Ada Alat Pendeteksi Stunting Balita Nih, Seperti Apa Ya?

Jakarta - Balita memang disinyalir rawan terkena stunting. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, lebih kurang satu di antara tiga balita di Indonesia mengalaminya. Stunting sedniri merupakan kondisi malnutrisi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak tidak sesuai dengan umurnya.

Oleh karena itu untuk mendeteksinya Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengembangkan sebuah alat yang mudah, cepat, dan tepat dalam mendeteksi stunting pada balita. Apakah itu?

Alat tersebut hadir dengan bentuk Lengthboard/stadiometer, yang mana telah dimodifikasi sehingga bisa cepat dan tepat mendeteksi stunting pada balita sesuai umur dan jenis kelaminnya.

Untuk memaksimalkan penggunaannya, Tim Pengmas FKM UI pun memberikan edukasi kepada kader posyandu mengenai stunting dan cara penggunaan alat tersebut yang dilakukan sejak bulan Juli pada tiga titik Posyandu terpilih, yaitu Posyandu Teratai Putih 2, Posyandu Cempaka dan Posyandu Wijaya Kusuma.

Salah satu Guru Besar FKM UI Endang L. Achadi menjelaskan bahwa permasalahan stunting bukan hanya tentang ukuran fisik yang pendek, tetapi lebih pada konsep bahwa proses terjadinya stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuh lainnya, termasuk otak.

"Artinya, seorang anak yang menderita stunting kemungkinan besar juga akan berisiko mengalami kurangnya kemampuan kognitif yang menyebabkan anak kurang cerdas," ujarnya yang dilansir di laman resmi ui.ac.id.

Baca Ini Juga Yuk: Turunkan Angka Stunting, Jawa Barat Kini Punya Desa Cageur

Selain itu, menurutnya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ lain seperti jantung, ginjal, dan lainnya akan meningkatkan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) di usia dewasa, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan lainnya. Dengan latar belakang permasalahan tersebut, tim Pengmas FKM UI kemudian menjalankan aksi nyata ini.

"Selama ini, kader posyandu hanya melakukan pengukuran panjang/tinggi badan balita, sedangkan penentuan status stunting tidaknya dilakukan oleh petugas Gizi Puskesmas," ungkap Ketua Pengmas Siti Arifah.

Diharapkan dengan adanya kemudahan pada alat ukur di Puskesmas, stunting dapat lebih dini diketahui. Semakin cepat stunting dideteksi, maka semakin cepat upaya pencegahan atau penanganan dapat diberikan.

"Selain itu, kami juga melakukan pembekalan informasi mengenai Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang sesuai dengan tahapan usia anak," bebernya.

Adapun rangkaian program dijalankan berupa pemberian pelatihan untuk seluruh kader di tiga posyandu terpilih mengenai stunting dan cara mendeteksi stunting.

Dilanjutkan dengan melakukan praktik menghitung umur anak, mengukur panjang dan tinggi badan, mengkonversi hasil ukur ke dalam z-score, menginterpretasikan hasil ukur, serta mengedukasi kader tentang cara menggunakan lengthboard/stadiometer yang telah dimodifikasi sebagai alat deteksi cepat stunting.

Siti juga berharap agar penggunaan lengthboard/stadiometer modifikasi tersebut dapat diterapkan di lebih banyak Posyandu, sehingga pencegahan dan penanganan bisa dilakukan dengan sesegera mungkin.

"Harapnya jika ditemukan anak yang stunting dapat dilakukan agar anak tersebut dapat mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. Dan juga memiliki peluang yang sama besarnya dengan anak yang tidak stunting untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berprestasi di kemudian hari," tutup Siti Arifah.


Foto: ui.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler