Syhafiro Herlangga dan Cerita Patung Badak di Lokasi Tsunami

Bandung - Jika TemanBaik berkunjung ke Kampung Paniis, Desa Taman Jaya, Kabupaten Pandeglang, Banten, pasti akan menemukan sebuah patung badak. Patung ini memiliki tinggi 1,2 meter dan panjang 2,5 meter. Patung ini terletak di dekat pantai di wilayah utara Taman Nasional Ujung Kulon.

Apa sih yang menarik dari patung berbentuk badak itu? Patung itu ternyata berdiri tegak di area yang merupakan bekas hantaman tsunami pada akhir Desember 2018 lalu. Kampung Paniis sendiri merupakan salah satu kawasan yang terdampak cukup parah dalam peristiwa gempa bumi berujung tsunami saat itu di kawasan Pandeglang.

Sempat terpuruk, Kampung Paniis yang merupakan kawasan wisata pun perlahan mulai bangkit. Selain adanya pembinaan dari berbagai pihak terhadap warga setempat, tentu hadirnya sosok badak jadi penanda kebangkitan sektor pariwisata di sana.

Sejak pertengahan 2019, patung itu hadir. Salah seorang aktor di baliknya adalah Syhafiro Herlangga Sareh (23), pria yang belum lama ini lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Bagaimana jalan ceritanya?

Pada Juli 2019, Syhafiro menjadi salah seorang anggota tim Pengabdian Masyarakat FSRD ITB yang bernama Komunitas Bersama Bangun Ikat (KBBI). Tim itu datang ke sana dengan tujuan besar memulihkan kehidupan sosial beberapa bulan pasca terjadinya tsunami.

Saat itu, ia bersama Kelompok Paniis Lestari yang merupakan warga setempat berdiskusi untuk membuat monumen. Patung badak kemudian dipilih karena daerah setempat identik dengan badak.

"Rencana awalnya, kita mau bikin patung badak itu dari puing-puing bangunan bekas tsunami. Ternyata puingnya enggak banyak karena sudah banyak yang dibersihkan. Akhirnya kita bikin dari karang dan sedikit sisa bangunan," kata Syhafiro kepada BeritaBaik.id.

Butuh waktu sekitar sepekan baginya untuk merancang hingga menyelesaikan pembuatan patung bersama warga setempat. Yang paling sulit tentu proses pengerjaannya. Sebab, ia dan warga harus bergulat dengan panasnya terik matahari mengingat lokasinya dekat dengan pantai.

"Proses pengerjaannya karena di pinggir laut, panasnya bikin enggak tahan. Kita bikinnya setiap jam 07.00-14.00 WIB," tuturnya.

Hasilnya pun tak sia-sia, patung badak berhasil dibangun. Bahkan, harapannya patung itu jadi ikon baru yang bakal menarik banyak wisatawan datang ke lokasi. Semakin banyak wisatawan yang datang, maka kegiatan ekonomi warga pun bakal makin bergeliat, termasuk kehidupan sosialnya.

"Harapannya itu jadi ikon Kampung Paniis agar wisatawan lebih banyak lagi yang datang. Sekarang juga sudah mulai banyak yang penasaran datang ke sana dan berfoto," jelas Syhafiro.

Dijebak hingga Menikmati
Yang enggak kalah menarik selain pembuatan patung badak adalah kepergian Syhafiro ke Kampung Paniis. Sebelum berangkat, ia diajak rekan-rekannya dengan dalih untuk berwisata. Tapi, belakangan ia tahu akhirnya rencana kepergian ke Kampung Paniis adalah untuk melakukan penanganan pascabencana.

"Awalnya memang saya dihasut ikut liburan, tapi ternyara itu program untuk terapi (korban bencana tsunami). Akhirnya saya tetap ikut," kata anak pertama dari dua bersaudara itu.

Pria kelahiran Bogor, 20 Agustus 1996 ini pun merasa tertarik untuk ikut bersama tim dari KBBI. Sebab, saat itu ia baru saja menuntaskan tugas akhir kuliah dengan tema besarnya mitigasi bencana. Di lokasi justru jadi ajang baginya untuk mengimplementasikan hasil tugas akhirnya.

Secara perlahan, ia menanamkan pemahaman seputar mitigasi bencana pada warga sekitar. Bukan dengan cara formal, tapi melalui perbincangan ringan saat berbaur bersama warga. Waktu tinggal selama 10 hari pun benar-benar dimaksimalkan.

"Saat itu saya masih mahasiswa, wawasan yang didapat bisa disampaikan di sana, walaupun enggak dalam (melalui cara formal), tapi kita bisa sampaikan di sana. Misalnya soal tanda evakuasi, mereka bingung. Tapi pas kita datang kita jelasin," tutur Syhafiro.

Ia pun menikmati kedekatannya dengan warga. Apalagi, mereka memberi sambutan hangat dan menerima tim dengan baik. Salah satu yang akan dikenangnya adalah kebiasaan ngopi bersama warga sebelum memulai perbincangan.

"Mereka selalu bilang dikopian (minum kopi) dulu sebelum ngobrol. Jadi, setiap hari kita ngobrol sambil ngopi," jelasnya.

Selain kenyamanan bersama warga, ia juga secara tidak langsung justru tetap bisa berwisata. Keinginan untuk melihat matahari terbenam hingga minum air kelapa bisa diwujudkan.

"Yang saya mau di pantai melihat sunset dan minum air kelapa, itu ada di sana. Akhirnya saya menikmati semua proses di sana. Di sana juga bisa main bareng sama warga, main bola, dan lain-lain. Lumayan untuk menyegarkan pikiran setelah tugas akhir," ungkap Syhafiro.
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler