Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Mouse untuk Penyandang Tunadaksa

Beberapa waktu lalu, tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sebuah inovasi berupa mouse (tetikus) untuk penyandang tunadaksa yang diberi nama 'DC (Difabel Care) Mouse'.

"DC Mouse hadir dalam bentuk optical mouse yang didesain khusus bagi para penyandang tunadaksa cacat tangan. Didesain menyerupai sandal yang dipakai di kaki dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan antropometri kaki manusia Indonesia menggunakan persentil 95," papar Devita Ayuni Kusumaningsih, salah satu mahasiswa pengembang DC Mouse dikutip dari laman ugm.ac.id

Devita mengembangkan mouse ini dengan teman-teman sesama Fakultas Teknik UGM, di antaranya Muhammad Zhafran Haidar Muttaqin dan Akhmad Adham Nur Husaen di bawah bimbingan Dawi Karomati Baroroh, S.T., M.Sc.

Pengembangan mouse ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap para penyandang difabel tunadaksa yang memiliki keterbatasan dalam mengakses teknologi karena keterbatasan fisik mereka. Padahal di era revolusi industri 4.0 yang mengarah ke digitalisasi, penggunaan komputer sangatlah penting. Sayangnya, media input komputer saat ini dirasa belum mampu mengakomodasi kebutuhan fisik para penyandang tunadaksa, salah satunya seperti bentuk mouse yang tersedia di pasaran.

Mereka mencontohkan salah seorang pelukis kanvas tanpa tangan asal Yogyakarta yang sudah terbiasa melakukan aktivitas melukisnya dengan kaki. Namun, era revolusi industri 4.0 menuntutnya untuk lebih berkreasi dalam mengkomposisikan warna dan gambar lukisannya. Hal itu nampaknya dapat lebih mudah jika dilakukan dengan bantuan komputer, tetapi hal itu terkendala oleh bentuk mouse yang ada saat ini dirasa belum bisa mengakomodasi keterbatasan fisik tersebut.

"Dari situlah kami berinovasi mengembangkan DC mouse yang diharapkan dapat membantu para penyandang tunadaksa, terutama dengan cacat tangan agar mudah mengakses komputer sehingga bisa meningkatkan produktivitas mereka," harap Devita.

DC Mouse didesain dengan empat fitur utama, yaitu klik kanan, klik kiri, drag, dan scroll, serta dirancang dengan menggunakan bahan acrylonitrile butadiene styrene (ABS) dan kulit sintetis, sehingga nyaman untuk digunakan.


Ketiga mahasiswa tersebut mendesain DC Mouse menggunakan bantuan software Autodesk Inventor dan mencetak prototype menggunakan mesin 3D printer. Kemudian dirakit dengan komponen elektronis dari sensor optik yang dihubungkan dengan USB transceiver ke komputer.

Zhafran menyampaikan bahwa berdasarkan pengujian terhadap responden, ternyata DC Mouse mampu dioperasikan dengan akurasi ketepatan pointer paling tinggi mencapai 100 persen, efisiensi 20 persen, dan jumlah klik 5,3 kali per detik. Sedangkan dalam tiga kali replikasi, didapatkan rata-rata ketepatan 49 persen, efisiensi 24 persen, jumlah klik 3,7 klik per detik, dan jumlah scroll 400 pixel per detik.

Hasil pengujian di atas membuktikan bahwa DC Mouse sudah layak pakai. Namun, Zhafran menambahkan bahwa teknologi ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut lagi sebelum menuju tahap komersialisasi.

Teknologi DC Mouse merupakan luaran dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Produk ini berhasil memperoleh dana hibah dari Kemenristekdikti dan lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 yang diselenggarakan pada 27-31 Agustus 2019 mendatang di Universitas Udayana, Bali.


Foto: ugm.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler