Cegah Korupsi Sejak Dini ala Sakola Rajat Iboe Inggit Garnasih

Bandung - Korupsi seolah jadi hal biasa yang didengar di Indonesia, benar enggak TemanBaik? Hampir setiap hari selalu ada pemberitaan tentang kasus korupsi yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN), pejabat, anggota dewan, kepala daerah, menteri, pengusaha, serta berbagai pihak lainnya.

Tapi, masih ada banyak pihak yang peduli terhadap Indonesia, khususnya agar korupsi tak lagi terjadi. Berbagai cara pun dilakukan agar korupsi bisa dicegah. Salah satu yang melakukan pencegahan itu adalah kelompok atau rumah belajar Sakola Rajat (SR) Iboe Inggit Garnasih yang digagas Gatot Gunawan.

SR sendiri hadir sejak Maret 2017 di kawasan Liogenteng, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat. SR menggunakan aula RW 05 untuk dijadikan lokasi belajar. Apa yang diajarkan SR?

SR sendiri memiliki siswa yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Mereka adalah warga sekitar. Yang diajarkan di sini berfokus pada pembentukan karakter. Mereka diajarkan sejarah, seni, budaya, hingga olahraga.

"Untuk sejarah misalnya kita mengajarkan ejaan lama dan bahasa Belanda dasar. Untuk seni kita belajar tarian tradisional, tapi yang ada hubungannya dengan sejarah," ujar Gatot kepada BeritaBaik.id.

Dasar dari semua pengajaran di SR adalah sejarah. Dari sana, pelajaran berkembang dan melebar ke mana-mana. Dari sejarah, pembelajaran berlanjut ke seni hingga olahraga. Dengan cara ini, para siswa diajak mengenal sejarah lebih dulu. Setelah itu, baru pelajaran lainnya diberikan secara bertahap.

Untuk olahraga misalnya, SR memiliki semacam klub sepakbola dengan nama Maulwi Saelan. Nama itu sengaja diambil karena Saelan adalah sosok penting dalam sejarah. Saelan adalah pesepakbola hebat zaman dulu sekaligus seorang tentara. Saelan juga sempat menjadi ajudan Presiden pertama Indonesia Soekarno.

"Ending-nya setelah kariernya selesai, Saelan ini fokus pada dunia pendidikan, dia buka Yayasan Al Azhar," jelas Gatot.

Dari nama Saelan saja siswa diajak untuk menyelami lebih dalam soal sejarah dan sosoknya. Bukan hanya sepak terjangnya dalam sepak bola, tapi siswa diajak menelusuri sisi lain kehidupan Saelan sebagai pejuang hingga fokus pada dunia pendidikan usai pensiun.

Gatot sendiri tak berharap siswanya menjadi sosok Saelan masa kini. Tapi, minimal mereka diberi pengetahuan bahwa dulu ada sosok pejuang bernama Saelan dan ada pelajaran yang bisa dipetik.

"Terlepas nanti anak-anak suatu saat jadi atlet bola atau apa, ketika masanya beres (di masa tua) mau jadi apa, silakan saja. Tapi minimal kita kasih pembelajaran dan bekal buat mereka," ucapnya.

Baca Ini Juga Yuk: Tanamkan Nilai Anti Korupsi pada Anak Sejak Dini? Bisa Banget!

Terapkan Disiplin hingga Pakaian Tradisional
Hal unik lain dari SR Iboe Inggit Garnasih adalah para siswa diharuskan memakai seragam sekolah berupa pakaian tradisional khas Sunda. Pakaianya berupa baju berwarna hitam, lengkap dengan sarung, ikat kepala atau bendo, hingga sendal tarumpah khas Sunda.

Lewat seragam itu, siswa diajak untuk menjiwai lebih jauh seperti apa sekolah rakyat pada zaman dulu. Jadi, bukan hanya namanya, suasana SR benar-benar ditampilkan selayaknya sekolah rakyat.

Penerapan disiplin juga diberlakukan. Mulai dari siswa tak boleh datang terlambat, wajib memakai seragam, hingga penerapan tata krama yang baik. Sanksi pun siap diberikan jika mereka melanggar, yaitu berupa push up.

Bukan untuk menghukum secara fisik. Hukuman itu justru untuk membuat siswa sehat. Tapi, di saat yang sama, mereka diajak untuk memahami bahwa disiplin adalah kunci dari segalanya.

Selain disiplin, Gatot juga menerapkan nilai-nilai lainnya di SR. Bahkan, nilai yang diterapkan sesuai dengan sembilan nilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu Jupe Mandi Tangker Sabedil. Apa nih? Itu singkatan dari jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

Gatot mengaku memang tidak secara spesifik mengajarkan antikorupsi atau pencegahan korupsi. Tapi, apa yang ditanamkannya melalui SR adalah untuk membentuk karakter siswa. Meski begitu, apa yang dijalankan justru secara tidak sadar sesuai dengan sembilan nilai KPK.

Nilai-nilai yang diajarkan di SR memang terkesan sederhana. Tapi, hal itu justru penting sebagai pondasi anak sebelum menjadi dewasa. Nilai yang diajarkan diharapkan tertanam sehingga kelak mereka jadi pribadi antikorupsi. "Hal-hal kecil seperti begitu sebenarnya fundamental," ungkap Gatot.

Contoh hal kecil yang dimaksud misalnya soal disiplin dan tepat waktu. Jika datang terlambat, hal itu sebenarnya sudah bagian dari korupsi disiplin dan waktu. Soal kerja keras misalnya, siswa diajak untuk berlatih tekun tarian tradisional yang tak mudah dilakukan. Ada beragam proses yang perlu ditempuh agar tubuh mereka lentur dan bisa melakukan gerakan.

"Korupsi itu bukan hanya soal uang. Tapi maknanya cukup luas," tutur Gatot.

Saat ini, SR memiliki sekitar 40 siswa. Mereka terdiri dari siswa-siswa SD hingga tingkat SMA. Kegiatan belajar yang dilakukan biasanya dilakukan siang hingga sore dan di akhir pekan. Sesekali, siswa pun diajak menyelami sejarah sambil jalan-jalan, misalnya dibawa ke Museum Asia Afrika, makam khusus orang Belanda di kawasan Pandu, serta beragam tempat bersejarah lainnya.

Sejak berdiri, SR tidak memungut iuran sepeser pun pada siswa. Semua dilakukan Gatot dan seorang rekannya secara sukarela. Gatot pun menjadikan SR Iboe Inggit Garnasih sebagai baktinya untuk negeri. Meski yang diajarnya hanya puluhan siswa, ia berharap hal itu berdampak besar pada mereka. Apalagi jika kelak jadi pemimpin atau orang penting di negeri ini, nilai-nilai yang ditanamkan di SR diharapkan tetap terbawa.

Tapi, saat ini SR sedang melakukan pemutihan. Ia membuka pendaftaran kembali dari nol untuk mendata siapa saja siswa yang akan meneruskan belajar atau tidak. Sesuai hasil rembukan dengan orang tua siswa, akan ada biaya pendaftaran Rp10 ribu per orang. Selain itu, ada iuran Rp1.000 setiap kali pertemuan.

"Tapi, uang itu juga akan kembali ke mereka. Uangnya akan disimpan dan dipakai untuk kegiatan siswa selama belajar di SR," pungkas Gatot.


Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler