Kata Peneliti LIPI Soal Mitos Nyi Roro Kidul

Bandung - TemanBaik pasti sudah tidak asing dengan berbagai cerita rakyat, mitos, atau legenda. Cerita itu berkembang dan bertahan turun-temurun hingga kini. Tak jarang berbagai cerita itu pun disambungkan dengan suatu peristiwa.

Dari berbagai cerita rakyat, salah satu yang menarik adalah cerita tentang penguasa Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. TemanBaik pasti familiar banget kan dengan sosok ini? Kalaupun enggak tahu banyak, pasti pernah mendengar soal sosok Nyi Roro Kidul yang digambarkan sosok perempuan cantik dan sakti dengan kuasa penuh di sepanjang pesisir Laut Jawa.

Ratusan tahun lalu, diceritakan Panembahan Senopati ingin memiliki kerajaan dan jadi raja. Singkat cerita, karena bukan keturunan raja, Panembahan Senopati dan ayahnya sampai bersemedi di Pantai Selatan. Dalam kurun waktu berbeda, terjadi berbagai bencana, mulai dari letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan lahar dalam jumlah banyak. Bahkan sempat juga terjadi tsunami dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Akhirnya Nyi Roro Kidul keluar dari lautan dan menemui Panembahan Senopati. Ia meminta Panembahan Senopati menghentikan semedi panjangnya agar bencana tak lagi terjadi. Panembahan Senopati pun mengutarakan ambisi besarnya dan dipenuhi Nyi Roro Kidul. Tapi, syaratnya, seluruh keturunan Panembahan Senopati hingga anak cucunya kelak harus jadi suami Nyi Roro Kidul. Perjanjian itu pun disanggupi Panembahan Senopati. Ia lalu memiliki Kerajaan Mataram yang dibangun pada 1586 dan menjadi raja.

Cerita itu membuat Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto tertarik. Ia sangat penasaran untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita tersebut. Sejak 2006 ia akhirnya melakukan penelitian. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ia bisa mengambil kesimpulan.

"Pertanyaan saya sebagai peneliti, apakah cerita itu sebuah cerita rekaan mitos saja atau metafor tentang peristiwa atau sebuah kejadian besar di masa lalu," kata Eko saat ditemui di Kantor LIPI Kota Bandung, Jumat (26/7/2019).

Dari hasil penelitian, diketahui ternyata gempa bumi dahsyat, letusan Gunung Merapi, dan tsunami pernah benar-benar terjadi dalam kurusn 1584-1586. Benarkan itu akibat semedi Panembahan Senopati dan bencana berhenti karena Nyi Roro Kidul meminta semedi dihentikan?

Dari kacamata penelitian, berbagai bencana itu wajar terjadi. Sebab, Indonesia merupakan negara yang dikelilingi kawasan Cincin Api Pasifik. Sehingga, berbagai bencana geologi sangat rawan terjadi.

Menariknya, peristiwa ratusan tahun lalu itu menyebar, berbagai bencana itu diakibatkan oleh semedi Panembahan Senopati. Cerita itu diprediksi sebagai sebuah cara untuk legitimasi agar Panembahan Senopati bisa menjadi raja dan tak ditentang pihak lain. Sebab, ia direstui dan dibantu langsung Nyi Roro Kidul.

"Jangan-jangan ini sebenarnya adalah sebuah metafora, bahwa gelombang besar (tsunami) terjadi, itu benar. Tapi karena kebutuhan politik dari Panembahan Senopati yang ingin jadi raja baru, tapi bukan darah biru, maka butuh legitimasi untuk jadi raja. Sehingga Nyi Roro Kidul minta semedi dihentikan," ungkapnya.

"Jangan-jangan kecerdasan ini dimanfaatkan juga untuk kejadian letusan Merapi (gempa bumi) dan gelombang (tsunami) saat terjadi. Tapi kemasan Senopati diceritakan (peristiwa itu karena) kerjaan dia dan ayahnya untuk minta tolong (pada Nyi Roro Kidul). Itu satu hal menarik kalau kita bisa mengungkap kisah yang sebenarnya," jelas Eko lagi.

Di luar cerita dan kebenaran hasil penelitian, ia juga menangkap satu hal penting lainnya. Ia menduga berbagai cerita, mitos, dan lain sebagainya adalah cara orang zaman dulu untuk menyampaikan sesuatu. Tapi, kemasan ceritanya dibuat disesuaikan dengan cara pemikiran orang-orang saat itu.

"Kalau kita belajar dari sini, kalau kita menggunakan basis atau pola berpikir geologi, (berbagai cerita atau mitos) itu adalah pesan. Hanya kemudian terbungkus oleh segala hal (cerita). Kita harus membuka pesan itu supaya kemudian kita bisa dapat pesannya apa sih," tutur Eko.

Hal serupa berlaku untuk cerita rakyat atau mitos lainnya. Ia menyakini ada pesan besar yang ingin disampaikan sang pengarangnya. Misalkan untuk mengingatkan suatu peristiwa atau mengingatkan jangan melakukan sesuatu demi keselamatan.

Lalu, kenapa berbagai cerita itu lebih banyak dibumbui dengan makhluk halus? Itu tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat di zaman itu. Sebab, cerita seputar hantu lebih mudah dicerna dan membuat masyarakat takut.

Contoh paling sederhana adalah mitos bahwa pohon beringin dihuni hantu. Pasti TemanBaik juga pernah mendengar cerita ini? Mitos ini berkembang sudah lama, bahkan mungkin sejak nenek-moyang kita dulu. Mau tahu faktanya?

"Di banyak pohon beringin itu di bawahnya ada mata air. Kemudian muncul pertanyaan, ini upaya apa dulu sebenarnya, kenapa ada cerita pohon beringin ada hantunya? Tidakkah ini sebuah kearifan lokal oleh seseorang yang sangat cerdas secara budaya saat itu?" papar Eko.

Cerita seperti itu masih sangat dipercaya hingga kini. Sehingga, orang masih banyak yang takut berada dekat dengan pohon beringin. Di saat yang sama, keberadaan pohon beringin akhirnya tidak banyak diganggu, misalnya ditebang.

"Pada saat itu isi kepala masyarakat adalah hantu sehingga yang muncul adalah cerita tentang hantu untuk menjaga pohon beringin itu (agar tidak ditebang)," tandas Eko.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler