Intip Semangat Pebisnis Tunanetra Bandung Garap Bisnis Online

Bandung - TemanBaik, gawai ternyata bisa memberi manfaat luar biasa bagi penyandang disabilitas tunanetra. Melalui gawainya, tunanetra bisa bergeliat untuk berbisnis.

Hal itu dibuktikan komunitas Enterpreneur Disabilitas Netra (EDN) yang resmi terbentuk pada 18 Mei 2019 di Kota Bandung. Namun, sebelum diresmikan, komunitas ini sebenarnya sudah menjalankan aktivitas bisnisnya sejak bulan Maret 2019. Fokus bisnis yang dijalankan EDN adalah berjualan beragam barang secara online.

Barang yang dijual mulai dari aneka produk fesyen, elektronik, hingga perlengkapan bagi disabilitas. Komunitas ini mengandalkan aplikasi WhatsApp sebagai sarana untuk berbisnisnya. Pemasaran dan transaksi dilakukan tanpa tatap muka karena berbasis penggunaan WhatsApp. Selain itu, EDN juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk menyokong aktivitas bisnisnya.

Mungkin TemanBaik membayangkan, bagaimana tunanetra bisa menggunakan gawainya untuk berbisnis, sementara mereka kan enggak bisa melihat? Jangan sedih, saat ini teknologi sudah canggih. Rata-rata, gawai-gawai sekarang sudah bisa dipasang beragam aplikasi yang memudahkan mereka. Ada aplikasi pembaca teks yang mengeluarkan suara, ada perekam suara, serta beragam aplikasi lainnya.

Dengan cara itu, mereka bisa lebih mudah memasarkan produk dan berkomunikasi dengan pembeli. Bahkan, mereka bisa dengan mudah mengirimkan foto dan segala bentuk promosinya. Bendahara EDN Fani Dwi Putri mengatakan geliat bisnisnya memang sama dengan bisnis online yang dijalankan orang-orang pada umumnya. Ada naik-turun yang dirasakan dalam penjualan produk. "Kita ada kalanya ramai pesanan, ada kalanya juga kurang ramai. Tapi setiap hari selalu ada pesanan, enggak pernah sampai enggak ada sama sekali," ujar Fani kepada BeritaBaik.id.

Untuk proses jual beli, EDN memiliki anggota yang saat ini jumlahnya sekitar 120 orang. Mereka adalah para tunanetra yang tersebar di berbagai daerah seluruh Indonesia. Teknisnya, para member itu akan menjual produk kepada masing-masing konsumennya. Pesanan kepada member kemudian akan diteruskan ke EDN untuk diproses dan dikirim ke konsumen melalui jasa pengiriman.

Dari mana EDN memiliki barang untuk dijual? EDN ternyata memanfaatkan keberadaan marketplace yang saat ini sudah cukup banyak. Komunitas ini akan memesan barang yang dipesan konsumen melalui layanan marketplace. Singkatnya, bermodal gawai, alur pesanan semuanya dituntaskan.

Baca Ini Juga Yuk: Butuh Kolaborasi Saat Memulai Bisnis? B2B Bisa Jadi Solusinya

Berbagi Keuntungan 50:50

Yang menarik dari geliat bisnis EDN adalah pembagian keuntungan. Member dan EDN akan berbagi keuntungan 50:50 dari setiap produk atau barang yang berhasil dijual. "Tapi 50 persen komisi buat EDN itu ditabungkan untuk menjalankan program-program EDN. Uang itu jadi semacam uang kas untuk kegiatan kita," ucap Fani.

Salah satunya, EDN berencana dalam waktu dekat membuat semacam pelatihan bisnis bagi para tunanetra. Namun, hal itu masih dirancang hingga kini. Dengan begitu, keuntungan dari penjualan produk akan kembali pada member itu sendiri. Dalam proses penjualan, member EDN sendiri tak bisa menjual dengan harga seenaknya. Sebab, setiap barang sudah dipatok harganya oleh EDN. Sehingga, sudah dipastikan keuntungan yang didapat member.

Untuk harga barang yang dijual pun beragam, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp250 ribu. Bebas ongkos kirim juga jadi keunggulan tersendiri dari produk yang dijual member EDN pada konsumen. Member maupun pengurus EDN pun tak perlu melakukan pengiriman karena prosesnya diurus oleh pemilik barang. Menurut Fani, para member merasakan manfaat besar dari bisnis yang dijalankan. Sebab, keterbatasan mereka tak jadi hambatan untuk berbisnis dan mendapatkan uang.

Hanya dengan mengandalkan gawai, proses bisnis bisa berjalan. Mereka tak perlu keliling menawarkan barang, tak perlu memiliki toko, bahkan tak perlu mengurus proses pengiriman barang. "Ada beberapa komentar dari member yang bilang 'alhamdulillah, sambil diam saja bisa dapat uang'. Uang (keuntungan) juga tinggal masuk ke rekening member. Mereka merasa dimudahkan berbisnis dengan adanya EDN ini," jelas Fani.

Dwi Citolaksono (16), salah seorang member EDN, mengungkap manfaat yang dirasakannya. Dari menjadi member EDN, ia bisa mendapatkan tambahan uang ratusan ribu untuk biaya hidupnya selama sekolah di SLBN A Bandung. Sebab, pria yang akrab disapa Ciko itu adalah warga Brebes. Setiap bulan, ia selalu mendapat kiriman uang dari orangtuanya untuk bekal hidup selama di Bandung. Karena uang yang dikirim tak banyak, keuntungan dari bisnisnya dirasa sangat bermanfaat.

"Lumayan dapat tambahan bekal dari hasil jualan. Memang sangat menguntungkan kalau buat saya," ucap Ciko. Manfaat juga dirasakan member lain. Bahkan, salah seorang member menurutnya bisa mendapat keuntungan hingga Rp400 ribu hanya dalam kurun dua minggu. Hal itu cukup memacunya untuk lebih giat lagi berjualan.

Baca Ini Juga Yuk: Shopee Rangkul Pengusaha Kecil Jualan Online Dini Yustiani

Berbagi Ilmu

Selain menjalankan bisnis, yang menarik dari komunitas ini adalah berbagai ilmu bisnis. Para member dibekali ilmu dan trik-trik berbisnis. Tujuannya agar produk bisa terjual banyak. Sehingga, keuntungan yang didapat member akan semakin banyak. "Kita punya program motivasi bisnis dan konsultasi bisnis. Program ini berjalan sejak Mei setelah EDN resmi di-launching," kata Fani.

Aplikasi WhatsApp pun menjadi wadah untuk menjalankan program ini. Pengurus dan member memiliki grup khusus untuk menjalankannya. Pola komunikasinya beragam. Ada yang dengan mengetik di kolom percakapan, hingga terkadang menggunakan format audio.

Cara itu ditempuh agar para member EDN yang merupakan tunanetra bisa berbisnis. Sebab, mereka memiliki keterbatasan penglihatan dan rata-rata adalah pebisnis pemula. "Kita ingin mencoba untuk menghadirkan beragam fasilitas dan kemudahan untuk member. Kita cari solusi untuk mereka agar bisa berdaya," tutur Fani.

Hal itu sesuai dengan tujuan dibentuknya EDN. Komunitas ini ingin menularkan virus positif pada para tunanetra. Bukan hanya di Bandung, tapi seluruh Indonesia. Sehingga, para tunanetra bisa memilki daya saing dan bisa berbinis. "Kita dari awal enggak berpatokan ingin mendapatkan hasil untuk komunitas. Dari awal tujuan kita ingin bantu teman-teman tunanetra agar mereka dapat solusi untuk finansialnya," jelas Fani.

Embrio untuk Pertumbuhan Ekonomi

Geliat bisnis EDN disambut positif aktivis disabilitas Aden Achmad. Ia memandang apa yang dilakukan EDN sebagai kemajuan berarti bagi kalangan tunanetra. "Saya mengapresiasi, bagus, mereka memiliki kreativitas memanfaatkan teknologi untuk membantu kesejahteraan mereka," kata Aden.

Praktik e-commerce ala EDN itu juga membuat praktik perdagangan tak lagi dilandasi rasa iba. Sebab, ada beberapa tunanetra yang memilih berjualan secara door to door atau berkeliling secara fisik. Kondisi itu kadang membuat orang iba sehingga membeli barang dagangan tunanetra tanpa peduli apa yang dibeli. Tujuannya karena kasihan.

"Cara berbisnis seperti ini membuat mereka naik kelas, istilahnya konsumen tidak lagi membeli karena rasa kasihan. Kalau ini kan jualannya online, jadi pembeli juga enggak tahu seperti apa penjualnya. Jadi, secara konsep ini jualannya murni, lebih maju caranya," tutur Aden. Ia pun setuju berbisnis secara online ala EDN juga membuat penyandang tunanetra lebih mudah dalam berbisnis.

Mereka tak perlu menyewa atau membeli toko, tak perlu lagi berkeliling menawarkan dagangan, serta tentu saja menghemat pengeluaran untuk proses berjualan. Aden juga mengapresiasi EDN yang melatih dan memberi edukasi kepada para tunanetra dalam berbisnis. Sehingga, ia berharap kelak para tunanetra bisa jauh lebih maju dalam berbisnis. Sementara secara bisnis, diakui Aden mungkin bisnis EDN belum begitu besar.

Namun, kehadiran EDN bisa jadi embrio untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya yang melibatkan tunanetra. Apalagi, sudah banyak pebisnis online yang memiliki penghasilan besar di era modern saat ini. Ia pun meyakini kesuksesan serupa bisa dialami para tunanetra, termasuk disabilitas lainnya.

"Ini bisa jadi embrio untuk pertumbuhan ekonomi nasional, terutama untuk pemberdayaan penyandang disabilitas," ungkap Aden. Ia pun berharap komunitas bisnis disabilitas seperti EDN mendapat sentuhan dari pemerintah. Sehingga, mereka bisa difasilitasi agar bisnisnya lebih berkembang lagi.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler