Serunya Bermain di Bandung Ulin Festival 2019

Bandung - TemanBaik, khususnya warga Jawa Barat, ada yang tahu dengan permainan cingciripit, sur ser, atau perepet jengkol? Ini adalah permainan tradisional anak-anak zaman dulu. Tapi, zaman sekarang sudah jarang ada anak yang memainkan permainan tradisional seperti itu.

Untuk menggeliatkan kembali permainan tradisional itu, Pemkot Bandung menghadirkan kegiatan Bandung Ulin Festival 2019 di Stadion Persib, Kota Bandung, Rabu (28/8/2019). Lebih dari 10 ribu siswa tingkat TK, SD, hingga SMP hadir di sini. Guru-gurunya juga hadir dan ikut bermain loh!

Mereka diperkenalkan kembali dengan beragam permainan tradisional anak-anak khas Sunda. Bahkan, kegiatan ini tercatat dalam rekor Original Rekor Indonesia (ORI), yaitu jumlah peserta terbanyak memainkan permainan sur ser, cingciripit, dan perepet jengkol yang melibatkan 7.700 orang.

Gelak tawa para peserta pun menambah suasana semakin meriah. Apalagi, permainan yang dilakukan adalah berkelompok. Ada yang bertiga, bahkan ada yang semuanya terlibat. Bahkan, meski ada yang terjatuh saat memainkan perepet jengkol, semuanya tertawa riang. Permainan itu seolah memberi kebahagiaan tersendiri bagi peserta.

Selain permainan tradisional, dalam kegiatan itu juga ditampilkan beragam kesenian tradisional. Ada tarian jaipong, sisingaan, hingga pencak silat. Bahkan, Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang hadir di lokasi sempat naik ke atas sisingaan dan diarak dari pintu masuk menuju kursi undangan.

Apa sih pentingnya permainan tradisional ini kembali diperkenalkan dan dimainkan? Ternyata ada makna dan misi besarnya loh TemanBaik. Bukan semata-mata mengejar terciptanya rekor.

Baca Ini Juga Yuk: 'Festival Mie 2019', Seporsi Rp5.000 hingga Ada Lomba Makan Cepat


"Yang paling penting bagaimana kita mengenalkan permainan-permainan zaman dulu yang mengandung filosofi. Dalam permainan tradisional ini ada filosofi tenggang rasa, solidaritas, nilai olahraganya juga ada," kata Yana.

Menurutnya, permainan tradisional seperti itu sangat berbanding terbalik dengan permainan anak zaman sekarang yang lebih banyak memakai gawai. Sebaliknya, permainan tradisional membuat interaksi sosial di antara anak-anak akan terjadi.

"Kan sebetulnya kalau gadget itu nilai sosialisasinya kurang lah. Tapi kalau dengan permainan seperti ini tidak bisa dimainkan sendiri. Kalau gadget kan dia bermain sendiri," ucapnya.

"Kalau (permainan tradisional) ini minimal dimainkan dua-tiga orang. Jadi ini fungsi sosialisasi dengan temannya ada, itu filosofi yang penting di permainan kaulinan barudak," jelas Yana.

Ke depan, ia berharap permainan tradisional kembali dimainkan anak-anak Bandung dalam kesehariannya. Bahkan, di sekolah-sekolah guru juga diharapkan jadi sarana pembangkit permainan tradisional tersebut.

"Makanya hari ini juga hadir guru-gurunya, guru olahraga, guru seni budaya. Bisa saja (permainan tradisional) itu diselipkan di kegiatan-kegiatan jam pelajaran mereka, misalnya di pelajaran olahraga atau seni budaya," tutur Yana.

Tak hanya itu, ia berharap nantinya permainan tersebut melibatkan siswa dari berbagai sekolah. Sehingga, interaksi sosial akan terbangun di antara sesama siswa meski berbeda sekolah.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler