Kenal Lebih Dekat SLB B Prima Bakti Mulia

Bandung - TemanBaik tentu punya sahabat atau saudara penyandang tunarungu? Biasanya mereka akan memaksimalkan komunikasinya dengan berbagai macam metode. Tapi tahukah jika jenis komunikasi yang mereka pelajari itu berbeda-beda jenisnya sesuai dengan tingkat batasan pendengarannya masing-masing? Untuk lebih jelasnya, kami berkunjung ke SLB B Prima Bakti Mulia. Simak yuk! 

Pin Sudiraharti, selaku kepala sekolah SLB tersebut menyatakan bahwa sekolah yang Ia pimpin memang menerapkan kurikulum yang mendorong para siswanya untuk memaksimalkan potensi mereka dalam berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa isyarat.

"Kalau di sekolah kami, anak-anak itu kami ajarkan secara perlahan dengan pakai metode oral namanya", ungkap Pin kepada Beritabaik (13/01/20).

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Pin Sudiraharti, Kepala Sekolah SLB Terbaik di Jawa Barat

Menurut Pin yang dimaksud dengan metode oral adalah dengan mengajarkan siswa dari hal-hal terkecil seperti melafalkan huruf konsonan dan perlahan meningkat. Selain itu terdapat juga membaca mulut atau membaca ujaran merupakan sebuah cara yang diajarkan kepada para siswa dari gerakan mulut yang dilafalkan. Ia juga menambahkan, meskipun sekolah melakukan metode oral, bukan berarti mereka melarang murid untuk berbahasa isyarat. Karena, menurut Pin bahasa isayarat merupakan bahasa ibu atau bahasa spontan untuk anak-anak tunarungu serta bahasa spontan untukmempercepat komunikasi dengan teman-temannya di luar kelas. 

Jenis komunikasi pada difabel pendengaran terbagi kedalam tiga jenis, yang tergantung pada tingkat batasan pendengaran masing-masing. Pertama adalah oral, kemudian bahasa isyarat, dan yang terakhir adalah total komunikasi. Beberapa memilih metode oral karena pakai alar bantu dengar, untuk mengoptimalkan bicara. Ada pula yang memilih bahasa isyarat karena tingkat pendengaran (dalam hitungan desibel) yang bisa dibilang parah (lebih dari t 120 desibel) sulit bicara dengan metode oral. Mereka lebih terbantu dengan bahasa isyarat. Tentunya semua menyesuaikan dengan kebutuhan anak, tanpa memaksakan metode mana yang paling pas.

Endang Rusyani, dalam publikasi bahan ajar sistem komunikasi anak tunarungu yang di keluarkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia menyatakan, jika 'paham oralisme' memandang bahwa penyandang tunarungu juga merupakan sebuah bagian dari kelompok masyarakat. Oleh karena itu, anak tunarungu berhak untuk mendapatkan pembelajaran untuk memaksimalkan kemampuan bicaranya menggunakan bahasa oral. 

Kesukesan SLB-B Prima Bakti Mulia dalam memaksimalkan potensi anak penyandang tunarungu hingga cakap berbicara juga tidak lepas dari aturan-aturan yang berlaku. Salah satunya adalah dengan hanya menerima para siswa yang menyandang jenis disabilitas dengan tunarungu semata. 

"Jadi untuk memaksimalkan, hal ini lebih membantu kami untuk fokus mengajarkan para siswa untuk berkomunikas lisan yang baik", tutur Pin.

 Baca Ini Juga Yuk: Hebatnya Anak Disabilitas Saat Berlaga Jadi Model

Pin meyakini bahwa penyandang tunarungu yang menjadi siswanya memiliki kemampuan wicara yang baik. Hanya saja karena keterbatasan pendengaran yang dialami membuat berkomunikasi secara lisan menjadi terganggu. 

"Dari situlah kami selalu berinisiatif untuk memberikan pendidikan dengan kurikulum yang berbeda dengan SLB lain dalam mendidik anak tunarungu lancar berkomunikasi. Kalau masih kurang lancar dan perkembangan anaknya tidak sesuai dengan teman-teman sekelasnya, boleh les tambahan dengan gurunya sepulang sekolah untuk memaksimalkan," ungkapnya.

Selain itu, kuota murid dalam sekelas di SLB yang dipimpin Pin berbeda dengan kebanyakan SLB. Jika pada umumnya satu kelas terdiri dari 5-8 orang murid, di SLB-B Prima Bakti Mulia hanya terdiri dari 5 murid saja perkelas.

Puji Irawati, salah satu orang tua murid yang pernah menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut mengatakan bahwa kurikulum dan peraturan sekolah yang berlaku itu sangat berpengaruh terhadap kesuksesan pembelajaran anak tuna rungu hingga cakap berbicara.

"Jadi metode lips reading sama aturan sekolah yang berlaku itu saling menunjang. Pembelajaran jadi maksimal," ucap Pin.

Selain itu Puji menuturkan bersekolah di SLB-B Prima Bakti Mulia lebih menunjukkan hasil yang baik ketimbang mengikuti terapi wicara.

"Jadi anak tuh enggak cuman belajar bicara saja. Tapi kalo sekolah kan jadi enggak merasa minder karena ternyata ada banyak temannya yang kondisinya sama seperti dia. Jadi bisa belajar bersosialisasi juga. Sekarang anak saya sudah mau masuk SMP dan sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Akhirnya saya pindahkan ke sekolah umum dan dia ternyata mampu," pungkasnya.

Foto: Youris Marcelina/beritabaik.id

*) Artikel ini merupakan pembaharuan dari artikel yang berjudul 'Keren! SLB Ini Punya Kurikulum Sendiri Tanpa Bahasa Isyarat'


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler