Kenali Dampak Perubahan Iklim di Indonesia, Yuk!

Bandung - TemanBaik, isu perubahan iklim secara global mulai meningkatkan kesadaran masyarakat dunia yang saat ini semakin peduli dengan kondisi alam yang berubah. Tidak terkecuali di Indonesia, dampak perubahan iklim juga mempengaruhi berbagai aspek cuaca yang dianggap abnormal.

Tony Agus Wijaya, selaku Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung menyatakan bahwa perubahan iklim di wilayah Indonesia banyak membawa dampak pada perubahan intensitas hujan dan perubahan anomali cuaca.

"Peningkatan suhu juga mulai terasa di Indonesia sama seperti negara lain. Konsentrasi CO2 memang secara global meningkat," ungkapnya pada Beritabaik (22/01/20).

Baca Ini Juga Yuk: Lestarikan Benda Bersejarah, Bogor Siap Bangun Museum Pajajaran

Tony juga menyampaikan bahwa perubahan iklim juga membawa dampak timbulnya bencana hidrometorologi. Bencana hidrometorologi adalah bencana alam yang terjadi akibat dari fenomena meteorologi. Jenis bencana seperti ini contohnya adalah banjir, kekeringan, puting beliung dan kebakaran hutan.

Berdasarkan data BMKG yang disampaikan Tony, tahun 2020-2030 mendatang perubahan anomali cuaca di Indonesia terbilang ekstrim. Suhu udara diproyeksian meningkat 0,5 derajat celcius pada 10 tahun mendatang. Serta curah hujan pada musim kemarau diproyeksikan semakin berkurang hingga 20%.

"Musim kemarau dimasa mendatang akan terasa lebih panas dan kering," ungkapnya.

Sebaliknya, pada musim hujan curah hujan tidak mengalami banyak perubahan, akan tetapi curah hujan yang tinggi dan potensi hari dengan hujan lebat akan meningkat. "Nah kalau di musim hujan sebaliknya malah bisa berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi meningkat seperti banjir, longsor, angin kencang," tambahnya.

Ketidakseimbangan iklim berpotensi membuat Indonesia mengalami krisis air. Berdasarkan pengamatan dalam proyeksi danau dan waduk pada periode tahun 2015-2039 mendatang. Beberapa waduk yang tersebar di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang terparah akan mengalami krisis dengan persentase lebih dari -25% dan beberapa diantaranya hanya terdampak krisis air di angka 5-25%.

Menurut Tony, bencana hidrometeorologis akan semakin intensif dan frekuensif karena dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Kondisi tersebut juga dapat mengancam ketahan sumber daya air.

"Dengan mengurangi penggunaan kendaraan bahan bakar fosil yang mengeluarkan CO2 dan melakukan penghijauan kita bisa meminimalisir dampak-dampak terburuk dari pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrim," himbaunya.

Foto: Ilustrasi Unsplash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler