Kisah Haji Sanusi Dalam Liku Cinta Sukarno dan Inggit Garnasih

Bandung - TemanBaik pernah membayangkan enggak ada laki-laki yang 'meminta' istri seseorang secara terbuka? Apa yang akan terjadi ya jika itu benar-benar terjadi? Pasti sang suami akan marah besar, bahkan bisa saja melakukan hal tak diinginkan pada yang 'meminta'.

Tapi, hal berbeda terjadi saat Ir Soekarno mengutarakan niatnya menikahi Inggit Garnasih pada Haji Sanusi yang merupakan suaminya. Sanusi justru menceraikan Inggit. Ia lalu mempersilakan Bung Karno untuk menikahi Inggit. Sanusi seolah tahu bahwa Inggit bisa mendampingi Bung Karno yang memang disiapkan untuk jadi pemimpin bangsa oleh para aktivis senior. Bung Karno butuh sosok Inggit untuk membuatnya matang.

Tak cukup menceraikan Inggit, Sanusi bahkan membuat perjanjian dengan Bung Karno. Dalam kurun 10 bulan pernikahan, Bung Karno dilarang menyakiti atau menyia-nyiakan Inggit. Jika itu dilakukan, Bung Karno berkewajiban mengembalikan Inggit pada Sanusi.

Pernikahan pun akhirnya terjadi. Bung Karno dan Inggit menikah secara sederhana pada 24 Maret 1923 di rumah orangtua Inggit, tepatnya di Jalan Javaveemweg, kini bernama Jalan Viaduct.

Bung Karno akhirnya berumah tangga dengan Inggit. Tapi, pernikahan itu kandas pada 1943. Bung Karno berniat melakukan poligami. Ia ingin menikahi Fatmawati dengan alasan Inggit tak bisa memberinya keturunan.

Singkat cerita, Inggit akhirnya minta diceraikan dan dikembalikan ke Bandung. Bung Karno pun mengantarkan Inggit ke Bandung, tepatnya di rumah Haji Anda, kerabat Inggit. Tak cukup diantar ke Bandung, Bung Karno menyerahkan Inggit pada Sanusi yang saat itu hadir.

Bung Karno sendiri sebenarnya tidak berkewajiban mengembalikan Inggit pada Sanusi. Sebab, perjanjian antara Bung Karno dan Sanusi hanya berlaku 10 bulan setelah Bung Karno mempersunting Inggit. Artinya, saat Bung Karno menyerahkan Inggit, perjanjian itu sudah tak berlaku sekitar 20 tahun.

"Tapi mungkin ada ikatan emosional (antara Bung Karno dan Sanusi), sehingga Bung Karno merasa harus bertanggungjawab secara moral untuk menyerahkan Bu Inggit ke Haji Sanusi," kata Tito Asmarahadi, keluarga Inggit Garnasih, kepada BeritaBaik.id.

Sanusi lalu kembali menerima Inggit, tapi, bukan menjadi istrinya. Sebab, Sanusi sudah beristri usai bercerai dengan Inggit. Inggit kemudian tinggal di rumah Haji Anda. Tapi, ia kemudian berpindah-pindah tempat tinggal. Rumah terakhir yang dihuninya adalah di Jalan Ciateul yang kini jadi Rumah Bersejarah Inggit Garnasih.

Sanusi sendiri marah besar pada Bung Karno saat Inggit diceraikan dan dikembalikan padanya. Tapi, tidak diketahui pasti semarah apa Sanusi saat itu. Kemarahan itu yang pasti terjadi karena Sanusi menyayangi Inggit meski sudah bercerai untuk direlakan pada Bung Karno.


Sanusi yang Menampung Bung Karno
Sisi lain yang tak kalah menarik, saat kuliah di Bandung, Bung Karno bersama istrinya sebelum Inggit yakni Oetari, tinggal di rumah Sanusi di kawasan Kebonjati, Bandung. Di sanalah Bung Karno dan Inggit sering bertemu yang saat itu sudah menjadi istri Sanusi. Sedangkan Bung Karno saat itu juga sudah menikah dengan Oetari, anak dari pejuang H.O.S. Tjokroaminoto.

Bung Karno sendiri bisa tinggal di rumah Sanusi berkat andil Tjokroaminoto, sahabat Sanusi yang sama-sama anggota Syarikat Islam. Ia yang mengatur hingga akhirnya Sanusi menampung Bung Karno. Sanusi bahkan menurut Tito pada akhirnya ibarat jadi sosok ayah bagi Bung Karno muda.

Bung Karno numpang tinggal di rumah Sanusi. Tapi, ujungnya sang penumpang justru mencintai istri Sanusi dan mengutarakan niatnya 'meminta' sang istri.

Sebelum Bung Karno dan Inggit saling mencintai, keduanya sama-sama bermasalah dengan rumah tangga masing-masing. Bung Karno tak nyaman dengan Oetari yang masih kekanak-kanakan. Sedangkan Inggit kesepian karena Sanusi lebih banyak di luar rumah untuk bermain bilyar dan sibuk berbisnis sebagai saudagar Pasar Baru Bandung.

Singkatnya, benih asmara Bung Karno dan Inggit akhirnya semakin membara. Bung Karno pun mengutarakan niatnya untuk memperistri Inggit. Bung Karno kemudian bercerai dengan Oetari dan Inggit bercerai dengan Sanusi. Setelah itu, Bung Karno dan Inggit menikah.

Restu Mertua Inggit dan Amarah Orangtua Angkat Bung Karno
Usai menikah, Bung Karno dan Inggit tinggal berpindah-pindah tempat. Keduanya mengontrak dari satu rumah ke rumah lain. Inggit sendiri adalah sosok yang mendampingi Bung Karno hingga matang. Bahkan, Inggit pula yang menyokong perjuangan Bung Karno. Inggit bahkan yang bekerja untuk membiayai Bung Karno, termasuk dalam upaya perjuangan.

Tak cukup sampai di situ, Inggit bahkan menemani Bung Karno sampai di pengasingan oleh pemerintahan Hindia Belanda di Ende, Flores. Inggit juga yang setiap mendampingi Bung Karno saat menghadapi berbagai masalah dalam masa perjuangan. Tapi, ujungnya Inggit bercerai dengan Bung Karno setelah melakukan pengorbanan luar biasa selama 20 tahun.

Tito sendiri mengakui kisah cinta Sanusi, Inggit, dan Bung Karno memang cukup aneh, bahkan di luar nalar. Kisah mereka bahkan jauh lebih pelik dari cerita di film televisi alias FTV. Bahkan, ada hal yang tak kalah aneh. Orangtua Sanusi justru mendukung perceraiannya Inggit dan turut merestui pernikahan Inggit dengan Bung Karno.

"Saya juga bingung. Orangtua Haji Sanusi seolah tahu bahwa Bung Karno harus didampingi sosok Bu Inggit," ungkapnya.

Inggit sendiri bisa menjalankan tiga peran sekaligus bagi Bung Karno. Ia bisa menjadi istri, ibu, sekaligus kawan. Itu bisa dibilang paket lengkap yang diinginkan Bung Karno dari sosok wanita idamannya.

Sementara saat Bung Karno akan menceraikan Inggit, Bung Karno menuai kemarahan dari orangtua angkatnya, yaitu Raden Mas Soemosewoyo. Kemarahan Soemosewoyo terjadi di rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur.

"Raden Mas Soemosewoyo datang ke Jakarta setelah mendengar Bung Karno akan menceraikan Bu Inggit. Dia mengingatkan agar Bung Karno ingat jasa Bu Inggit yang mendampingi selama sekian tahun dalam masa sulit. Tapi Bung Karno keukeuh (ngotot) ingin menceraikan Bu Inggit," jelas Tito.

Menurut Tito, Soemosewoyo benar-benar marah dengan sikap Bung Karno. Saking marahnya, Soemosewoyo kemudian pulang kembali ke Kediri. "Kalau kau menceraikan Inggit, tanggung sendiri dosa-dosa Inggit oleh kamu," ucap Tito menirukan ucapan Soemosewoyo saat pergi meninggalkan Bung Karno dengan amarah.

Tetap Berkawan dan Saling Cinta
Sisi unik berikutnya, Sanusi tetap berkawan baik dengan Bung Karno. Setelah cerai dengan Inggit, Sanusi berhubungan baik dengan Bung Karno. Bahkan, setelah Bung Karno dan Inggit cerai, hubungan Sanusi dan Bung Karno juga tetap baik. Kemarahan Sanusi saat Inggit dicerai Bung Karno pun hanya sesaat.

Di sisi lain, Inggit juga tetap mencintai dan menyayangi Bung Karno meski sudah bercerai. Bung Karno pun mencintai Inggit hingga akhir hayatnya dan menganggapnya sebagai perempuan hebat serta berjasa besar dalam kehidupannya, termasuk untuk bangsa Indonesia. Rumit kan, TemanBaik?

Bahkan, jika dirunut lebih jauh ke belakang, ada sisi rumit lainnya. Sebelum Inggit dan Sanusi menikah, mereka sudah menikah dengan orang lain. Sanusi dan Inggit sudah saling mencintai sejak muda. Tapi, Sanusi akhirnya menikah dengan orang lain. Inggit pun akhirnya juga menikah dengan orang lain.

Meski begitu, cinta akhirnya kembali membuat Sanusi dan Inggit bersatu. Mereka menceraikan pasangan masing-masing dan kemudian menikah.

Rumit serta penuh liku kan kisah cinta Bung Karno, Inggit Garnasih, dan Haji Sanusi? Tapi, cerita ini memang menarik dan memberi warna sejarah tersendiri bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Foto: Inggit Garnasih (kiri bawah) diapit Soekarno (kiri atas) dan Haji Sanusi (ketiga dari kiri atas) (repro koleksi foto di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih/oris riswan)
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler