Mengupas Homeless World Cup, Sejarah Hingga Cara Gabung Timnasnya

Homeless World Cup (HWC) 2019 akan segera bergulir. Tahun ini, pelaksanaan HWC digelar di Cardiff, Wales, pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2019. Tapi, TemanBaik sudah tahu belum sih apa itu HWC? Jika belum, yuk simak ulasannya!

Singkatnya, HWC adalah sebuah turnamen sepakbola yang mempertemukan Timnas dari berbagai negara. Sepintas, turnamen ini seperti Piala Dunia. Bedanya adalah dari segi permainan dan latar belakang pemain.

HWC lebih fokus pada permainan street soccer atau sepakbola jalanan. Sederhananya, street soccer ini merupakan permainan sepakbola mini. Satu tim hanya diisi maksimal delapan orang. Tapi saat permainan berlangsung, hanya empat pemain yang ada di lapangan, sisanya bisa masuk bergantian.

Pertandingan berlangsung dua babak dengan masing-masing babak berdurasi tujuh menit. Sedangkan jeda antara babak pertama dan kedua adalah satu menit. Pemenang pertandingan akan mendapat tiga poin, jika kalah sama sekali tidak mendapatkan poin.

Jika laga berakhir imbang, maka akan dilanjutkan dengan adu penalti. Tim pemenang dalam adu penalti akan mendapat dua poin, sedangkan yang kalah satu poin. Sementara satu tim bisa diisi oleh laki-laki atau perempuan semua. Bisa juga satu tim dicampur berisi laki-laki dan perempuan.

Sejak kapan HWC berlangsung?
Pertama kali HWC digelar adalah pada 2003 lalu di Graz, Austria. Ide digelarnya HWC datang dari dua orang berlatar belakang jurnalis, yaitu Mel Young (Skotlandia) dan Harald Schmeid pada 2001.

Tapi, butuh waktu bagi keduanya untuk mewujudkan mimpi menggelar HWC. Sehingga, baru pada 2003 HWC bisa benar-benar digelar. Tujuan besarnya adalah memberi kesempatan bagi orang-orang termarjinalkan untuk membela negara melalui ajang sepakbola.

HWC diharapkan jadi titik balik mereka untuk berubah menjadi pribadi yang lebih positif. Intinya, prestasi bukan jadi tujuan utama di ajang itu. Tapi, perubahan para pemainnya jadi misi utama.

HWC pun semakin berkembang. Dari tahun ke tahun, jumlah pesertanya semakin banyak. Itu karena gaung HWC semakin mendunia. Sehingga, banyak yang tertarik untuk mengikuti ajang tersebut.

Apa sih syarat menjadi pemain HWC?
Tidak semua orang punya kesempatan menjadi pemain dan tampil di HWC. Hanya orang tertentu yang bisa bermain. Itu pun hanya sekali seumur hidup. Artinya, jika pernah bermain di HWC, sang pemain tidak punya kesempatan lagi untuk tampil di ajang serupa.

Latar belakang pemain yang bisa tampil di ajang HWC adalah kaum termarjinalkan, mulai dari tunawisma, pecandu narkoba atau alkohol, warga miskin, hingga ODHA. HWC jadi pembuktian bagi para pemain bahwa mereka bisa melakukan sesuatu, bahkan membela negara sendiri meski di negaranya justru termarjinalkan.

Dalam hal yang lebih luas, setelah tampil di HWC, para pemain diharapkan jadi agen perubahan. Mereka diharapkan menularkan semangat positif kepada orang lain, terutama orang-orang termarjinalkan. Sehingga, mereka juga turut berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Setiap negara pun punya cara tersendiri untuk melakukan seleksi terhadap pemainnya. Seleksi biasanya dilakukan oleh masing-masing national organizing HWC yang sudah ditunjuk.

Di Indonesia, seleksi pemain dan pembentukan Timnas dilakukan oleh Rumah Cemara, sebuah organisasi komunitas yang fokus pada isu HIV/AIDS dan pecandu narkoba. Berbagai cara pernah dilakukan, mulai dari seleksi tertutup hingga terbuka dengan menggelar turnamen.

Untuk tahun ini, Rumah Cemara lebih memilih seleksi pemain secara tertutup. Mereka yang ikut seleksi hanyalah pemain yang diundang. Hasilnya, delapan pemain terpilih diberi kesempatan untuk tampil di HWC.

Seleksi pemain sengaja dilakukan tertutup agar pemilihan pemain lebih selektif. Sebab, Rumah Cemara ingin mengembalikan marwah keikutsertaan Indonesia di ajang HWC. Sehingga, delapan pemain yang terpilih adalah pemain dengan latar belakang kuat, mulai dari ODHA, mantan pecandu narkoba, hingga isu kesetaraan gender.

Sebelumnya, keikutsertaan Indonesia di ajang HWC sempat terjebak pada rivalitas perburuan prestasi. Tapi, tahun ini tidak ada target prestasi yang dikejar. Yang ingin dikejar adalah perubahan positif para pemain agar bisa menularkannya pada orang lain.

"Tahun ini kita ingin fokus mengembalikan nilai-nilai HWC ke asalnya. Artinya, memang yang diberikan kesempatan menjadi pemain benar-benar orang yang layak diberi kesempatan sekali seumur hidup itu," kata Direktur Eksekutif Rumah Cemara Aditia Taslim.

Sejarah Indonesia di HWC
Meski HWC sudah digelar sejak 2003, Indonesia baru pertama kali tampil di ajang tersebut pada 2011. Sejak pertama kali tampil, Indonesia cukup sering menuai prestasi manis meski tidak pernah jadi juara. Bahkan, Indonesia sering ditempatkan menjadi tim unggulan juara.

Pada 2011, Indonesia menempati peringkat keenam dunia. Itu jadi prestasi yang cukup mengejutkan. Sebab, itu adalah debut pertama Indonesia di HWC. Prestasi itu membuat dunia seolah-olah kaget dengan pencapaian Indonesia yang tak pernah diperhitungkan.

Prestasi manis lain saat itu adalah penghargaan Best Player HWC untuk almarhum Ginan Koesmayadi. Indonesia juga diganjar penghargaan Best New Comer.

Pada 2012, prestasi Indonesia makin meroket dengan finis di posisi keempat dunia. Pelatih Timnas Indonesia saat itu, Bonsu Hasibuan, juga diganjar penghargaan The Best Coach.

Setelah itu, prestasi Indonesia naik-turun. Tapi, Indonesia tak pernah absen bermain di HWC sejak 2011. Indonesia sempat menempati peringkat kelima, ketujuh, kedelapan, ke-10 hingga ke-17.

Terakhir, pada 2018 lalu, Indonesia menempati peringkat 10 dunia. Meski jauh dari juara, Indonesia kembali diganjar penghargaan luar biasa. Untuk pertama kali, Indonesia diberi penghargaan Piala Fair Play yang disebut Richard Ismail Fair Play Award.

Prestasi itu sangat disyukuri. Sebab, nilai dari piala itu dianggap jauh melebihi nilai juara. "Bagi kami, penghargaan ini melebihi kemenangan atas apapun di HWC," ucap Manajer Timnas Indonesia pada HWC 2018 Yana Suryana.

Kini, skuat Indonesia pun sudah bersiap untuk melakoni HWC. Doakan ya TemanBaik agar mereka bisa menuai hasil manis di sana. Perubahan positif para pemain diharapkan terjadi setelah ikut di HWC. Kalaupun bisa menuai prestasi, itu akan jadi bonus untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Semangat, Timnas HWC!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler