Saat Perempuan Berbagi Solusi Masalah Sampah Rumah Tangga

Bandung - Sampah memang menjadi permasalahan yang tidak pernah usai. Sebab, secara tidak langsung setiap harinya kita pasti menghasilkan sampah. Karena itu lah untuk menumbuhkan kepedulian akan sampah, BeritaBaik.id menggelar acara bertajuk "Minim Sampah dari Rumah" pada Selasa (29/10/2019) di Lo.Ka.Si Bandung.

Dengan menghadirkan para pembicara seperti Ranie Untara, Bea Bethari dan Siska Nirmala, ketiganya berbagi cerita mengenai bagaimana mereka mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau TemanBaik belum tahu, setiap harinya Kota Bandung menghasilkan 1.500 ton yang artinya sama dengan seluas lapangan sepakbola. Sebanyak 1,3 milyar ton makanan juga terbuang setiap tahunnya.

Seperti Ranie Untara yang sudah memulai gaya hidup less waste sejak dua tahun lalu. Di rumahnya, ia mempunyai empat tempat sampah besar untuk menampung sampah berupa kardus bekas, botol-botol, kemasan sisa snack makanan yang berbahan alumunium hingga baterai.

"Untuk mengurangi sampah mau enggak mau, kita harus memilah sampah yang dihasilkan. Saya tiap minggu selalu melakukan hal itu. Asisten rumah tangga juga diajarkan untuk melakukannya, walaupun baru sebatas memilah sampah kering dan sampah basah saja," ujarnya.

Selain menyediakan beberapa tempat sampah besar, Ranie juga melakukan komposter drum biru. Jadi, sampah-sampah organik yang ada di rumahnya disimpan di drum besar untuk kemudian dijadikan kompos.

Berita Foto: Cari Cara Buat Minim Sampah dari Rumah

Lain dengan Ranie Untara yang menggunakan metode komposter drum biru, Siska Nirmala juga rupanya memisahkan sampah untuk memprosesnya menjadi pupuk kompos dengan menggunakan metode komposter keranjang takakura. Menurut Siska, dengan mengompos sendiri artinya kita sudah menyelesaikan 50 persen permasalahan sampah organik.

"Saya menggunakan metode komposter keranjang takakura karena tidak punya halaman yang luas. Sebab, untuk mengompos itu perlu ada beberapa pertimbangan juga. Apakah punya halaman yang luas apa tidak. Karena halaman saya tidak luas dan tidak memiliki jadi menggunakan metode ini dan bisa disimpan di area lain," papar perempuan yang sudah memulai gaya hidup zero waste sejak tahun 2013 ini.

Siska juga menyarankan untuk TemanBaik yang ingin melakukan komposter perlu mempertimbangkan beberapa hal. Mulai dari pola konsumsi makanan sampai metode yang ingin digunakan.

"Pertimbangkan pola konsumsi, rumah yang memiliki jumlah keluarga banyak tentu metode komposternya juga lain, bisa menggunakan komposter drum baru. Karena saya hanya tinggal berdua dengan suami di rumah, jadi saya pilih komposter keranjang takakura. Yang jelas sih sesuaikan juga dengan budget. Pilih komposter yang menurut kamu paling mudah saja," tandasnya.

Sementara itu, Bea Bethari, founder Plastavfall Solution bercerita jika di rumah orang tuanya memang sudah memisahkan sampah organik dan anorganik. Jadi secara tidak langsung, hal itu lah yang membuat Bea menjalankan gaya hidup minim sampah.

"Sejak mendirikan Plastavfall pada 2016 saya memang ingin masyarakat lebih paham tata cara mengelola sampah rumah tangga. Saya juga punya visi agar orang-orang bisa memilah sampah tapi dengan mendapatkan edukasinya juga," paparnya.

Ia juga menceritakan jika orang tua nya kadang memilah sampah untuk kemudian diberikan kepada pemulung. Walau memang tidak semua jenis sampah mereka terima.

"Keluarga ingin agar sampah di rumah aman. Jadi memilah sampah organik dan anorganik. Ibu saya juga mulai mengurangi penggunaan plastik dan membawa tumbler. Jadi sekeluarga memang mencoba lebih struggle dalam memilah sampah," akunya.

Jadi sebenarnya TemanBaik untuk mengurangi sampah dari rumah itu enggak sulit kok. Karena bisa diawali dengan hal-hal yang mudah dulu. Semoga dari sekian cara yang telah dilakukan oleh tiga orang di atas setidaknya bisa memberikan inspirasi buat kamu ya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler