Keren! 4 Mahasiswa UNY Bikin Krim Anti-Aging dari Tanaman Krokot

Yogyakarta - Belum lama ini, empat mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan sebuah produk kecantikan yang bersifat herbal. Silviana Nugraheni dan Ranum Wanudya Yunas (prodi kimia), Ratna Puji Rahayu (prodi akuntansi), serta Aulawi Nulad Utami (prodi pendidikan ekonomi) berhasil mengolah tanaman krokot menjadi krim wajah anti-aging.

Tanaman krokot (Portulaca oleracea L) adalah tanaman yang tumbuh liar di lapangan dan dapat tumbuh di daerah berpasir dan tanah liat. Krokot dapat tumbuh meski kekurangan air dan memiliki sifat adaptasi yang baik terhadap lingkungan. Krokot termasuk salah satu gulma pada budidaya tanaman semusim.

Menurut Silviana Nugraheni, alasan mereka mengolah ekstrak krokot menjadi krim wajah yaitu karena sifat-sifatnya yang tinggi akan gizi dan antioksidan. "Krokot diperkaya dengan berbagai kandungan, seperti KCI, KSO4, KNO3, Nicotinic acid, tannin, saponin, vitamin A, B, C, 1-noradrenalin, noradrenalin, dopamine, dopa," ujar Silviana. Kandungan antioksidan bermanfaat untuk tubuh manusia, salah satunya untuk peremajaan kulit, penangkal radikal bebas, pencegah kanker, mengurangi jerawat, meningkatkan kolagen, dan anti-aging atau pencegah penuaan dini.

Ketersediaan tanaman krokot di Indonesia cukup melimpah dan belum dimanfaatkan sebagai produk yang memiliki nilai jual tinggi. Produk ini unggul berkat ekstrak tanaman krokot yang mengandung antioksidan sebagai penangkal radikal bebas, sehingga kulit menjadi cerah dan ternutrisi, harga terjangkau, dan praktis. "Selain itu, produk krim wajah dengan ekstrak krokot belum ada dipasaran, sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk khas, karena berasal dari tanaman yang banyak terdapat di Indonesia," papar Ratna Puji Rahayu.

Ranum Wanudya Yunas menjelaskan cara pembuatan krim ini. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah etanol 90 persen, setil akohol, asam stearat, trietanolamin, gliserin, paraffin, adeps lanae, propil paraben, metil paraben, ekstrak krokot, akuades, masker, sarung tangan, alumunium foil dan kertas saring.

Baca Ini Juga Yuk: Mahasiswa IPB Kombinasikan 3 Teh untuk Atasi Kanker Payudara

Tahap pembuatannya berawal dari pemilihan tanaman krokot, lalu dicuci bersih dan ditiriskan hingga kering, setelah itu diblender. Etanol direndam selama 24 jam dan ditutup dengan aluminium foil, agar mendapat filtrat dan residu 1. Residu 1 kemudian disaring dan direndam etanol selama 24 jam dengan ditutup aluminium foil. Dari situlah filtrat dan residu 2 didapatkan. Lalu, filtrat 1 dan 2 dicampur, diuapkan dengan rotary evaporator, sehingga ekstrak kental pun berhasil diperoleh.

Pembuatan ekstrak tanaman krokot terbagi menjadi dua fase, yaitu fase air dan fase minyak. Untuk fase air, setil alkohol, adeps lanae, parafin cair dan asam stearat ditambah propil paraben 700. Untuk fase minyak, metil paraben dilarutkan dalam air panas 900, lalu ditambahkan gliserin dan trietanolamin 700 C. Fase minyak dan fase air kemudian dicampur dan diaduk selama 3 menit, setelah itu diamkan selama 20 menit. Aduk dan tambahkan esktrak etanol tanaman krokot, dan krim wajah pun siap untuk digunakan.

Aulawi Nulad Utami menambahkan bahwa produk yang dihasilkan berupa krim wajah anti penuaan dini berbahan dasar ekstrak tanaman rumput krokot yang disebut Macea. "Krim ini mengandung antioksidan, tanin, saponin, flavonoid, fenol, alkaloid dan glikosida yang kaya akan kandungan antioksidan tinggi yang menjaga kesehatan kulit wajah," tutur Aulawi.

Produk krim anti-aging ini didesain praktis sesuai dengan kebutuhan wanita saat ini dengan ukuran pot krim 20 gram. Kemasan tersebut kemudian dikemas lagi dengan packaging kotak menarik yang mampu menjaga produk dari faktor eksternal yang dapat merusak atau mengurangi nilai pada produk. Krim wajah anti penuaan ini mampu bertahan selama 1 tahun lamanya. Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan tahun 2019.


Foto: Uny.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler