Kenalkan Apa Itu Korupsi, Pemkot Surabaya Luncurkan Program Ini

Surabaya - Untuk mewujudkan cita-cita membangun generasi antikorupsi sejak dini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkolaborasi dengan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) meluncurkan program Guru Pembangun Peradaban.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, program ini akan diterapkan di semua sekolah, mulai dari SD dan SMP, baik itu sekolah swasta mau pun negeri se-Surabaya. Nantinya, program ini akan dikemas dalam bentuk yang semenarik mungkin agar siswa dapat menerima pesan dengan baik.

“Jadi itu nanti anak-anak diajarkan tidak boleh nyontek dan harus disiplin. Membangun karakter yang baik untuk anak dalam bentuk permainan, sehingga anak-anak senang menerimanya,” kata Risma yang diterangkan di laman humas.surabaya.ac.id.

Risma berpesan kepada para guru, agar mereka terus mengajarkan pada anak didiknya untuk bersikap jujur. Termasuk saat mereka menginginkan sesuatu, agar dilakukan dengan kerja keras terlebih dahulu.

"Misalnya, jika di sekolah anak-anak ingin mendapatkan nilai bagus, maka harus belajar. Bukan didapat dari cara yang mudah. Harus belajar dan tidak menyontek,” terangnya.

Dengan begitu, maka anak-anak tersebut akan mempunyai karakter. Karena, untuk membangun karakter anak, memang harus dilakukan sejak dini.

Oleh sebab itu, ia juga meminta kepada Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya untuk menerapkan cinta Indonesia dan cinta tanah air kepada para pelajar.

“Makanya melalui Dispendik saya minta anak-anak untuk cinta Indonesia, cinta tanah air sejak dini. Itu karena kita semua beragam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan menyampaikan, Surabaya merupakan kota pertama pelaksana program Guru Pembangun Peradaban. Untuk mendukung berjalannya program itu, nantinya akan memberikan pelatihan kepada seribu guru di Surabaya.

“Dari 1000 guru ini, nanti mereka akan mengajarkan kepada para guru yang belum mendapatkan pelatihan agar lebih efektif,” kata Basaria.

Ia menjelaskan, pelatihan ini nantinya akan terbagi menjadi beberapa kloter dalam setahun. Sedangkan untuk per sesinya, akan diisi 50 guru.

Dengan metode ini para siswa akan diajarkan mengenai apa saja hal-hal yang termasuk dalam kategori korupsi. Misalnya, mengambil sesuatu yang bukan milik pribadi, menyontek dan hal mendasar lainnya.

“Semua itu kami kenalkan dan ajarkan sedini mungkin. Meskipun terlihat sederhana, tapi pada saat besar karakter ini yang akan melekat pada diri mereka,” paparnya.

Foto: humas.surabaya.go.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler