Kisah Anak-anak Pejuang Kanker yang Penuh Semangat

Bandung - TemanBaik, kamu dapat salam nih dari anak-anak pejuang kanker di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung! Mereka adalah Sifa Nuraeni (10) dan Fery Irawan (7). Seperti apa kisah mereka dalam pergulatannya melawan kanker? Yang pasti, besarnya semangat hidup mereka bakal bikin kamu iri.

Sosok pertama adalah Sifa Nuraeni. Ia terlihat begitu ramah. Tak ada sedikt pun wajah kesedihan meski ia mengidap leukemia atau sering disebut juga kanker darah. Penyakit itu diidap anak asal Cianjur tersebut sejak usia 6 tahun.

"Kalau lagi terasa, sakitnya itu di tulang, diusap atau dipijat juga enggak kerasa. Kadang mau tidur juga susah," ucap Sifa saat ditemui di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung, Rabu (20/11/2019).

Rasa sakit itu begitu akrab dengan Sifa sejak usia 6 tahun. Ia pun jelas tak pernah membayangkan harus menerima rasa sakit itu, termasuk orang tua dan keluarganya. Sekitar 4 tahun, ia akhirnya akrab dengan perawatan di rumah sakit, kemoterapi, hingga obat yang rutin dikonsumsi setiap hari.

Belum cukup dengan rasa sakitnya, ia juga beberapa kali mendapat perlakuan tak menyenangkan dari teman-temannya. Bahkan, ia mengaku pernah dipukul di sekitar area tulang belakang yang berujung memburuknya kesehatan hingga mendapat perawatan medis.

Baca Ini Juga Yuk: Kegigihan Andreas Alex, Remaja Difabel yang Rintis Bisnis Online

Tebak apa yang dilakukan Sifa saat mendapat beragam perlakuan tak menyenangkan? Ia lebih banyak diam! "Kadang suka diledekin, digimana-gimanain sama teman. Marah mah marah, kesel, tapi saya diemin aja," tuturnya.

Sifa sendiri punya cita-cita tinggi dan mulia loh TemanBaik. Ia ingin menjadi dokter karena ingin menyembuhkan orang-orang yang sakit. Selain itu, masih ada cita-cita lain yang enggak kalah luar biasa. "Saya ingin bahagiain orang tua, ingin berangkatin mereka naik haji," ungkap Sifa.

Sosok berikutnya adalah Fery Irawan yang berasal dari Kabupaten Karawang. Berbeda dengan Sifa, Fery terlihat sangat pemalu. Bahkan, ia cukup sulit diajak berbincang oleh orang yang baru dikenalnya. Saat diajak berbincang, jawaban yang dikeluarkannya sangat irit. Bahkan, sering kali ia hanya tersenyum dan tertunduk.

Saat ditanya soal cita-cita, cukup sulit memancingnya agar mengeluarkan jawaban. Tapi, ia akhirnya mengeluarkan kalimat berisi mimpinya di masa depan. "Cita-citanya mau jadi polisi, mau nangkapin penjahat," ujarnya sambil malu-malu dan menundukkan wajah.

Menurut sang ibu, Wiwin Windarti (38), Fery memang sosok yang pemalu. Tapi, jangan salah, ia punya semangat yang begitu luar biasa. Bahkan, Fery bukan pribadi yang suka mengeluh, termasuk soal penyakit Leukemia yang dideritanya sejak usia 4 tahun.

Fery sendiri cukup sering bolak-balik ke Bandung untuk melakukan terapi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Selama menjalani pengobatan atau terapi di Bandung, ia dan sang anak biasanya tinggal di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung.

Baca Ini Juga Yuk: Difabel Tak Halangi Mahasiswa UGM Ini Raih Segudang Prestasi

"Kalau lagi sakit, dia biasanya lemas, kulitnya kuning, perutnya juga jadi gendut," tutur Wiwin.

Sama dengan Sifa, Fery juga bukan pribadi yang doyan mengeluh. Segala proses pengobatan pun dijalani tanpa mengeluh meski sang anak tak paham sakit apa yang diidapnya. Satu keluhannya hanya sesekali mengatakan obatnya pahit. Di luar itu, tak ada keluhan berarti yang diungkapkan Fery.

Ia lalu berbagi cerita soal pengalamannya saat tahu sang anak mengidap leukemia dari salah satu rumah sakit di Karawang. Pikirannya langsung kacau. Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa sang anak harus mengidap penyakit tersebut. Sebagai orang tua, semangatnya sempat drop. Apalagi, dari keterangan dokter, disebutkan bahwa proses penyembuhan sang anak akan sangat lama.

Tapi, ia kemudian bangkit setelah cukup sering tinggal di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung. Di rumah singgah gratis yang didirikan Dewi Nurjanah ini, ia mendapat banyak dorongan semangat, baik dari Dewi maupun para orang tua yang anaknya mengidap kanker.

"Saya mulai bangkit setelah ke sini, apalagi di sini juga banyak teman-teman. Kalau dulu saya sempat mengurung diri dan enggak tahu harus berbuat apa," jelas Wiwin.

Sementara itu, pendiri Rumah Cinta Anak Kanker Bandung Dewi Nurjanah, semangat para anak pejuang kanker di tempatnya sangat luar biasa. Apalagi, di tempat itu mereka bisa berinteraksi dan saling membangkitkan semangat satu sama lain di antara para pejuang kanker. Apalagi, perempuan yang akrab disapa Ambu itu kerap memberi motivasi dengan berbagai cara para mereka.

"Kalau melihat semangatnya, semangat anak-anak ini tinggi banget. Kalau awal-awal datang ke sini memang ada yang murung, tapi setiap hari kita pupuk motivasi mereka, kita berikan kasih sayang, sehingga mereka bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih baik. Saya selalu berpikir mereka ini anak-anak calon pejuang bangsa, harus sembuh dan semangat," tutur Ambu.

Rumah Cinta Anak Kanker Bandung sendiri adalah rumah singgah bagi anak-anak pejuang kanker. Di sini mereka mendapat beragam fasilitas yang semuanya gratis. Selama 8 tahun berdiri, sudah lebih dari 500 anak mendapatkan layanan gratis di sana. Mereka yang tinggal pun seolah menjadi keluarga satu sama lain.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler