi peluit sepatu berada di saluran pernapasan selama dua bulan. Tidak punya biaya menjadi alasan Sobandi tidak membawa sang anak untuk berobat.

Dalam dua bulan itu, Asep pun minder untuk bersekolah karena sering diledek teman-temannya. Sebab, Asep sering 'berbunyi' saat bernapas meski tidak mengganggu kesehatannya.

Sobandi lalu mengurus persyaratan untuk membuat kartu BPJS Kesehatan. Akhirnya, sang anak dibawa ke RSHS dan berhasil ditangani. "Mudah-mudahan sehat dan anak saya sekarang mau sekolah lagi. Mohon doanya saja dari semuanya," tutur Sobandi.

Berkaca dari kasus itu, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, terutama bagi para orangtua. Jangan biarkan anak bermain dengan benda-benda sepele di mulutnya yang justru sangat berbahaya jika tersedak atau tertelan.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler