Jarang Diketahui! Tangkuban Parahu dan Kisah Cinta Bung Karno

Bandung - TemanBaik tahu kan dengan Gunung Tangkuban Parahu? Ya, gunung ini ada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Tangkuban Parahu sendiri sangat identik dengan cerita Sangkuriang yang mencintai ibunya, Dayang Sumbi.

Tapi, di luar cerita itu, selalu ada sisi menarik yang bisa diulas dari gunung yang bentuknya mirip perahu terbalik tersebut. Ada kisah yang berhubungan dengan Ir Sukarno. Sang Proklamator pernah menginjakkan kaki di sana. Seperti apa ya kisahnya? Yuk, kita bahas lebih jauh!

Soekarno sendiri terlibat cinta segitiga dengan Inggit Garnasih yang merupakan istri Haji Sanusi. Area sekitar kawah Tangkuban Parahu menjadi saksi pertemuan ketiganya sekitar akhir 1922. Saat itu, Haji Sanusi berkomitmen untuk menceraikan Inggit yang dicintai Bung Karno. Di saat yang sama, Sanusi dan Bung Karno membuat perjanjian.

"Waktu di sana perjanjiannya lisan. Tapi kemudian dituangkan dalam perjanjian tertulis (saat Bung Karno dan Inggit menikah pada 24 Maret 1923)," kata Tito Asmara Hadi, cucu angkat Inggit Garnasih, kepada BeritaBaik.

Intinya, isi perjanjian itu adalah Bung Karno dilarang menyakiti dan menyia-nyiakan Inggit dalam 10 bulan pernikahannya. Jika hal itu Inggit tersakiti, Bung Karno wajib mengembalikan Inggit pada Sanusi.


Saat di Tangkuban Parahu, tak ada pertengkaran hebat yang terjadi. Semuanya berjalan baik-baik saja. Dipilihnya Tangkuban Parahu sebagai lokasi perjanjian pun sengaja dilakukan agar ketiganya dalam suasana tenang saat bicara dari hati ke hati.

Tito mengatakan, kisah perjanjian Bung Karno, Haji Sanusi, dan Inggit Garnasih di Tangkuban Parahu tak banyak diketahui publik. Yang lebih banyak diketahui publik dan ada di berbagai buku adalah pernikahan Bung Karno dan Inggit di Jalan Javaveem (sekarang Jalan Viaduct), Bandung. Pernikahan itu diwarnai dengan adanya surat perjanjian.

Tito sendiri mendapatkan kisah di Tangkuban Parahu itu dari mulut Inggit secara langsung saat masih duduk di bangku SMA antara tahun 1967-1968. Saat itu, Tito tinggal di rumah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul, Bandung.

"Cerita ini saya dengar pas tinggal di Ciateul. Jadi, saya banyak menggali dan mendengar cerita (hidup Inggit secara langsung)," tuturnya.

Tapi, diakuinya memang tidak ada dokumentasi dari pertemuan ketiga sosok itu di Tangkuban Parahu. Sebab, di zaman itu sangat minim dokumentasi. Beda dengan zaman sekarang yang mudahnya memotret menggunakan telepon genggam.

Inggit sendiri adalah perempuan kedua yang dinikahi Bung Karno. Sebelum menikah dengan Inggit, Bung Karno menikah dengan Oetari, anak H.O.S. Tjokroaminoto. Usai bercerai dengan Oetari, baru Bung Karno menikah dengan Inggit.

Perjalanan biduk rumah tangga Bung Karno dan Inggit berjalan sekitar 20 tahun. Perceraian terjadi saat Bung Karno hendak menikahi Fatmawati. Bung Karno ingin memiliki keturunan yang tidak didapat dari rumah tangganya bersama Inggit. Inggit akhirnya minta diceraikan. Bung Karno pun menikah dengan Fatmawati yang kemudian jadi ibu negara pertama dalam sejarah Republik Indonesia.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler