Menyulap Asa dan Wajah Pesantren di Jawa Barat

Bandung - Keberadaan pondok pesantren biasanya identik dengan dunia pembelajaran seputar dunia Islam. Tapi, di Jawa Barat paradigma itu perlahan diperbaharui setelah sekitar setahun lalu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menggulirkan program One Pesantren One Product (OPOP) alias Satu Pesantren Satu Produk.

Melalui OPOP, pondok pesantren diharapkan bisa membuat produk dan memasarkannya. Dengan cara itu, pesantren diharapkan memiliki kemandirian dan geliat ekonomi. Sehingga, pesantren tak lagi sekadar tempat belajar agama, tapi juga kegiatan ekonomi yang mumpuni.

Para santri pun diharapkan terampil dalam berbisnis karena mereka diajak untuk praktik berbisnis secara langsung, bukan sekadar teori. Selain itu, elemen lain di pesantren, termasuk umat dan warga setempat diharapkan terkena dampak positifnya.

"Tujuan dari program One Pesantren One Product ini ingin memberdayakan ekonomi pondok pesantren. Dengan program ini diharapkan pondok pesantren akan mandiri dalam pengembangan ekonomi, santrinya juga bisa jadi santripreneur," ujar Kepala UPTD Diklat Perkoperasian dan Wirausaha Jawa Barat Deni Hadoyo.

Dalam 5 tahun, diharapkan akan ada 5.000 pesantren yang jadi peserta OPOP dengan rata-rata 1.000 pesantren setiap tahunnya. Untuk tahap awal, ada 1.074 pondok pesantren yang jadi peserta OPOP. Mereka terjaring dari 1.565 pondok pesantren yang mendaftar melalui laman www.opop.jabarprov.go.id.

Baca Ini Juga Yuk: Ayo Ke Gedung Sate! Sabtu Ini Akan Dipenuhi Produk Pesantren

Setelah diseleksi, akhirnya didapat 1.074 pesantren yang berhak mengikuti program OPOP. Masing-masing pesantren mendapat hadiah berupa pelatihan dan pemagangan, bantuan penguatan modal usaha Rp25-30 juta, pendampingan usaha, promosi produk, hingga temu bisnis.

Secara perlahan, pesantren yang mengikuti program OPOP pun diharapkan memiliki bisnis besar. Mimpi besarnya, pesantren-pesantren ini kelak akan memiliki produk barang maupun jasa hingga menembus pasar internasional.

Ini bukan sekadar mimpi semata loh TemanBaik. Langkah awal sudah dilakukan setelah lima pesantren dibawa untuk mempromosikan produknya dalam Halal Expo di Turki baru-baru ini. Lima pesantren ini adalah pesantren unggulan yang kegiatan bisnisnya menjadi percontohan bagi yang lain. Bahkan, kelima pesantren ini dijadikan mentor bagi pesantren dalam pelatihan bisnis.

Hasil manis pun sudah didapat dari keikutsertaan di ajang tersebut. Contohnya, Pesantren Nurul Iman Bogor sudah mendapat ajakan kerjasama dari Senegal dan Pondok Pesantren Al Ittifaq Bandung mendapat ajakan ekspor rempah-rempah dari negara lain.

Ketua Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhiid (DT) Bandung Peri Risnandar memandang keikutsertaan pesantren dari Jawa Barat dalam Halal Expo di Turki sebagai langkah besar. Pesantren justru diajak untuk memiliki visi besar, bukan hanya mengembangkan bisnis di dalam negeri, tapi hingga luar negeri.

"Ini jadi langkah awal supaya produk pesantren bisa go international," ucap Peri.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler