4 Tips Menjadi Caregiver untuk Orang Dengan Bipolar

Bandung - Menjadi orang terdekat dari penyintas bipolar memang tidaklah mudah. Selain harus memiliki perlakuan khusus kepada penyintas, lebih dari itu banyak hal dan pengetahuan yang perlu dimiliki dalam merawat orang dengan bipolar (ODB). 

Bipolar sendiri memiliki arti gangguan kesehatan mental ketika mood penyintasnya naik dan turun secara drastis. Meskipun hampir semua  pasti pernah mengalami mood yang naik turun, namun pada kasus bipolar perubahan mood yang drastis tersebut sangatlah ekstrim.

Di Indonesia sendiri ada komunitas yang berfokus pada bidang kesehatan jiwa, kuhususnya bipolar sejak 2013 silam. Bipolar Care Indonesia adalah komunitas yang mewadahi penyintas bipolar beserta caregivernya dan siapa saja yang peduli dengan bipolar. Program mereka sendiri antara lain memberi dukungan, edukasi, dan beragam aktivitas. Untuk di Bandung sendiri, Bipolar Care Indonesia Simpul Bandung sudah berdiri sejak 2017 lalu. 

Menjadi caregiver tentu tidak bisa sembarangan, selain perlu kesabaran dan pemahaman ekstra. Berikut adalah hal-hal yang perlu TemanBaik perhatikan untuk menjadi caregiver yang baik saat mendapingi orang dengan bipolar (ODB). 

Berdasarkan data dari Bipolar Care Indonesia Simpul Bandung dan publikasi dari Universitas Melbourne dan Orygen Youth Health yang berjudul 'A Guide For Caregivers of Bipolar Disorder', membahas secara mendalam bagaimana idealnya seorang caregiver bipolar membantu kesuksesan pengobatan bipolar. 

Baca Ini Juga Yuk: Bipolar Care Indonesia Bandung, Saling Menguatkan Melawan Stigma

1. Mengenal Fase Depresi, Hypomania dan Mania
Fase bipolar disorder diklasifikasikan menjadi tiga fase, yaitu depresi, hypomania dan mania. Fase depresi diawali dengan selama 2 minggu seseorang mengalami penurunan energi dalam melakukan aktivitas. Kehilangan semangat, terlalu banyak atau kurang tidur, kesulitan berkonsentrasi bahkan memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Fase mania ditandai dengan meningkatnya mood yang drastis. Sangat merasa bahagia, menjadi sangat cerewet, jam tidur yang lebih sedikit, meningkatnya rasa percaya diri sehingga merasa orang lain lebih rendah. Selain itu, melakukan kegiatan impulsif seperti melakukan kegiatan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain dan menjadi sangat boros.

Kebalikan dengan mania, fase hypomania dapat dikatakan lebih ringan, memiliki karakteristik yang mirip dengan tindankan saat fase mania, namun aktifitas yang dilakukan lebih tidak membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Namun dalam beberapa kasus terdapat penyintas yang mengalami fase campuran dimana biasanya terjadi perubahan fase suasana hati yang cepat antara depresi, mania dan hipomania.

2. Memastikan Penyintas Menjalankan Pengobatan
Penyintas akan sangat terbantu jika memiliki akses pengobatan dengan profesional. Selain dapat memiliki kehidupan yang layak dan seimbang, menjalani pengobatan dengan profesional juga dapat menjadi faktor yang mempermudah caregiver membantu peyintas untuk pulih. 

Tipe pengobatan pada setiap penyintas tentunya berbeda, karena karakteristik dari fase-fase bipolar yang dialami berbeda. Sehingga, dengan memastikan penyintas mendapatkan penanganan yang tepat, para psikiater atau dokter jiwa akan membantu para penyintas untuk menjalani terapi dan pengobatan yang tepat.

Obat yang biasa diberikan pada pasien bipolar adalah penstabil mood, anti depresan dan pada beberapa kasus pasien juga diberikan anti psikotik jika mengalami halusinasi. 

3. Mengidentifikasi Gejala Perubahan Mood
Caregiver bisa melakukan identifikasi terhadap perubahan mood pasien. Beberapa literatur yang sudah banyak dipublikasikan di internet dapat dijadikan acuan dalam menangani tindakan apa yang harus diambil saat menghadapi pasien bipolar yang sedang mengalami berbagai fase tertentu. 

Pada fase depresi, sebagai contohnya, tingkat keinginan bunuh diri penyintas akan sangat tinggi. Sehingga dengan mengidentifikasi perubahan mood tersebut, caregiver bisa melakukan antisipasi dengan tidak meninggalkan penyintas sendirian dan menjauhkannya dari barang-barang yang berpontensi berbahaya.

Sebaliknya fase mania dan hypomania yang ditandai dengan rasa optimis dan kepercayaan diri yang tinggi justru tidak kalah berbahayanya. Selain dapat menimbulkan efek negatif karena pemikiran pendek para penyintas. Caregiver bisa membantu penyintas dalam mengatur atau menghentikan  tindakan-tindakan impulsif yang biasanya penyintas lakukan pada fase ini. 

4. Merawat Diri Sendiri
Menjadi seorang caregiver dari ODB terkadang memang melelahkan. Oleh sebab itu caregiver juga perlu untuk merawat dirinya sendiri. 

Mencari dukungan dari sesama caregiver bipolar juga dapat menguatkan. Memberikan batasan dengan alasan yang rasional secara perlahan mengenai masa me time juga diperlukan loh. 

Tidak lupa, sebagai caregiver, terkadang menghadapi para penyintas bipolar memerlukan energi dan kesabaran yang besar. Turut berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental juga bisa membantu mengurangi perasaan depresi yang melanda saat mengurus para ODB.

Foto : dok. Bipolar Care Indonesia Bandung

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler