Kenangan Sosok Pramoedya Ananta Toer dalam Ingatan Anak Cucunya

Yogyakarta - Akhir-akhir ini, nama seorang penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer kembali diperbincangkan, bahkan di kalangan anak muda atau generasi milenial. Rilisnya film 'Bumi Manusia' pada pertengahan tahun ini bisa dikatakan menjadi salah satu faktor utama pendongkrak nama Pram. Film garapan sutradara Hanung Bramantyo tersebut merupakan hasil adaptasi dari salah satu buku karya Pram berjudul sama, terbitan tahun 1980. Belum lama ini, diadakan pula sebuah talkshow yang dihadiri oleh beberapa keluarga Pram dan dipandu oleh Endah S.R.

Salah satu anak dari Pram, Astuti Ananta Toer teringat akan satu kenangan saat ibunya mengajak ke penjara untuk menengok sang ayah sewaktu ia masih kecil. "Pada saat saya besuk Pak Pram, saya lihat pak Pram itu bibirnya pecah. Saya tanya, Pah, kenapa bibirnya pecah? Papa jatuh nduk, katanya. Saya tanya lagi, Pah, kenapa tangannya hitam-hitam seperti itu? Pak Pram menjawab, Papah kan kerja di ladang, jadi ini kesangkut-sangkut kawat atau apa. Tapi di suatu hari kemudian, saya mendengar dari temannya, kalau pak Pram ini ternyata disetrum," kenang Astuti. Baginya, Pram adalah seorang ayah yang tidak pernah mau menunjukkan rasa sakitnya ke anak-anaknya.

Astuti juga sempat menceritakan soal ibunya yang selalu menyemangati anak-anaknya agar tidak pernah malu akan kejadian yang menimpa ayahnya. Ibunya menyarankan agar anak-anak Pram selalu jujur dan menceritakan apa adanya jika ada orang yang bertanya tentang ayahnya. Kemudian Astuti mengulang kata-kata yang pernah diucapkan oleh ibunya kepadanya."Bapakmu itu dipenjara bukan karena penjahat. Bapakmu itu salah tulis. Lalu bagaimana pun, nama belakang bapakmu itu jangan kau buang. Kau harus bangga mempunyai ayah seperti itu".

Aditya Prasstira Ananta Toer, cucu Pram yang tertua dan lahir sekitar tahun 80-an (setelah Pram bebas dari penjara) mengungkapkan bahwa salah satu kenangan yang paling berkesan baginya yaitu perihal 'buku harian'. Pram mengajarkan cucu-cucunya untuk menulis dan mempunyai kebiasaan untuk selalu mengecek satu-satu buku harian yang ditulis oleh cucu-cucunya setiap makan malam usai.

"Setelah makan malam, saya disuruh nulis buku harian, lalu dicek kembali sama Opa", ujar Adit. Sang kakek juga memberi buku bacaan pada cucunya dan menyuruh mereka untuk menghapalkannya dalam waktu satu bulan.

Baca Ini Juga Yuk: Kegigihan Vabyo Kembali Menulis Buku Usai Pulih dari Stroke

Sebelum Pram meninggal dunia, ada satu pesan terakhir darinya yang diingat oleh Adit. Pram yang waktu itu sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur sempat berpesan kepada Adit, "Dit, jadilah majikan atas dirimu sendiri,"ucap Adit mengulang perkataan kakeknya.

Salah satu cucu Pram yang bernama Derry Prasstira Ananta Toer berkisah tentang kebiasaan unik lain yang sering dilakukan oleh kakeknya. "Opa itu senangnya membakar sampah. Dulu, Opa itu sering minta tolong untuk dibelikan minyak tanah pake jerigen," tutur Derry.

Muhammad Rova Riani, cucu Pram yang lain berkata. "Opa benci terhadap orang yang suka meminta-minta. Jadi kalo cucu-cucunya mau sesuatu tuh harus ada usaha dulu".

Lain halnya dengan kenangan sosok sang Opa yang diingat oleh cucunya yang kini ikut mengelola penerbitan Lentera Dipantara, Angga Okta. Ia yang saat itu hanya berperan sebagai saksi mata, menceritakan salah satu kejadian yang dialami langsung oleh Rova. "Saya cuma saksi mata. Ini sebenarnya pengalaman Rova. Jadi, Rova itu sama abang saya yang namanya Viky, lagi main pedang-pedangan. Pas Opa lewat, pedangnya diambil terus dipatahin sama Opa."

Kemudian, Angga mengulang perkataan kakeknya saat itu, "Saya tidak mau anak cucu saya jadi korban kekerasan atau pelaku kekerasan". Pernyataan tersebut langsung disambut oleh tepuk tangan meriah dari penonton.

Dari semua kisah dan pengalaman yang diceritakan oleh anak dan cucu-cucu Pram dalam talkshow tersebut, dapat dirasakan bahwa dalam keluarga Pram sering ada momen yang mereka lakukan bersama-sama, seperti makan malam dan tamasya bersama. Tekanan-tekanan yang datang dari luar ternyata tidak mencerai-beraikan keluarga Pram, namun malah membuat mereka menjadi semakin erat dan solid.

Obrolan ditutup dengan tiga buah lagu yang dibawakan dengan apik dan jujur oleh Adit dan Derry. Semua lagu tersebut terinspirasi dari kutipan-kutipan dalam karya-karya sang Opa. Lagu pertama berjudul 'Anak Tumpah Darah' dari karya puisi Pram di buku 'Menggelinding'. Kemudian lagu kedua bertajuk 'Bumi Manusia' dari buku Pram berjudul sama, dan 'Tidak Turun Dari Langit' sebagai judul lagu ketiga, diambil dari sebuah kutipan 'Kebenaran tidak turun dari langit' dalam buku 'Arus Balik'.


Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler