Kisah Inggit Garnasih yang Tak Mau Dimakamkan di Makam Pahlawan

Bandung - Sosok yang berhubungan dengan Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno selalu memantik rasa ingin tahu publik. Salah seorang sosok yang cukup menarik diulas adalah Inggit Garnasih, perempuan kedua yang dinikahi Soekarno.

Inggit adalah sosok yang sangat setia mendampingi Bung Karno selama 20 tahun menikah. Bukan hanya menjalani biduk rumah tangga, Inggit justru jadi sosok penting di balik matangnya Bung Karno. Inggit menopang ekonomi keluarga, mulai dari berjualan jamu dan berbagai bisnisnya.

Inggit juga yang menopang Bung Karno dalam masa-masa perjuangan. Bahkan, Inggit setia terhadap Bung Karno saat ditahan hingga diasingkan ke Ende oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Inggit bahkan jadi sosok penting yang menyelundupkan buku dan koran ke Penjara Banceuy, tempat Bung Karno ditahan.

Dari hasil penyelundupannya itu, Bung Karno akhirnya bisa membuat pledoi atau pembelaan yang begitu terkenal dengan judul 'Indonesia Menggugat'. Pledoi itu pun jadi salah satu pemantik semangat perjuangan rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan.

Hebatnya perjuangan Inggit bahkan sampai melahirkan asumsi pada sebagian orang, tanpa Inggit, Bung Karno mungkin tak akan jadi sosok hebat seperti yang dikenal saat ini. Sebab, Inggit bukan hanya jadi sosok istri. Ia juga sekaligus menjadi ibu dan kawan seperjuangan bagi Bung Karno.


Tapi, hingga kini Inggit tak menyandang status pahlawan dari pemerintah. Hal itu bukan masalah bagi Inggit. Bahkan, Inggit tak pernah menginginkan gelar pahlawan hingga akhir hayatnya pada 13 April 1981 pada usia 96 tahun.

"Ibu Inggit tidak pernah menginginkan mendapat gelar pahlawan," ujar Tito Asmara Hadi, cucu angkat Inggit Garnasih, kepada BeritaBaik.id.

Meski begitu, jasa Inggit dihargai pemerintah saat Bung Karno menjadi Presiden. Pada 17 Agustus 1961, Inggit dianugerahi Tanda Kehormatan 'Satyalencana Perintis Kemerdekaan'. Ia pun berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sehingga, secara tidak langsung, Inggit memang sudah disejajarkan dengan para pahlawan.

Tapi, Inggit justru menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Saat masih hidup, Inggit sudah menyampaikan keinginannya agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Ia ingin dikebumikan di pemakaman biasa.

"Ibu Inggit enggak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Katanya dari dulu Ibu bersatu dengan rakyat, jadi, sudah dimakamkan di makam biasa saja (jika meninggal)," ucap Tito.

Hingga akhirnya, wasiat Inggit diwujudkan pihak keluarga. Inggit dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Porib di kawasan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Semula, Gubernur Jawa Barat saat itu, Aang Kurnaefi, akan memberikan lahan seluas 500 meter persegi khusus untuk makam Inggit. Tapi, kali ini pihak keluarga yang menolak.

Negosiasi pun sempat terjadi antara utusan Aang Kurnaefi dengan Tito dan keluarga Inggit. Bahkan, 'penawaran' luas makam sempat berkurang menjadi 400 meter persegi. Hal itu tetap ditolak pihak keluarga melalui Tito.

"Untuk makam seluas itu kita tidak bisa terima karena tidak mencerminkan watak Bu Inggit. Kita akhirnya cuma minta ukuran 10x12 meter. Karena orang lain juga butuh tanah untuk makam. Kalau luas tapi hanya 'dikangkangi' makam Bu Inggit saja, kita tidak mau," jelas Tito.

Makam Inggit sendiri dikelilingi pagar tembok sekelilingnya. Selain Inggit, di area tersebut juga ada makam keluarga, salah satunya Ratna Juami, anak angkat Inggit. Ratna adalah ibu kandung Tito.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler