Bedanya Jadi Penulis Perempuan di Zaman Dulu dan Masa Kini

Bandung - TemanBaik tahu enggak jika menjadi penulis bagi kaum perempuan di zaman sekarang jauh lebih mudah? Bahkan, kini perempuan bebas berekspresi atau membahas hal apapun melalui tulisannya.

Hal itu berbeda dengan zaman dulu. Penulis perempuan menemui banyak hambatan, kendala, hingga mudah terseret dalam konflik. Tak jarang perempuan juga sulit untuk menulis dan membuat buku karena berbenturan dengan tradisi.

Bahkan, zaman dulu kaum perempuan seolah tak diberi ruang yang luas untuk menulis dan terkenal. Buktinya, sangat banyak penulis perempuan di masa kolonial Hindia Belanda, tapi sangat minim yang dikenal publik.

Hal ini dibahas dalam diskusi bertajuk 'Melacak Jejak Perempuan dalam Sastra' di Nu Art Sculpture Park, Kota Bandung, Kamis (5/9/2019). Diskusi ini adalah rangkaian kegiatan Bandung Readers Festival 2019. Hadir tiga penulis sekaligus periset sebagai pembicara, yaitu Dewi Noviami, Aura Asmarandana, dan Aquarini Priyatna.

"Banyak nama-nama perempuan yang sudah menulis buku dan bukunya ada, tapi tidak dikenal (masyarakat)," ujar Dewi Noviami.

Hal itu pun berlanjut hingga setelah masa kemerdekaan. Penulis perempuan terus lahir, tapi hanya sedikit yang tulisannya terkenal, baik berupa buku atau media lainnya.

Sejak dulu, Indonesia sebenarnya tak pernah kehabisan penulis perempuan, baik di bidang novel, naskah drama, hingga puisi. Mereka memiliki beragam pemikiran yang dituangkan dalam tulisannya. Tulisan mereka pun seolah jadi media untuk membuka sudut pandang kaum perempuan lainnya terhadap hal baru dan terkadang tabu.

Tapi, di zaman mereka hidup, tulisan mereka seolah bukan suatu hal yang lazim. Sehingga, banyak karya tulisan kaum perempuan yang akhirnya tenggelam, atau bahkan sengaja ditenggelamkan. Bahkan, untuk menelusuri buku atau tulisan karangan perempuan zaman dulu sangat sulit dilakukan saat ini.

Karena kondisi saat ini sudah berbeda, perempuan punya ruang terbuka untuk menulis, baik untuk sekedar menyalurkan hobi, membagikan sudut pandang, hingga mengajak publik memahami sesuatu dengan cara berbeda. Saat ini jadi waktu yang tepat jika kaum perempuan ingin menulis. Sebab, tak ada lagi kendala seperti di masa lalu.

Perumpamaan sederhanya adalah jika ingin kaum perempuan ingin dipahami laki-laki, maka perempuan harus menulis apa yang harus dipahami laki-laki. Yakinlah bahwa suara perempuan itu harus disuarakan, khususnya melalui tulisan. Suara perempuan pun layak didengar.

"Suara perempuan itu harus (disuarakan) dan layak didengar," ucap Aquarini Priyatna.

Enggak harus yang berat-berat kok. Contoh kecil kamu bisa memulai menulis kegiatan harian kamu. Loh, apa pentingnya? Suatu saat mungkin tulisanmu akan jadi sejarah.

Ia pun mencontohkan soal sosok Jenderal Besar Soedirman. Ada banyak cerita yang membahas soal perjalanan Sang Jenderal saat berjuang. Tapi, pernah enggak TemanBaik membayangkan bagaimana aktivitas kaum perempuan yang suaminya berjuang bersama Jenderal Soedirman?

Karena tak pernah ditulis oleh kaum perempuan saat itu yang jadi bagian sejarah, maka banyak yang tak tahu bagaimana beratnya perjuangan perempuan di masa itu.

Aura Asmarandana juga menegaskan pentingnya perempuan menulis. Sebab, hanya perempuan yang benar-benar mengerti perempuan. Sehingga, menulis bisa jadi sarana bagi perempuan untuk dipahami orang lain, khususnya laki-laki, baik dari segi kehidupan, sudut pandang, atau hal-hal lainnya. Bahkan, jika ada kesempatan, kamu bisa saja membuat buku, novel, naskah drama, atau karya lainnya.

"Yang paham perempuan itu cuma perempuan. Tapi kita juga enggak boleh gegabah (sembarangan menulis)," ucap Aura.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler