Kisah KPBS, Koperasi yang Naik Kelas Berkat Digitalisasi

Bandung - Warga di kawasan Bandung Raya pasti familiar dengan produk susu KPBS Pangalengan. Sebab, ada banyak penjual susu KPBS yang wara-wiri di jalan hingga ke gang kecil.

Susu yang dijual adalah susu pasteurisasi siap minum dengan kemasan cup atau plastik menyerupai bantal. Produk susu ini juga hadir di berbagai lokasi, mulai dari ritel hingga warung-warung kecil.

Sesuai namanya, susu itu adalah hasil produksi KPBS. KPBS sendiri merupakan singkatan dari Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS). Nama Pangalengan di belakang KPBS diambil karena lokasinya berada di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kantornya pun terletak tak jauh dari Kantor Kecamatan dan Terminal Pangalengan.

Anggota KPBS saat ini ada 4.500 anggota. Tapi, dari jumlah itu, anggota aktif ada sekitar 2.500 orang. Anggota itu disebut aktif karena memiliki sapi dan konsisten memasok susunya ke koperasi. Sedangkan sisanya disebut anggota tak aktif, karena tak lagi punya sapi dan tak mengirimkan susu lagi dengan berbagai alasan. Meski tak semuanya aktif, produktivitas susu KPBS Pangalengan masih tetap tinggi.

Banyak lika-liku yang dilalui KPBS sejak awal berdiri. Tapi, koperasi ini punya pondasi kuat karena para anggotanya memiliki keahlian berternak sapi yang diwariskan sejak zaman penjajahan kolonial Hindia Belanda. Bahkan, sapi-sapi yang ada sebelumnya adalah milik pemerintahan Hindia Belanda.

"KPBS ini memang awalnya kita meneruskan pendahulu, termasuk dari zaman Belanda. Karena Pangalengan ini salah satu yang ditinggali Belanda, mereka memelihara sapi waktu itu. Mereka meninggalkan sapi dan keahliannya (pada peternak)," kata Ketua Umum KPBS Pangalengan Aun Gunawan kepada BeritaBaik.

Awalnya, KPBS hanya menampung susu sapi dari peternak. Susu itu kemudian dijual ke beberapa industri besar. Tapi, seiring berjalannya waktu, KPBS mulai melebarkan sayap bisnisnya. Mereka mengolah sendiri susu dari peternak menjadi susu pasteurisasi kemasan, keju, butter, yoghurt, dan produk turunan lainnya. Beberapa produk itu pun sudah masuk ke hotel hingga restoran berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Bali.

"Sekitar 20 persen produksi susu dari anggota sekarang diolah jadi produk turunan," ungkap Aun.

Di Indonesia, KPBS jadi satu-satunya koperasi yang mengolah sendiri susunya menjadi produk dalam skala industri. Itu karena KPBS punya pabrik pengolahan sendiri yang lokasinya masih di sekitar kawasan Pangalengan.

"Misalnya di tempat lain mungkin ada (koperasi susu) yang bikin yoghurt, tapi masih dalam skala home industry (industri rumahan). Tapi kalau di kami sudah skala industri, semua peralatannya lengkap," jelas Aun.

Digitalisasi Memberi Arti

Dari segi bisnis, KPBS berkembang pesat sejak tiga tahun terakhir. Itu berkat penerapan digitalisasi dalam pengelolaan koperasi dengan konsep Enterprise Resource Planning (ERP). Sistem ini menghadirkan beragam kemudahan dan transparansi.

Dengan sistem ini semua terintegrasi pada satu server. Transasksi, jumlah susu yang disetor peternak, hingga berapa simpanan anggota semua terdata dengan baik. Tak ada lagi catat-mencatat manual di atas kertas. Semuanya bisa diselesaikan memanfaatkan teknologi.

Hal ini membuat kecurangan bisa diminimalisir. Tak ada lagi oknum nakal yang merugikan koperasi. "Namanya manusia, mungkin ada saja celah yang dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan negatif. Misalnya, setor 6 liter tapi ditulis 10 liter. Sekarang hal-hal seperti itu dipagari," jelas Aun.

Kepercayaan antara pengurus dan anggota pun terbangun karena digitalisasi menghadirkan transparansi yang mumpuni. Sebab, kini peternak dan pengurus koperasi bisa memantau transaksi penjualan susu secara online melalui milk collection point (MCP). Sistem seperti ini diterapkan di Belanda. KPBS bisa menjalankan sistem ini setelah mendapat bantuan dan bimbingan langsung dari pihak Belanda.

Lewat sistem MCP, peternak juga lebih diuntungkan. Sebab, susu dari mereka dijual dengan hitungan kilogram, bukan liter. Misalnya saat peternak menyetor 10 liter, saat ditimbang justru beratnya lebih dari 10 kilogram. Kelebihannya pun dibayar koperasi kepada peternak. Hal itu jelas membuat para peternak lebih sejahtera.

Pihak koperasi pun tak mengalami kerugian. Sebab, harga susu yang disetor peternak memiliki harga berbeda. Semakin tinggi kualitas susunya, semakin tinggi harganya. Pengukuran kualitas susu pun dilakukan dengan digitalisasi. Hal ini membuat oknum nakal yang biasanya mencampur susu dengan air atau kecurangan lainnya bisa diminimalisir.

"Jadi untuk peternak ini lebih menguntungkan, untuk koperasi juga enggak rugi," ucap Aun.

Mekanisme penyetoran susu pun cukup menarik. Saat peternak menyetor, mereka harus memindai barcode pada kartu yang dimiliki. Setelah transaksi selesai, semua akan didata. Semua data transaksi pun bisa didapat peternak melalui telepon genggam berbasis Android. Sedangkan data untuk koperasi masuk ke server.

Dampak yang paling terasa dari digitalisasi adalah minimnya 'kebocoran' susu. Sebelum penerapan digitalisasi, susu yang hilang misterius bisa mencapai 10 persen dari total yang tercatat. Sedangkan saat ini, paling besar tingkat kehilangan hanya 0,02 persen.

Kini, KPBS setiap harinya mampu menerima hingga 80 ton susu sehari dari sekitar 13 ribu ekor sapi milik peternak. Jumlah itu kemudian dipilah untuk dijual ke industri hingga diolah sendiri oleh KPBS.

Perputaran Uang Mencengangkan

Untuk skala koperasi, apa yang dilakukan dan dicapai KPBS cukup mencengahkan. Kini, perputaran uang KPBS dalam setahun mencapai Rp250 miliar. Bahkan, koperasi ini memiliki nilai aset hingga Rp130 miliar lebih. Jelas sangat jarang ada koperasi di Indonesia dengan pencapaian sebesar itu.

Peningkatan ini cukup tajam sejak digitalisasi dilakukan. Sebab, KPBS tumbuh semakin besar, termasuk beragam strategi bisnisnya. Hal ini menjadi bukti bahwa teknologi dan digitalisasi mampu membawa kemajuan berarti bagi koperasi yang jauh dari perkotaan tersebut.

Yang menarik, bukan hanya bergerak dalam seputar penjualan dan pengolahan susu. Salah satunya sejak 25 tahun lalu, KPBS memiliki Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bandung Kidul. "Kami satu-satunya koperasi yang punya BPR. Pengelolaannya juga berbentuk PT agar profesional," tutur Aun.

Melalui BPR, anggota koperasi punya keuntungan tersendiri. Bunga untuk pinjaman bagi mereka jauh lebih kecil dibanding untuk nasabah umum. Selain itu, masih ada beragam keuntungan lain yang diterima. Tapi, intinya hasil perputaran uang di BPR ujungnya juga bisa dinikmati anggota koperasi.

KPBS pun secara perlahan membuktikan pada publik bahwa koperasi bisa maju. Bahkan, KPBS banyak dijadikan percontohan sebagai koperasi sukses di Indonesia. Banyak pengurus koperasi dan berbagai lembaga yang belajar pengelolaan koperasi ke KPBS.

"Koperasi itu imej di masyarakat dipandang sebelah mata. Tapi, alhamdulillah, KPBS makin ke sini makin baik, makin dihargai anggota, pihak lain, bahkan pemerintah. Banyak yang ingin kerjasama juga karena KPBS memiliki kredibilitas cukup tinggi," jelas Aun.

Asuransi Sapi dan Misi Gaet Anak Muda

Hal menarik lain dari KPBS adalah banyaknya kemudahan bagi anggota koperasi dan keluarganya. Mereka mendapatkan asuransi untuk pengobatan jika sakit.

Bahkan, sapi peternak pun dilindungi asuransi. Jika sapi sakit, biaya perawatan akan ditanggung. Bahkan, jika sapi hilang karena dicuri atau harus dipotong karena alasan tertentu, ada penggantian yang diberikan.

"Penggantiannya maksimal Rp10 juta per ekor," jelas Aun.

Dengan berbagai hal yang sudah dilakukan, Aun mengatakan KPBS tak akan berhenti berinovasi. Saat ini, pihaknya sedang merancang program agar anak-anak muda di Pangalengan, khususnya keluarga peternak, untuk mau meneruskan usaha peternakan orangtuanya.

Tapi, perlu usaha keras agar membuat mereka tertarik menjadi peternak. Itu karena menjadi peternak memang secara penampilan tak sekeren bekerja kantoran. Padahal, secara keuntungan, menjadi peternak jauh lebih menjanjikan daripada kerja kantoran.

Apalagi, kebutuhan susu sapi di Indonesia secara umum baru bisa dipenuhi 10-20 persen saja. Artinya, peluang bisnis susu sapi bagi peternak sangat terbuka lebar.

"Anak muda sekarang lebih tertarik bekerja di tempat yang ada digitalisasi. Bahkan mereka lebih memilih kerja di minimarket atau pabrik. Padahal daripada kerja di situ lebih menjanjikan jadi peternak sapi," ungkap Aun.

Paradigma itu yang harus diubah pada anak muda di Pangalengan. Tapi, untuk mengubahnya, KPBS terus mencari solusi agar peternakan sapi bisa terlihat lebih keren di mata anak muda. Langkah pun sudah dilakukan. Beberapa peternak kini sudah mulai memakai alat pemerah susu sapi. Sehingga, mereka tak lagi memerah secara manual menggunakan tangan, melainkan dengan mesin.

Saat ini, alat itu baru dipakai belasan peternak saja. Sebab, masih ada yang berpikir alat itu mahal. Padahal, alat itu sangat menjanjikan untuk investasi jangka panjang. Keuntungan pun akan lebih banyak karena tak perlu lagi membayar banyak pekerja untuk memerah susu sapi.

Hal ini yang kemudian akan digencarkan KPBS kepada anggota dan anak muda di Pangalengan. Sehingga, secara perlahan peternakan di Pangalengan diharapkan bisa lebih modern dan dilirik anak muda. Sebab, peternakan bisa naik kelas dan tampak keren di mata anak mereka.

"Di zaman sekarang, modernisasi ini suatu keniscayaan di sektor apapun, termasuk di sektor pertanian," pungkas Aun.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler