Beragam Solusi Peneliti LIPI untuk 'Sembuhkan' Sungai Citarum

Bandung - TemanBaik sudah tahu jika Sungai Citarum di Jawa Barat merupakan salah satu sungai paling tercemar di dunia? Berbagai penanganan pun sudah dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak. Tapi, Sungai Citarum belum kunjung 'sembuh'.

Para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun ternyata memiliki perhatian terhadap Sungai Citarum. Mereka melakukan beragam penelitian hingga menciptakan alat. Tujuannya untuk membantu menangani Sungai Citarum yang sudah begitu tercemar.

Salah satunya adalah menciptakan toilet ramah lingkungan. Bentuknya berupa kloset duduk. Dengan alat itu, kotoran manusia akan terpisahkan antara kotoran padat dan cair. Selain dipisahkan, kotoran itu nantinya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Untuk menampung kotoran padat, di bagian bawahnya terdapat semacam kotak penampungan yang sudah berisi serbuk kayu atau sekam.

Pada bagian kanannya terdapat semacam tuas yang berfungsi mencampurkan kotoran pada dengan serbuk kayu atau sekam. Sedangkan pada bagian depan terdapat penampungan khusus untuk kotoran cair atau urine.

"Toilet ini prinsipnya kayak blackbox. Jangan berpikir seperti WC biasa yang ada saluran air dan lain-lain. Jadi ini (kotorannya) enggak ke mana-mana," ujar Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI Neni Sintawardani di sela kegiatan Media Touring di Kantor LIPI, Kota Bandung, Senin (25/3/2019).

Jika teknologi toilet itu digunakan untuk warga yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum dari Kabupaten Bandung hingga Kabupaten Karawang, itu dirasa akan cukup efektif. Sebab, kotoran manusia tidak akan lagi dibuang melalui saluran ke Sungai Citarum.

Dengan begitu, salah satu penyebab yang membuat Sungai Citarum tercemar akan bisa teratasi. Di sisi lain, ada juga beragam penelitian lain yang dilakukan. Apa saja?

Baca Ini Juga Yuk: Ini 12 Jurus Ridwan Kamil Atasi Banjir Citarum di Bandung Raya

Saat ini, peneliti LIPI sedang mengembangkan plastik ramah lingkungan berbahan dasar singkong. Plastik itu mudah terurai secara alami. Bahkan, dalam kurun satu bulan, plastik itu akan habis terurai. Itu berbeda dengan plastik konvensional yang butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun agar bisa terurai. Apalagi, plastik juga cukup banyak ditemukan di Sungai Citarum.

Permasalahannya, biaya produksi plastik itu tergolong mahal. Untuk harga kantong plastik misalnya, harga jualnya hanya di kisaran Rp 150-200 per lembar. Sedangkan plastik berbahan singkong harga jualnya bisa mencapai Rp 1.000. "Tapi kalau volume produksinya banyak, kita harapkan harganya nanti akan mendekati harga plastik konvensional," jelas peneliti LPTB LIPI Hanif Dawam Abdullah.

Jika plastik yang disebut bioplastik itu diproduksi massal dan digunakan masyarakat luas, manfaatnya dirasa akan sangat besar. Di saat yang sama, kehadiran bioplastik itu juga diharapkan tidak lagi jadi penyebab kotor dan tercemarnya Sungai Citarum.

Di luar itu, ada beberapa teknologi lain yang dikembangkan peneliti LIPI. Salah satunya mengembangkan pengolahan limbah tahu menjadi biogas. Limbah tahu sendiri berperan dalam pencemaran Sungai Citarum. Meski rata-rata air limbah dari pabrik tahu dibuang ke sungai lain, ujung-ujungnya akan masuk juga ke Sungai Citarum.

Penelitian lain yang dikembangkan yaitu pengolahan limbah kotoran ternak menjadi biogas dan pupuk. Ada juga penelitian untuk memonitoring kualitas air Sungai Citarum berbasis green analytical chemistry (GAC). Monitoring itu akan mampu mengukur analisis residu pestisida, polutan logam, serta sensor kimia. Hal itu akan jadi salah satu acuan untuk mengatasi Sungai Citarum secara lebih komprehensif.

Tapi, berbagai penelitian itu perlu tindak lanjut dari pemerintah. Sebab, LIPI hanya sebatas punya kewenangan untuk melakukan penelitian. Sedangkan untuk produksi teknologi atau peralatannya, itu merupakan ranah pihak lain, khususnya pemerintah.

Meski begitu, berbagai penelitian itu sudah disampaikan kepada berbagai pihak terkait. Harapannya, hasil penelitian para peneliti LIPI bisa dipakai dan dikembangkan oleh pemerintah serta berbagai pihak lain. Sehingga, mimpi melihat Sungai Citarum kembali bersih bisa diwujudkan.


Foto: Oris Riswan Budiana

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler