Mau Terjun di Perdagangan Berjangka Komoditi? Pahami Dulu Hal Ini

Bandung - Kamu milenial yang mau berkiprah di dunia saham? Ternyata seru dan mengasyikkan loh. Tapi sebelum terjun, baiknya pahami strateginya biar TemanBaik meraup untung sukses dan punya skill untuk 'melantai'. Nah buat kamu yang muda dan masih pemula, main saham juga menjadi momentum haik loh untuk mengumpulkan pundi-pundi sejak usia produktif.

Sebagai debut awal, PT. Rifan Financindo Berjangka (RFB) cabang Bandung memberikan edukasi nih terkait model Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) dan Produk Derivatif Indeks. Tenang ya, kalau sudah menguasai pasti tak bikin pusing.

Stephanus Paulus Lumintang, Direktur Utama PT. Bursa Berjangka mengatakan, edukasi RFB ini jadi misi penting juga untuk lebih mendekatkan produk investasi berjangka kepada masyarakat. Jadi sebelum berbisnis saham, kamu juga harus mengenal peluang dan risikonya.

"Indonesia kaya dengan sumber alam di sektor perkebunan, migas dan pertambangan. Kami juga ingin menjadi sarana bagi setiap pelaku komoditi di Indonesia dengan menjalankan fungsi sebagai sarana price discovery, sarana hedging, dan sarana investasi, semuanya bisa menjadi seru dan mengasyikkan kalau sudah paham," ujar Paulus belum lama ini di Bandung.

Dirut yang satu ini juga mengisahkan nih TemanBaik, sejarah awal industri berjangka komoditi di dunia, berawal dari perdagangan beras di Dojima, Jepang pada tahun 1710. Terbayang kan, kalau sistem ini sudah eksis sejak era klasik loh!

"Bermula di Jepang, lalu berkembang sistem forward di Amerika Serikat sampai terbentuk Chicago Board of Trade (CBOT). Sejak saat itu, bursa-bursa berjangka komoditi lainnya bermunculan di berbagai negara di dunia," katanya.

Baca Ini Juga Yuk: 6 Hal Seputar Tren Perdagangan Digital di Tahun 2019

Bagaimana dengan Indonesia? Nah kehadiran Bursa Berjangka Jakarta di Indonesia, ternyata baru dimulai pada tahun 1999. Bukan tanpa alasan, saat itu komoditi berjangka dihadirkan dengan misi dan fungsi utama sebagai pelindung nilai terhadap komoditi di Indonesia dari perubahan kurs.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia, Fajar Wibhiyadi juga mengungkapkan, peran KBI di industri perdagangan berjangka komoditi ada tiga fungsi nih TemanBaik. Sebut saja sebagai pengelolaan risiko, penjamin transaksi dan perhitungan IRCA.

"Nah di era digital juga kerap terjadi penipuan. Salah satu cara mengenali pialang berjangka legal adalah dengan melihat apakah nasabah mereka menggunakan Sistem Informasi Transaksi Nasabah (SITNA) atau tidak. Karena setiap transaksi dari anggota KBI dan BBJ akan terdaftar dan tercatat di sistem tersebut," paparnya.

Karena saat ini sudah zamannya industri 4.0, jangan khawatir ya TemanBaik, setiap nasabah bisa bebas melihat laporan transaksi mereka kapan pun dan dimanapun loh. Semua bisa tersaji secara transparan melalui sistem bertitel SITNA.

Gimana nih Temanbaik paham kan? Kalau pengin lebih beragam, kamu juga bisa menjajal produk derivatif indeks. Pimpinan Cabang RFB Bandung, Anthony Martanu menjelaskan, kalau kontrak produk derivatif di industri berjangka komoditi terbagi dua loh.

Antara lain jenisnya multilateral, seperti kontrak berjangka oelin (minyak), kopi, kakao, timah. Sementara bilateral terbagi tiga antara lain, kontrak berjangka locogold, forex dan index.

Berbicara indeks, untuk saat ini ada beberapa indeks yang hit seperti Hanseng dan Indeks Nikkei. Pergerakan produk derivatif ini termasuk high risk, high return. Jadi semakin besar investasimu, pasti risiko dan peluang untungnya bakal lebih gede.

"Kuncinya semua posisi harus diperhitungkan dengan cermat dan memperhitungkan analisis fundamental dan teknikal. Meski indeks punya peluang keuntungan yang cukup baik, tapi harus diakui saat ini kontrak berjangka emas merupakan primadona seiring kenaikkan tren harga emas yang positif dalam beberapa waktu terakhir," pungkasnya.



Foto: Dini Yustiani/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler