Kilas Sejarah Film Nasional, Ternyata Bandung Cikal Bakalnya Loh

Bandung - Anak milenial masih sedikit yang tahu, kalau Bandung  enggak terlepas dari bagian tonggak sejarah perfilman Indonesia loh. Tepatnya di tahun 1926, film Loetoeng Kasarung menjadi legenda pertama yang difilmkan bangsa Belanda dan Bupati Bandung pada masa itu RAA Wiranatakusumah IV.

Tapi di tahun 1950, 'Darah dan Doa' disebut sebagai film pertama yang dibuat oleh bangsa pribumi. Film yang mengisahkan pasukan Siliwangi tersebut, juga pertama kali dibuat di Bandung. 

"Di Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, para sineas memang selalu menguak lagi sisi historikal Bandung sebagai cikal bakal dari lahirnya perfilman Indonesia. Jadi sejak zaman dulu, orang Bandung memang pionir dalam urusan kreativitas," ujar Sutradara dan Penulis Skenario ternama Eddy D Iskandar kepada BeritaBaik.

Tanggal 30 Maret adalah pengambilan gambar pertama film 'Darah dan Doa' dan kemudian dijadikan Hari Film Nasional. Tak berhenti di 'Darah dan Doa', semangat berkesenian para kreator film di Bandung juga enggak pernah surut loh. Eddy menyebutkan, di era 60 -an sempat diproduksi juga film sejarah Toha Pahlawan Bandung Selatan. 


Bahkan di era 90-an, legenda rakyat 'Si Kabayan Saba Kota' juga sukses menyedot perhatian publik. Film produksi Kharisma Jabar Film ini dapat animo luar biasa enggak hanya dari masyarakat Jawa Barat loh, bahkan buat mereka yang enggak mengerti Bahasa Sunda pun turut mengapresiasinya.

"Kalau melihat trennya, setiap film yang prestisius di Bandung memang selalu didukung para sineas lokal dan juga pemerintahan mulai dari Bupati Bandung di era kolonial Belanda, Wali Kota hingga Gubernur juga selalu memberikan kontribusi di dunia film. Ini satu nilai plus dari Bandung," ungkapnya.

Ia juga berharap, para pelaku film di era milenial lebih fokus mengangkat sisi lokalitas dari berbagai daerah. Ia mencontohkan, di tatar Sunda saja banyak cerita rakyat yang layak untuk difilmkan. Sebut saja 'Eulis Acih' yang dibuat novelnya 1920, 'Karnadi Anemer Bangkong' dan sederet judul lain yang termuat di novel era lama.

"Para sineas muda harus berani mengangkat lokalitas dari Indonesia, karena sisi ini yang akan memberikan warna baru di wajah perfilman tanah air. Saya optimistis, saat kekuatan lokalitas banyak diangkat menjadi film, akan banyak pesan positif ke masyarakat," pungkasnya.

Bagaimana dengan perfilman Indonesia di masa modern?  Menurut Eddy genre cerita yang ada sudah semakin beragam. Bahkan enggak sedikit juga yang berhasil mencatat sejarah baru di kancah layar lebar.

"Kembali pada dayadukung di era modern, film zaman sekarang sudah demikian beragam genrenya karena adanya bantuan teknologi dan trik promosi. Jadi ketika Warkop DKI reborn ditonton 6 juta lebih itu hal yang wajar. Begitupun dengan Dilan 1991 yang meraih 5 juta penonton hanya dalam sebulan saja. Semua karena support yang tinggi," pungkasnya.

Foto: wikipedia/istimewa

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler