4 Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Daerah Indonesia

Bandung - Indonesia merupakan negara besar dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Nah, Idulfitri menjadi salah satu perayaan keagamaan yang cukup besar di Indonesia. Adapun masyarakat Indonesia sendiri memiliki berbagai tradisi dalam merayakan Idulfitri, bahkan di setiap daerah rupanya punya cara dan tradisi khusus loh dalam merayakan hari kemenangan ini.

Berikut ini perayaan-perayaan yang biasa dilakukan di beberapa kota di Indonesia yang bisa TemanBaik ketahui: 

Pasuruan

Pasuruan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cara unik dalam merayakan lebaran. Salah satunya terdapat di Desa Lekok, Pasuruan, Jawa Timur. Warganya kerap bermain Ski Lot atau seluncur lumpur dalam merayakan hari kemenangan. Seluncur lumpur ini merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat sekitar pesisir laut dalam rangka menyambut hari raya lebaran.

Magelang

Warga di Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah biasanya menggelar tradisi Grebeg Kupat. Grebeg Kupat ini rutin dilaksanakan oleh warga setempat dalam rangka perayaan Idulfitri. Hal ini juga dilakukan sebagai simbol untuk saling memaafkan antarwarga dan masyarakat sekitar.

Tidak hanya itu, para remaja di daerah Payaman, Magelang juga turut merayakan Idulfitri dengan cara yang unik pula. Tradisi tersebut disebut sebagai Seribu Balon Swalayan, setidaknya ada 600 rebih balon yang biasa diterbangkan oleh warga setempat setiap hari kedelapan Idulfitri sebagai ungkapan kegembiraan seusai lebaran.

Sulawesi Tengah

Masyarakat Kampung Baru, Sulawesi Tengah memiliki tradisi lebaran bernama Mandura. Warga sekitar akan berpakaian adat suku Kaili, kemudian melakukan cabeu-beu atau mengusung mandura (beras ketan dibungkus daun pisang) pada saat tradisi lebaran mandura. Tradisi ini gunanya untuk menjalin silaturahmi, dan telah dilaksanakan sejak abad ke-18 oleh masyarakat kampung tersebut.

Semarang

Warga daerah di Desa Kandri, Gunungpati, Semarang berbondong-bondong memikul replica kayu jati saat ritual Sesaji Rewanda. Tradisi ini digelar setiap awal bulan Syawal setelah lebaran, yang bertujuan untuk napak tilas terhadap Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati yang akan digunakan untuk pembangunan Masjid Agung Demak.


Foto: istimewa


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler