Ini Bedanya Vihara dan Kelenteng yang Perlu Kamu Tahu

Bandung - TemanBaik, menjelang Imlek ini menarik untuk membahas berbagai hal yang berkaitan dengannya. Salah satu yang menarik dibahas adalah vihara dan kelenteng. Tahu enggak jika keduanya berbeda? Simak ulasannya yuk!

Orang awam memang banyak yang menganggap vihara dan kelenteng sama saja, yaitu sama-sama tempat atau rumah ibadah. Padahal, vihara adalah tempat ibadah bagi umat Buddha. Sedangkan kelenteng adalah tempat ibadah bagi penganut tiga agama (Tridharma), yaitu Konghuchu, Taoisme, dan Buddha.

Baca Ini Juga Yuk: Bandung Zoo Garden Beri Sajian Berbeda Akhir Pekan Ini

Jadi, umat Buddha bisa pergi beribadah di vihara atau kelenteng. Sedangkan penganut Konghuchu dan Taoisme akan beribadah di kelenteng saja, bukan di vihara. Apa perbedaan lainnya?

"Kalau kelenteng itu diurusnya sama sefu, laki-laki. Kalau vihara diurusnya sama perempuan," kata Awa Kwan, relawan sekaligus umat di Vihara Dharma Ramsi Bandung.

Perbedaan lainnya, di dalam vihara dan kelenteng adalah adanya rupang atau sering disebut patung para dewa. Di kelenteng, biasanya akan ada dua rupang yang disebut sebagai tuan rumah.

Di setiap kelenteng tuan rumahnya berbeda. Di Vihara Dharma Ramsi misalnya, tuan rumahnya adalah rupang Jenderal Kwan Kong. Rupang ini berukuran paling besar dibanding rupang lain dan ditempatkan di bagian utama.

Rupang Jenderal Kwan Kong ini biasanya selalu diikutsertakan jika ada kirab perayaan Cap Go Meh. Namun, ada juga rupang lain yang ukurannya lebih kecil dari Rupang Jenderal Kwan Kong. Rupang ini di tempatkan di altar dekat pintu masuk.

Mungkin TemanBaik bertanya, kenapa di Vihara Dharma Ramsi ada rupang yang berstatus sebagai tuan rumah? Itu karena Dharma Ramsi sebetulnya adalah kelenteng. Tapi, tempat ini sudah kadung dikenal sebagai Vihara Dharma Ramsi daripada Kelenteng Dharma Ramsi.

Itu karena di era Orde Baru tak boleh ada kelenteng. Sehingga, Dharma Ramsi menjadi vihara. "Di sini dulu namanya vihara, tapi sekarang sebenarnya sudah balik jadi namanya jadi kelenteng," jelas Awa Kwan. Ia juga menambahkan, jika di Bandung hanya terdapat dua buah kelenteng. "Kalau di Bandung cuma ada dua buah. Pertama adalah Kelenteng Samudra Bhakti, lalu, kelenteng Dharma Ramsi sendiri yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai vihara,"

Sedangkan di vihara pada umumnya, yang ada hanya rupang para dewa-dewi. Tapi, tak ada rupang yang statusnya disebut sebagai tuan rumah.

Sedangkan dari segi arsitektur, menurut Awa Kwan sebenarnya tak ada perbedaan mencolok antara vihara dan kelenteng. Tapi, secara umum biasanya ada perpaduan antara gaya arsitektur khas China dan lokal. Sedangkan kelenteng biasanya berarsitektur khas China.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler