Fakta Erupsi Gunung Tangkuban Parahu, Jarang Lebih dari 200 Meter

Erupsi yang terjadi di Gunung Tangkuban Parahu pada Jumat (26/7/2019) sore cukup menyita perhatian. Sebab, informasi erupsi itu datang secara tiba-tiba dan viral di media sosial.

Erupsi sendiri terjadi dengan ketinggian kolom abu sekitar 200 meter dari pusat kawah. Tapi, erupsi itu tergolong kecil loh, TemanBaik. Jika dibandingkan dengan Gunung Merapi atau Sinabung, ketinggian segitu enggak ada apa-apanya. Tapi, hal itu tetap saja membuat masyarakat merasa was-was.

Agar kamu lebih tenang, kamu perlu tahu fakta seputar erupsi Gunung Tangkuban Parahu. Seperti apa sih sejarah erupsi di sana?

Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Nia Haerani mengatakan letusan Tangkuban Parahu lebih banyak bersifat letusan freatik. Letusan itu didominasi berupa uap air dan abu.

Menurutnya, sangat jarang terjadi erupsi dengan skala besar di Tangkuban Parahu. Data yang dimiliki PVMBG sendiri terkait erupsi Tangkuban Parahu adalah dalam kurun tahun 1800-an hingga sekarang.

Hanya satu erupsi yang tergolong besar, yaitu pada 1910. Saat itu, kolom asapnya mencapai 2 kilometer di atas dinding kawah. Erupsi itu berasal dari Kawah Ratu. Di luar itu, erupsi Tangkuban Parahu tergolong kecil.

"Dari dulu sejarah letusan Tangkuban Parahu yang tercatat sejak 1800-an itu memang dominannya freatik. Jadi, seperti (erupsi) kemarin saja, tidak ada yang lebih besar seperti erupsi Gunung Merapi, itu tidak ada sejarahnya di Tangkuban Parahu," kata Nia di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Sabtu (27/7/2019).

Tapi, diakuinya ada keterbatasan catatan atau data yang dimiliki PVMBG terkait sejarah letusan Tangkuban Parahu. Dalam kurun periode kurang dari tahun 1800, tidak ada catatan yang dimiliki terkait letusannya. Tapi, sangat memungkinkan dulu pernah terjadi letusan besar di sana.

"Mungkin dulu pernah (erupsi besar), tapi mungkin dalam kurun ratusan ribu tahun lalu, makanya bisa terbentuk kawah seperti itu," ungkap Nia.

Sementara dari catatan PVMBG, Tangkuban Parahu rata-rata mengalami erupsi kecil. Ketinggian kolom abu yang dimuntahkan pun jarang melebihi ketinggian 200 meter di atas kawah. "Rata-rata (erupsinya) sama seperti kemarin," ucapnya.

Sejauh ini, aktivitas vulkanik di Gunung Tangkuban Parahu sendiri mengalami penurunan. Tapi, untuk menjaga agar tidak terjadi hal tak diinginkan, PVMBG merekomendasikan radius 500 meter dari pusat kawah untuk steril dari manusia dan segala aktivitas.

Sebab, masih ada potensi hembusan gas vulkanik di sekitar kawah. Gas itu bisa membahayakan keselamatan dan jiwa manusia. Apalagi saat kondisi mendung atau hujan, potensi keluarnya hembusa gas vulkanik akan lebih tinggi.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler