Ceramah Dua Bahasa dalam Salat Jumat di SLBN Cicendo Bandung

Bandung - Salat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap pria beragama Islam. Setiap Jumat, mereka akan berkumpul di masjid untuk melaksanakan salat dan mendengarkan khatib berceramah.

Tapi, TemanBaik tahu enggak bagaimana suasana Salat Jumat dengan jemaah mayoritas teman tuli alias tunarungu? Salah satunya bisa dilihat di musala SLBN Cicendo Kota Bandung.

BeritaBaik.id pun mengunjungi musala tersebut. Menjelang memasuki waktu untuk Jumatan, para siswa dan guru berbondong-bondong ke lokasi. Usai mengambil wudu, mereka dengan teratur masuk ke dalam musala.

Sepintas, memang suasana di sana tak berbeda jauh dengan Salat Jumat pada umumnya. Tapi, suasana berbeda terlihat saat khatib naik ke atas mimbar. Saat itu, yang menjadi khatib adalah Asep Sumarna (49). Ia merupakan guru di SLBN Cicendo. "Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh," ucap Asep sambil memeragakan bahasa isyarat untuk ucapan salam.

Setelah diselingi azan, Asep melanjutkan tugasnya sebagai khatib. Ia membuka dengan membacakan pembuka dalam bahasa Arab. Tak ada bahasa isyarat saat ia mengucapkannya.

Tapi, saat memasuki materi khutbah, Asep menyampaikannya dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia secara lisan dan bahasa isyarat. Sesekali, ia memberi gestur agar para jemaah tidak mengobrol meski menggunakan bahasa isyarat. Sebab, sesekali di antara jemaah memang ada yang mengobrol dengan gerakan tangannya.

Isi materi dari Salat Jumat itu cukup sederhana. Asep memaparkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun menyelinginya dengan contoh kehidupan para siswa di sekolah.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Adhi Kusumo Teman Tuli yang Jadi Juru Bahasa Isyarat

Salah satunya, guru tak bisa hadir mengajar, ia mengajak siswa untuk masuk ke perpustakaan dan membaca. Sehingga, waktu yang ada benar-benar bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bermanfaat.

Sebagian banyak dari siswa pun memperhatikan setiap gerakan tangan Asep saat berkhotbah. Tapi, ada juga beberapa yang terlihat menundukkan kepala. Setelah ceramah ditutup dengan doa, kegiatan diakhiri dengan Salat Jumat.

Karena mayoritas jemaahnya teman tuli, nyaris tak terdengar suara takbir selama salat, temasuk ucapan 'amin' saat selesai surah Al Fatihah. Hanya terdengar beberapa suara saja yang memang kebetulan jemaahnya bukan teman tuli.

Ditemui seusai Salat Jumat, Asep mengatakan Salat Jumat di SLBN Cicendo ada sejak akhir 2017. Tujuannya agar para siswa bisa Salat Jumat di satu tempat. Sebab, sebelumnya mereka terpencar melaksanakan Salat Jumat di masjid di luar sekolah.

Saat Salat Jumat di masjid, ada beberapa siswa yang kerap mengobrol meski dengan bahasa isyarat. Hal itu dirasa mengganggu. Sebab, dalam salat jumat jamaahnya tidak boleh berbicara, apalagi mengobrol.

"Akhirnya kita usulkan untuk mengadakan Salat Jumat di sini. Awalnya kita pakai satu kelas, kemudian dua kelas. Sampai akhirnya kita punya tempat seperti sekarang setelah mendapat bantuan juga dari pihak lain," jelas Asep.

Untuk khatib, yang bertugas di sana memang tidak bisa sembarangan orang. Sebab, khatib di sana harus bisa berbahasa isyarat karena penyampaian materi ceramah berbahasa lisan dan isyarat. Di SLBN Cicendo sendiri ada tiga guru yang biasanya giliran menjadi imam sekaligus khatib. Selain Asep, ada Tasdik dan Lucky.

Jika kebetulan ketiga guru ini tak bisa menjadi khatib, maka Asep akan mencari pengganti dari SLB yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Kalaupun khatib pengganti tak ada, siswa akan diarahkan untuk Salat Jumat di masjid di luar SLBN Cicendo.


Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler