Tahu Enggak? PDAM Kota Bandung Ternyata Kelola Air Limbah Juga

Bandung - Selain mengolah air untuk konsumsi, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung ternyata mengelola air limbah. Loh, kok bisa? Yuk, kita cari tahu!

Bagi banyak orang, air limbah memang tidak dipikirkan secara matang. Tapi, ketika air limbah tidak diolah, justru akan berdampak negatif terhadap lingkungan, khususnya air tanah dan sungai.

Air limbah biasanya dibuang ke sungai yang berdampak langsung pada kualitas air sungai. Selain itu, air limbah juga sering dibuang warga ke tanah yang akhirnya meresap. Hal itu akan berpengaruh pada kualitas air tanah di lokasi sekitar.

"Kalau (air limbah) dibiarkan tidak diolah, pasti akan terjadi pencemaran yang sangat luar biasa. Dampaknya pasti akan berkaitan langsung dengan tingkat kesehatan masyarakat," kata Direktur Air Limbah PDAM Tirtawening Novera Deliyasma.

Karena itu, sejak 1988, PDAM Tirtawening mengolah air limbah yang berasal dari permukiman warga. Di bawah tanah dipasang jaringan pipa yang berujung ke tempat pengolahan air limbah milik PDAM Tirtawening seluas 85 hektare di kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Air limbah itu berasal dari saluran pembuangan di rumah warga, kloset, dan saluran lainnya. Saluran itu juga ada di bangunan lain, di antaranya hotel dan restoran. Air limbah yang mengalir itu berupa air sisa mencuci pakaian, perabotan, hingga kotoran.

"Air limbah ini adalah yang timbul akibat aktivitas kehidupan sehari-hari, tapi tidak termasuk air hujan dan limbah industri. Kita hanya mengolah limbah domestik," jelas Novera.


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bojongsoang itu memiliki kapasitas hingga 80 ribu meter kubik. Ada berbagai proses yang dilakukan hingga akhirnya air akan dibuang ke Anak Sungai Citarum.

Tenang, air yang dibuang itu sudah dinyatakan aman dan tidak akan membuat sungai menjadi tercemar. Jadi, kalaupun Sungai Citarum tercemar, itu bukan akibat pembuangan air limbah yang diolah PDAM.

"Kualitas air yang sudah diolah itu sudah memenuhi baku mutu untuk air yang boleh dibuang ke badan air," ucap Novera.

Secara keseluruhan, total pipa saluran air limbah itu panjangnya mencapai 565 kilometer. Saluran pipa itu tertanam satu hingga tiga meter di bawah tanah di berbagai wilayah di Kota Bandung.

Bagi pelanggan PDAM yang terpasang pipa saluran air limbah, ada biaya bulanan yang dikenakan. Biayanya 30 persen dari tarif air PDAM. Tapi, untuk niaga, tarifnya berbeda. Biaya itu kemudian dipakai untuk mengolah air limbah agar aman saat dibuang.

Sedangkan bagi yang bukan pelanggan PDAM tapi di area rumahnya terdapat pipa saluran air limbah, PDAM tidak membebankan biaya. Secara keseluruhan, ada sekitar 20-25 persen bangunan di Kota Bandung yang terdapat pipa saluran air limbah tersebut.

Ada kendala yang dihadapi dalam pengolahan air limbah itu. Sebab, saluran sering tersumbat akibat banyak benda yang dibuang ke saluran pembuangan oleh warga atau pemilik bangunan, salah satunya plastik.

Benda-benda seperti itu justru akan tersumbat di titik tertentu. Sehingga, aliran air limbah tidak akan lancar. Sementara untuk mengalirkan air limbah hingga ke IPAL, PDAM mengandalkan gaya gravitasi alias tidak menggunakan pompa untuk mendorong air.

Novera pun mengimbau masyarakat agar tidak membuang sembarangan sisa makanan atau benda ke saluran pembuangan. Sebab, saat tersumbat, petugas cukup kesulitan untuk mengatasinya.

"Kita mengharapkan kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga dan memelihara kelancaran saluran pembuangan air limbah, minimal di tempat tinggal masing-masing. Jangan membuang sesuatu sembarangan ke saluran pembuangan," imbaunya.

Ia juga meminta kerjasama dari warga untuk tidak mendirikan bangunan di atas branghang atau lahan sempit di antara bangunan satu dan lainnya. Sebab, di sana biasanya terdapat pipa saluran air limbah. Jika terdapat bangunan di atas branghang, hal itu akan menyulitkan proses pemeliharaan saluran air limbah.

Novera juga meminta pengertian warga jika akan membangun jaringan pipa saluran air limbah. Sebab, kadang ada yang menolak area sekitar rumahnya dipasang saluran itu dengan alasan tidak mau terganggu dan lingkungannya kotor sementara akibat penggalian tanah.

"Kita butuh pengertian warga supaya bersedia dulu terganggu untuk beberapa saat. Biasanya pemasangan pipa saluran air limbah itu antara seminggu sampai dua minggu," pungkas Novera.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler