Pesan Buat Milenial dari Rahmat, Pendiri LegalGo

Surabaya - Pada era modern seperti sekarang ini, siapa sih, yang enggak kenal dengan istilah milenial? Istilah milenial kini mulai sering digaungkan di berbagai kalangan, baik oleh yang tua atau muda. Istilah ini seringkali dikatkan dengan anak-anak muda yang gemar berlama-lama berselancar di dunia maya, khususnya media sosial. Kemudian dari sana lah muncul sebuah frasa ”generasi milenial”. Ada apa sih, sebenarnya dengan milenial?

Rahmat Dwi Putranto, founder sekaligus CEO dari startup di bidang hukum LegalGo, dalam seminar yang disampaikan di International Scholarship Festival, Surabaya beberapa waktu lalu ia berkomentar tentang bagaimana menjadi seorang milenial yang produktif dan berprestasi.

Rahmat yang juga merupakan Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM ini menyampaikan agar para milenial berhenti untuk mengeluhkan kehidupan saat ini maupun masa depan. “Setiap orang punya proses dan timezone-nya masing-masing, stop looking at your friends life, stop membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dengan begitu kita bisa stand above the crowd dan menjadi seorang milenial yang berbeda,” ungkapnya.

Rahmat membagi jenis milenial menjadi dua, yakni tipe generalis dan tipe spesialis. Menurutnya orang-orang spesialis itu sudah tahu jalan hidupnya, jadi dia akan menekuni bidang yang sudah ia yakini. “Sedangkan untuk orang-orang generalis, mereka akan mengerjakan segala hal yang dianggap mampu, sehingga lebih fleksibel saat bekerja. Jadi, jangan takut jika belum punya tujuan yang jelas seperti orang lain, karena orang-orang generalis justru mampu mengkombinasikan pekerjaan-pekerjaan penting dan membentuk sebuah tim yang mampu bersinergi dengan lebih baik,” tutur pria kelahiran 1993 ini.

Baca Ini Juga Yuk: Sukses Jadi CEO 'Top Karir', Bayu Janitra Gali Potensi Milenial

Menurut Rahmat ada tiga hal yang perlu dimiliki bagi seorang milenial untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik, yaitu signal, leader, dan legacy. Signal adalah tanda-tanda, ide, atau ciri khas apa yang membuat kita berbeda dengan orang lain. Lalu, leader adalah semangat untuk menjadi seorang pemimpin yang dimulai dari diri sendiri, agar bisa menjadi panutan bagi orang lain. Sedangkan legacy adalah warisan atau karya-karya apa yang bisa diberikan untuk orang lain.

Lebih lanjut, Rahmat juga mengungkapkan bahwa penyakit dari kebanyakan milenial adalah hanya mengejar passion tapi tidak bergerak ke mana-mana. “Mengapa tidak memberi ruang yang lebih besar untuk bergerak? Terkadang itu lah kesalahan yang kita miliki,” jelasnya.

Rahmat kemudian berpesan agar milenial tidak hanya bisa bicara saja, tapi juga bisa melakukan hal-hal lainnya. “At the end of the day, it’s all about doing, it’s about execution. Percuma kalau kita hanya bisa bicara atau ngomong doang. Ide itu murah, yang mahal adalah eksekusinya. Nothing in life comes easy, so why do you expect something out of a quote?,” pesan Rahmat.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler