Komunitas Bangun Ikat, Pulihkan Korban Bencana dengan Terapi Seni

Bandung - TemanBaik pasti sudah mendengar bagaimana dahsyatnya gempa di Lombok pada Juli 2018 dan gempa berujung tsunami di Selat Sunda (Banten) awal 2019. Tak lama setelah bencana terjadi, berbagai bantuan berdatangan ke lokasi.

Institut Teknologi Bandung (ITB) pun menurunkan tim khusus, yaitu Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Mereka tergabung dalam Komunitas Bersama Bangun Ikat (KBBI). Ada dua tim yang dikirim dengan masing-masing anggotanya berjumlah belasan.

Yang berbeda, kedua tim ini terjun beberapa bulan setelah bencana terjadi. Mereka membawa misi memulihkan kehidupan sosial para penyintas atau korban gempa dan tsunami di masing-masing lokasi. Pendekatan yang dipakai adalah psychosocial capacity building (PCB).

Salah satu yang menarik dari pendekatan itu adalah dilakukannya art therapy atau terapi melalui seni. Para penyintas bencana di lokasi pun diajak untuk membuat karya, baik melalui gambar, tarian, atau ragam kegiatan seni lainnya.

Secara perlahan, kehidupan sosial di sana pun kembali pulih. Kawasan eco tourism di Lombok misalnya, kawasan ini kembali pulih dan masyarakatnya kembali bergairah untuk menggerakkan pariwisata di sana.

"Eco tourism di sana sudah mulai (bergeliat) lagi, warganya juga jadi lebih semangat lagi, dan itu saya yakin pasti berdampak pada perkembangan kampung (dan warga) setempat," kata Ardhana Riswarie di sela diskusi Bangun Ikat di Kampus ITB, Kota Bandung, Jumat (15/11/2019).

Berbagai pengalaman tim KBBI pun sengaja dibagikan melalui diskusi Bangun Ikat. Harapannya, para mahasiswa dan tamu undangan yang hadir bisa terinspirasi untuk melakukan kebaikan. Bahkan, mereka diajak untuk sama-sama mengumpulkan ide untuk berperan dalam penanganan bencana.

"Kita sengaja bikin diskusi untuk memantik pertanyaan supaya kita bisa ikut berpikir kalau terjadi kebencanaan kita harus berperan seperti apa," tutur Ardhana.

Hadirkan Keceriaan hingga Karya
Keceriaan jadi salah satu misi yang ingin dicapai tim KBBI. Hal itu pun bisa didapat. Sebab, tim bisa bersama-sama para penyintas bencana, melakukan ragam kegiatan menyenangkan, serta tentu membuat mereka tersenyum.

Tapi, tentu ada kesedihan. Sebab, kebersamaan mereka dengan penyintas bencana harus berakhir. Sementara mereka satu sama lain sudah mulai akrab, bahkan sudah seperti keluarga. Salah seorang anggota tim bahkan hingga menemukan seorang nenek yang menangis ditinggalkan tim.

Ada juga anggota tim yang sebelumnya sulit untuk dekat anak-anak. Tapi, saat di tempat bencana, ia justru mendadak bisa dekat dengan mereka. Bahkan, ia bisa bertingkah selayaknya anak-anak agar bisa berbaur dan menghadirkan keceriaan.

Abdurrahman Ayasy, salah seorang anggota tim, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga. Ia mengaku menjadi pribadi yang bisa lebih mendengarkan orang lain. Ia pun belajar untuk lebih peka.

"Sekarang jadi ada perspektif perasaan yang harus dibawa ketika turun ke daerah bencana," tutur Ayasy.

Sementara itu, selain diskusi, di sekitar area kegiatan juga dipasang beberapa foto kegiatan tim saat di lokasi bencana Lombok dan Banten. Ada juga gambar hasil goresan tangan anak-anak penyintas bencana.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler